News  

Kemarau 2026 Mulai Mengeringkan Gunungkidul, BPBD Belum Tetapkan Siaga Darurat

Ilustrasi | BPBD Gunungkidul mulai menyiapkan mitigasi kekeringan di tengah ancaman El Nino 2026. (bernasnews)

bernasnews – Musim kemarau mulai terasa di Kabupaten Gunungkidul sejak akhir April 2026. Cuaca panas mendominasi wilayah selatan DIY, embung mulai menyusut, dan lahan tadah hujan perlahan mengering.

Meski begitu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul belum menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga pertengahan Mei ini.

Di sejumlah kawasan perbukitan karst, rumput terlihat mulai menguning lebih cepat dibanding awal tahun lalu. Warga di beberapa titik rawan kekeringan juga mulai menghemat penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Gunungkidul, Purwono, mengatakan kondisi saat ini masih berada pada fase awal musim kemarau sehingga status kebencanaan belum dinaikkan.

“Statusnya masih normal karena belum ada peningkatan jadi siaga darurat kekeringan,” kata Purwono.

BPBD Pantau Dampak Kemarau dan El Nino

BPBD Gunungkidul saat ini terus memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dan Pemerintah Daerah DIY.

Pemerintah daerah menilai dampak kemarau hingga Mei 2026 belum terlalu meluas. Persediaan air di sebagian besar wilayah masih dinilai mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Namun ancaman kekeringan tetap menjadi perhatian serius.

Fenomena El Nino diperkirakan berlangsung hingga awal November 2026 dan berpotensi memperpanjang musim kemarau di wilayah DIY, termasuk Gunungkidul.

Kondisi itu bisa menyebabkan curah hujan turun lebih rendah dibanding tahun normal. Di lapangan, tanda-tanda awal kemarau mulai terlihat jelas.

Beberapa embung kecil di wilayah selatan mulai menyusut. Pada siang hari, suhu terasa lebih panas dengan langit cerah hampir tanpa awan.

Warga yang biasa mengandalkan tampungan air hujan mulai mengecek cadangan air lebih sering dibanding bulan sebelumnya.

Status Darurat Masih Menunggu Arahan DIY

Purwono menjelaskan penetapan status siaga darurat kekeringan di Gunungkidul mengikuti kebijakan Pemerintah DIY.

Pola tersebut sama seperti penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi saat musim hujan.

“Sama seperti saat penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di musim hujan, maka disesuaikan dengan arahan dari provinsi,” ujarnya.

Kajian peningkatan status darurat diperkirakan mulai dilakukan pada Juni 2026 sambil melihat perkembangan cuaca dan kondisi sumber air di lapangan.

Menurut BPBD, status siaga darurat bukan hanya berkaitan dengan penanganan bencana, tetapi juga mempermudah akses anggaran penanganan melalui skema Belanja Tak Terduga (BTT).

BPBD Siapkan 1.500 Tangki Air Bersih

Meski status masih normal, BPBD Gunungkidul mulai menyiapkan langkah mitigasi lebih awal.

Sebanyak 1.500 tangki air bersih telah disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kekeringan dalam beberapa bulan mendatang.

Tangki tersebut nantinya diprioritaskan untuk wilayah rawan kekeringan yang setiap tahun bergantung pada distribusi bantuan air bersih saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Namun ada perubahan mekanisme distribusi bantuan pada tahun ini.

BPBD tidak lagi langsung menjadi penyalur utama bantuan air seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan baru diterapkan setelah adanya hasil audit dan catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan pada 2024.

Berdasarkan rekomendasi tersebut, distribusi bantuan air bersih akan lebih dulu menggunakan anggaran kapanewon sebelum memakai alokasi bantuan BPBD.

“Selain anggaran penyaluran dari BPBD, juga ada bantuan milik kapanewon. Biar tidak tumpang tindih, maka yang dipakai diprioritaskan milik kapanewon terlebih dahulu,” kata Purwono.

Warga Mulai Bersiap Hadapi Puncak Kemarau

Pengalaman musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya membuat sebagian warga mulai melakukan penghematan air lebih awal.

Di beberapa desa rawan kekeringan, warga mulai mengurangi penggunaan air untuk aktivitas non-prioritas sambil memantau kondisi sumur dan tampungan air rumah tangga.

Ancaman kekeringan di Gunungkidul memang menjadi persoalan tahunan, terutama di kawasan karst yang sulit mendapatkan akses air permukaan.

Jika El Nino bertahan hingga akhir tahun, kebutuhan distribusi air bersih diperkirakan meningkat tajam ketika memasuki puncak kemarau pada Agustus hingga Oktober.

BPBD Gunungkidul menyebut situasi masih terkendali. Namun pemantauan terus dilakukan karena tanda-tanda kemarau panjang mulai terlihat di sejumlah wilayah. (Eln)