bernasnews – Mencium Hajar Aswad menjadi salah satu amalan sunah yang dianjurkan saat melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah di Tanah Suci. Amalan ini dilakukan oleh jemaah haji maupun umrah ketika berada di titik awal putaran tawaf, tepat di sudut tenggara Ka’bah tempat Hajar Aswad berada.
Dalam praktiknya, tidak semua jemaah dapat mencium batu tersebut secara langsung karena kondisi area yang sangat padat. Karena itu, Islam memberikan kemudahan dengan cukup mengusap atau memberi isyarat ke arah Hajar Aswad sambil bertakbir.
Hajar Aswad sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Batu mulia ini dipercaya berasal dari surga dan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah tawaf sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Umat Islam memuliakan Hajar Aswad bukan untuk disembah, melainkan sebagai bentuk mengikuti sunah Rasulullah SAW.
Pengertian Hajar Aswad dan Letaknya di Ka’bah
Hajar Aswad merupakan batu yang berada di salah satu sudut Ka’bah, tepatnya di pojok tenggara bangunan suci tersebut. Batu ini menjadi penanda dimulainya tawaf sekaligus titik akhir setiap putaran.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia. Meski memiliki kemuliaan tersendiri, umat Islam tidak meyakini batu tersebut dapat memberi manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya.
Penghormatan terhadap Hajar Aswad dilakukan semata-mata karena mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Doa Saat Mencium Hajar Aswad Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Ketika berhasil mendekati Hajar Aswad, umat Islam dianjurkan membaca doa berikut:
بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Latin:
Bismillahi wallahu akbar. Allahumma imanan bika wa tashdiqan bikitabika wa wafa’an bi ahdika wattiba’an lisunnati nabiyyika Muhammadin shallallahu alaihi wasallam
Artinya:
“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, aku melakukannya karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji kepada-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW.”
Doa tersebut dibaca ketika jemaah mencium, menyentuh, atau mengusap Hajar Aswad saat memulai tawaf.
Bacaan Zikir Saat Berada di Hadapan Hajar Aswad
Selain doa utama, terdapat pula bacaan zikir singkat yang umum diamalkan saat berada di dekat Hajar Aswad, yaitu:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Latin:
Bismillahi wallahu akbar
Artinya:
“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.”
Bacaan ini biasanya diucapkan ketika jemaah memberikan isyarat ke arah Hajar Aswad apabila tidak memungkinkan untuk mendekat.
Tata Cara Mencium Hajar Aswad Saat Tawaf
Dalam pelaksanaan tawaf, terdapat beberapa cara yang dianjurkan ketika berada di dekat Hajar Aswad. Semua dilakukan sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing jemaah.
Mencium Hajar Aswad Secara Langsung
Apabila situasi memungkinkan dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain, jemaah diperbolehkan mencium Hajar Aswad secara langsung. Cara ini merupakan sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Menyentuh Hajar Aswad dan Mencium Tangan
Jika tidak memungkinkan mencium langsung, jemaah dapat menyentuh Hajar Aswad menggunakan tangan, lalu mencium tangan tersebut sebagai bentuk penghormatan.
Memberi Isyarat dari Kejauhan
Ketika area di sekitar Hajar Aswad sangat padat, jemaah cukup mengangkat tangan ke arah batu tersebut sambil membaca takbir atau zikir singkat. Cara ini menjadi pilihan yang paling banyak dilakukan demi menjaga keselamatan dan ketertiban ibadah.
Islam mengajarkan bahwa ibadah hendaknya dilakukan dengan tenang tanpa menyakiti sesama jemaah hanya demi mengejar amalan sunah.
Keutamaan Hajar Aswad dalam Islam
Hajar Aswad memiliki nilai sejarah dan spiritual yang besar dalam Islam. Batu tersebut menjadi bagian penting dari ibadah tawaf yang dilakukan umat Muslim dari seluruh dunia saat haji dan umrah.
Keberadaan Hajar Aswad juga berkaitan erat dengan sejarah pembangunan Ka’bah pada masa Nabi Ibrahim AS. Karena itulah, batu ini dimuliakan dan menjadi salah satu simbol penting dalam pelaksanaan ibadah di Masjidil Haram.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa penghormatan terhadap Hajar Aswad tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk penyembahan. Umat Islam memuliakannya semata-mata sebagai bentuk ketaatan dan mengikuti sunah Rasulullah SAW. (anp)











