bernasnews – Puasa Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah menjadi salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan karena keutamaannya yang besar, termasuk menghapus dosa dua tahun.
Namun, muncul pertanyaan di kalangan umat muslim apakah boleh menjalankan puasa Arafah jika masih memiliki utang puasa Ramadan?
Para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait hal ini, meskipun mayoritas membolehkan dengan catatan tertentu.
Pengertian Puasa Arafah dan Dasar Anjurannya
Puasa Arafah adalah puasa sunah yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Idul Adha, tepatnya pada 9 Dzulhijjah. Ibadah ini dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Anjuran tersebut didasarkan pada hadis berikut:
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkuk susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Arafah memiliki kedudukan penting, khususnya bagi umat Islam yang tidak berhaji.
Perbedaan Pendapat Ulama soal Puasa Arafah dan Utang Ramadan
Para ulama dari berbagai mazhab memiliki pandangan berbeda mengenai hukum mendahulukan puasa sunah dibandingkan qada puasa Ramadan.
Mazhab Hanafiyah: Puasa Sunah Tetap Sah
Ulama dari mazhab Hanafiyah berpendapat bahwa puasa Arafah tetap boleh dilakukan meskipun seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan.
Hal ini karena waktu untuk mengganti puasa Ramadan masih panjang hingga datangnya Ramadan berikutnya. Dengan demikian, puasa Arafah tetap sah selama kewajiban qada belum melewati batas waktu.
Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah: Boleh, tapi Tidak Utama
Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah juga membolehkan pelaksanaan puasa Arafah meski masih memiliki utang puasa Ramadan.
Namun, mereka menegaskan bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qada puasa Ramadan. Hal ini karena qada puasa merupakan kewajiban, sedangkan puasa Arafah bersifat sunah.
Dalam kaidah fikih, ibadah wajib harus lebih diutamakan dibandingkan ibadah sunah.
Mazhab Hanabilah: Tidak Sah Jika Dahulukan Puasa Sunah
Berbeda dengan pendapat sebelumnya, ulama Hanabilah menilai bahwa tidak diperbolehkan mendahulukan puasa sunah sebelum melunasi utang puasa Ramadan.
Mereka berpendapat bahwa puasa sunah tidak sah jika masih ada kewajiban yang belum ditunaikan.
Dalil yang digunakan adalah:
“Barangsiapa yang melakukan puasa sunah, tetapi masih memiliki utang puasa Ramadan, maka puasa sunah tersebut tidak akan diterima sampai ia menunaikan yang wajib.”
Namun, hadis tersebut dinilai dhaif atau lemah oleh Syekh Al Albani dan Syekh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad.
Mayoritas Ulama: Boleh dengan Syarat Tidak Menunda Kewajiban
Dari berbagai pandangan tersebut, mayoritas ulama bersepakat bahwa puasa Arafah tetap boleh dilakukan meskipun masih memiliki utang puasa Ramadan.
Namun, kebolehan ini disertai syarat penting, yaitu masih adanya waktu untuk mengganti puasa dan tidak ada niat untuk menunda-nunda kewajiban tersebut.
Dengan demikian, umat muslim tetap dianjurkan segera melunasi utang puasa Ramadan agar tidak terbebani di kemudian hari.
Bacaan Niat Puasa Arafah Lengkap dengan Artinya
Bagi yang ingin menjalankan puasa Arafah, berikut bacaan niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah ta’ala.”
Keutamaan Puasa Arafah yang Perlu Diketahui
Puasa Arafah memiliki sejumlah keutamaan besar yang menjadikannya sangat dianjurkan.
Menghapus Dosa Dua Tahun
Salah satu keutamaan utama puasa Arafah adalah menghapus dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.
“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Puasa Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Amalan Utama di 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Puasa Arafah termasuk dalam amalan terbaik pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah). Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun (mati syahid).” (HR Bukhari, Ahmad, dan at-Tirmidzi)
Amalan yang Konsisten Dilakukan Rasulullah
Puasa Arafah juga termasuk amalan yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW.
“Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW, yakni puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan An-Nasai)
Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Puasa Arafah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam hadis qudsi:
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, “Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”” (HR Bukhari dan Muslim)
Puasa Arafah tetap boleh dilakukan meskipun seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan, menurut mayoritas ulama. Namun, yang lebih utama adalah segera melunasi kewajiban qada puasa Ramadan.
Dengan memahami perbedaan pendapat ini, umat muslim dapat mengambil sikap bijak sesuai kondisi masing-masing, tanpa mengabaikan kewajiban utama dalam ibadah. (anp)











