Pasar Motor Listrik Jogja Meledak, Penjualan Tembus Ribuan Unit dan Mahasiswa jadi Target Utama

Ilustrasi Motor Listrik Jogja/Foto: Magnific

bernasnews– Pasar motor listrik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menunjukkan geliat yang semakin kuat. Dalam satu tahun terakhir, minat masyarakat terhadap kendaraan listrik meningkat tajam.

Di tengah perubahan tren tersebut, Yogyakarta kini menjelma menjadi salah satu wilayah paling potensial bagi pertumbuhan industri motor listrik nasional.

Indomobil eMotor menjadi salah satu pemain yang merasakan langsung lonjakan pasar tersebut. Perusahaan itu mencatat penjualan nasional hampir menyentuh 20.000 unit sejak resmi meluncurkan produk motor listriknya sekitar satu tahun lalu.

Ledakan pasar di Jogja bahkan melampaui sejumlah daerah lain di Indonesia. Tingginya jumlah penduduk, dominasi pelajar dan mahasiswa, hingga gaya hidup masyarakat yang semakin terbuka terhadap teknologi baru menjadi faktor pendorong utama.

Tren Penjualan Motor Listrik Jogja

CEO Indomobil eMotor, Pius Wirawan, mengungkapkan bahwa tren penjualan motor listrik di Jogja terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut satu showroom di Jogja mampu mencatat penjualan hampir 200 unit hanya dalam waktu satu bulan.

“Jogja ini market-nya besar banget. Bulan lalu saja satu showroom hampir 200 unit. Karena itu kami sedang mengembangkan jaringan di Jogja sekaligus memperbanyak aktivitas pameran dan kolaborasi dengan komunitas maupun organisasi pemuda,” kata Pius, Kamis (14/5/2026).

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan perilaku masyarakat dalam memilih kendaraan harian. Jika sebelumnya motor berbahan bakar minyak masih mendominasi, kini kendaraan listrik mulai menjadi pilihan baru, terutama bagi generasi muda.

Pius menilai karakteristik Yogyakarta sebagai kota pelajar menjadi alasan kuat mengapa motor listrik semakin cepat diterima pasar. Mahasiswa dan pelajar cenderung mencari kendaraan yang hemat biaya namun tetap mendukung mobilitas sehari-hari.

Motor listrik mampu menjawab kebutuhan tersebut. Pengguna tidak lagi terbebani pengeluaran bahan bakar yang terus naik, sementara biaya pengisian daya listrik jauh lebih murah.

Di sisi lain, optimisme terhadap pasar motor listrik DIY juga datang dari kalangan dealer otomotif. Presiden Direktur Sumber Baru Group, Hendra Kurniawan, menyebut pasar kendaraan roda dua di wilayah Jogja sebenarnya sudah sangat besar sejak lama.

Menurut dia, penjualan sepeda motor di wilayah DIY rata-rata mencapai 6.000 hingga 7.000 unit setiap bulan. Dari angka tersebut, kendaraan listrik diproyeksikan mampu mengambil pangsa pasar sekitar 10 persen.

“Kalau bisa ambil 10 persen saja sudah sekitar 600 unit lebih per bulan. Itu target kami,” ujar Hendra.

Target tersebut bukan tanpa alasan. Hendra melihat tren masyarakat mulai berubah, terutama setelah semakin banyak warga menghitung efisiensi penggunaan kendaraan listrik dibanding motor konvensional.

Ia menjelaskan biaya operasional motor listrik jauh lebih murah. Jika pengguna motor konvensional harus mengeluarkan sekitar Rp500.000 per bulan untuk membeli bahan bakar, pengguna motor listrik hanya membutuhkan sekitar Rp100.000 untuk biaya pengisian daya.

Perbedaan biaya tersebut menjadi daya tarik besar, terutama bagi mahasiswa, pekerja muda, hingga masyarakat urban yang mengandalkan kendaraan setiap hari.

Selain lebih hemat bahan bakar, biaya perawatan motor listrik juga lebih ringan. Hendra mengklaim biaya servis kendaraan listrik bisa lebih hemat hingga 70 persen daripada motor konvensional.

Hal itu terjadi karena motor listrik memiliki komponen mesin yang lebih sederhana dan minim perawatan rutin seperti penggantian oli mesin maupun perawatan sistem pembakaran.

Tantangan Motor Listrik

Namun, di balik pertumbuhan pasar yang pesat, tantangan pengembangan infrastruktur masih menjadi perhatian utama pelaku industri.

Hendra menilai keberadaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam beralih ke kendaraan listrik.

Keberadaan SPKLU yang semakin mudah dapat mempercepat adopsi motor listrik di masyarakat. Konsumen akan merasa lebih aman dan nyaman ketika fasilitas pengisian daya tersedia di berbagai titik strategis.

Saat ini, wilayah Sleman masih menjadi pasar kendaraan terbesar di DIY. Tingginya jumlah penduduk, padatnya aktivitas ekonomi, serta dominasi kawasan pendidikan membuat permintaan kendaraan di wilayah tersebut terus meningkat setiap tahun.

Segmen pelajar dan mahasiswa pun disebut menjadi target pasar paling potensial bagi kendaraan listrik di Jogja. Selain karena kebutuhan mobilitas tinggi, harga motor listrik yang relatif terjangkau turut memperbesar peluang pasar.

Saat ini, harga motor listrik di pasar Jogja berada di kisaran Rp15 juta hingga Rp19 juta per unit. Harga tersebut cukup kompetitif bagi konsumen muda yang ingin mendapatkan kendaraan hemat biaya jangka panjang.

Perubahan tren kendaraan di Yogyakarta kini tidak lagi sekadar soal gaya hidup. Motor listrik mulai dipandang sebagai solusi ekonomi sekaligus bagian dari transisi menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan. (ef linangkung)