News  

Berdamai dengan Diri Sendiri

Tiga buku karya Hieronymus Budi Santoso untuk mengajak siapa pun yang berani berdamai dengan diri sendiri. (Foto : Anto Margono)

bernasnews – Tidak apa-apa jika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Tidak apa-apa jika kita belum menjadi seperti yang diharapkan. Ketidaksempurnaan bukan tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa kita sedang bertumbuh sebagai manusia. Di sisi lain, kita diajak untuk berdamai dengan diri sendiri sebagai sebuah perjalanan pulang kepada diri sendiri.

Demikian disampaikan oleh penulis Hieronymus Budi Santoso atas benang merah tiga bukunya bertajuk “Saat Teduh di Tengah Kebisingan” (2025), “Mengejar Kesempurnaan Menerima Ketidaksempurnaan” (2026) dan “Siapa Terluka Siapa Menyembuhkan” (2025), semuanya terbitan Penerbit Pohon Cahaya Yogyakarta.

Menurut dia, paling tidak ada empat hal mendasar atas pilihan (hidup) untuk berdamai dengan diri sendiri. Pertama, berdamai dengan diri sendiri bukanlah proses instans. Ia bukan keputusan satu malam, melainkan langkah kecil yang diulang setiap hari. Hal itu dimulai dengan berani bertanya : Apa yang sebenarnya sedang kurasakan? Mengapa aku begitu keras kepada diriku sendiri?

Kedua, berdamai berarti melihat masa lalu tanpa lagi dipemuhi kemarahan atas penyesalan. Ketiga, berdamai dengan diri sendiri juga berarti memberi ruang bagi keheningan. Keempat, berani berdamai dengan diri sendiri bukan akhir perjalanan, tapi awal kehidupan yang lebih utuh.

Pada akhirnya, setiap manusia sedang mencari tempat pulang. Tempat itu sesungguhnya ada di dalam diri saat kita menerima, mengasihi dan berkata dengan tulus : aku memilih berdamai dengan diriku sendiri.

KEHENINGAN ITU BARANG MEWAH
Dalam kehidupan yang serba cepat saat ini, bagi kebanyakan orang, keheningan telah menjadi barang mewah. Manusia terjebak dalam noise yang konstan : deru lalu lintas, banjir informasi di media sosial, tenggat waktu yang tidak ada habisnya dan daftar tugas yang terus memanjang. Kita merayakan kesibukan sebagai tanda kesuksesan, padahal jauh di lubuk hati, kita tahu ada sesuatu yang hilang. Kita merasa hadir secatra digital tetapi absen dari kehidupan kita sendiri.

Tentang kesempurnaan, sejak kecil kita diajarkan untuk menjadi yang terbaik. Melakukan segalanya tanpa cela, dan menghindari kesalahan. Tanpa disadari, kita tumhuh dengen kayakinan bahwa nilai diri ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan kesempurnaan. Namun semakin dikejar, kesempurnaan justru terasa semakin jauh.

Kita juga diajak untuk melihat dunia di sekitar kita, berapa banyak hubungan yang hancur, berapa banyak amarah yang meledak di media sosial, berapa banyak kecemasaan yang tertumpuk, semua karena satu luka yang belum selesai?

Budi Santosa mengajak pembaca untuk merenungkan hal-hal itu dalam tiga bukunya yang mungil namun menyentuh hati secara mendalam. Di buku Mengejar Kesempurnaan, diberikan prolog oleh Dr Fritz Meko, SVD yang mencerahkan. (mar)