bernasnews – Virus Andes (Andes virus/ANDV) tengah menjadi perhatian global setelah dikaitkan dengan kasus wabah di kapal pesiar MV Hondius yang menewaskan tiga orang.
Virus ini merupakan bagian dari kelompok hantavirus, namun memiliki karakteristik berbeda karena dapat menular antarmanusia melalui kontak erat.
Meski demikian, hingga kini virus Andes belum ditemukan di Indonesia, sementara jenis hantavirus lain seperti Seoul virus (SEOV) sudah lama beredar di berbagai wilayah, termasuk Asia.
Hantavirus Bukan Satu Virus, Melainkan Kelompok Virus
Hantavirus bukan nama satu virus tunggal, melainkan kumpulan virus dari famili Hantaviridae yang terdiri dari puluhan jenis. Setiap jenis memiliki pola penularan dan dampak penyakit yang berbeda.
Hal ini ditegaskan oleh Dominicus Husada, yang menjelaskan bahwa hantavirus berkaitan erat dengan hewan pengerat, terutama tikus.
“Virus hanta ini grupnya. Jadi isinya ada beberapa virus di dalamnya, dan hampir semuanya berkaitan dengan tikus,” jelas Prof Dr dr Dominicus Husada, pakar infeksi penyakit tropik di Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam konferensi pers baru-baru ini.
Ia menyebutkan bahwa Andes virus merupakan satu dari sekitar 40 jenis hantavirus yang telah dikenali secara ilmiah.
Andes Virus Satu-satunya yang Bisa Menular Antarmanusia
Keunikan Andes virus terletak pada kemampuannya menyebar dari manusia ke manusia, sesuatu yang jarang terjadi pada hantavirus lainnya.
“Virus Andes ini adalah satu-satunya anggota hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak erat,” ujarnya.
Penularan ini tidak berlangsung secepat penyakit menular seperti COVID-19 atau campak. Risiko tertinggi terjadi pada individu yang memiliki kontak intens dalam waktu lama, seperti pasangan serumah atau orang yang sering berinteraksi dekat dalam satu ruangan.
Sebaliknya, sebagian besar hantavirus lainnya, termasuk Seoul virus, hanya menular dari hewan pengerat ke manusia melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup.
Kasus di Kapal Pesiar MV Hondius Jadi Sorotan
Nama Andes virus mencuat setelah kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Kapal tersebut berlayar dari Ushuaia, Argentina menuju Tenerife, Spanyol. Sejumlah penumpang dan kru yang melakukan kontak erat dengan pasien positif dilaporkan ikut terinfeksi, termasuk tenaga medis.
Beberapa kasus juga terdeteksi setelah penumpang turun di Afrika Selatan dan menjalani pemeriksaan lanjutan. Penumpang yang kembali ke negara asalnya pun tetap menjalani masa isolasi, meskipun tidak menunjukkan gejala.
Sebagai contoh, penumpang dari Inggris menjalani isolasi hingga 45 hari, sementara warga Singapura diisolasi sekitar satu bulan sebagai langkah pencegahan.
Perbedaan Dampak Penyakit: Paru vs Ginjal
Meski berada dalam satu kelompok, dampak penyakit yang ditimbulkan hantavirus berbeda tergantung jenisnya.
Andes virus umumnya menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome, yaitu infeksi berat yang menyerang paru-paru dan dapat memicu gagal pernapasan. Kondisi ini memiliki tingkat kematian tinggi, bahkan bisa mencapai sekitar 50 persen.
“Yang di Amerika sering menyebabkan HCPS,” ujarnya.
Sementara itu, hantavirus yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa, seperti Seoul virus, lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini ditandai dengan gangguan ginjal dan perdarahan, namun umumnya memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah dibanding HPS.
Pada tahap awal, gejala infeksi hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan tubuh lemas. Hal ini membuat diagnosis awal menjadi cukup sulit tanpa pemeriksaan lanjutan.
Belum Ditemukan di Indonesia, Risiko Tetap Perlu Diwaspadai
Menurut Prof Dominicus, Andes virus hingga saat ini belum pernah terdeteksi di Indonesia. Kasus hantavirus di dalam negeri masih berkaitan dengan penularan dari hewan pengerat.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel yang terkontaminasi dari kotoran, urine, atau air liur tikus.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan hewan pengerat menjadi langkah pencegahan utama.
Di tengah kekhawatiran akan potensi wabah baru, Andes virus dinilai memiliki peluang kecil untuk berkembang menjadi pandemi global.
Hal ini karena pola penularannya membutuhkan kontak erat dalam durasi yang cukup lama, sehingga tidak mudah menyebar secara luas seperti virus pernapasan lainnya.
Tingkat penularannya juga disebut jauh lebih rendah dibanding penyakit yang sangat menular seperti campak.
Dengan karakteristik tersebut, Andes virus tetap perlu diwaspadai, namun tidak menimbulkan ancaman pandemi besar dalam waktu dekat. (anp)











