News  

Keracunan Massal di Sleman Bertambah, 69 Warga Bergejala usai Santap Nasi Kotak Acara Pamitan Haji

Ilustrasi | Keracunan makanan. (bernasnews)

bernasnews– Peristiwa keracunan massal dalam acara pamitan haji di Getas Toragan, Tlogoadi, Mlati, Sleman terus berkembang dan memicu kekhawatiran warga.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat jumlah korban yang mengalami gejala keracunan meningkat signifikan setelah tim melakukan pendataan dan investigasi lapangan secara menyeluruh.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melakukan wawancara terhadap 92 orang yang menghadiri acara tersebut. Hasilnya, sebanyak 69 orang mengalami berbagai gejala yang mengarah pada keracunan makanan.

Korban Keracunan Massal di Sleman

Mayoritas korban mengeluhkan diare sebagai gejala utama dengan persentase mencapai 80 persen. Selain itu, 72 persen korban mengalami pusing, sementara demam dan sakit perut masing-masing dialami oleh 64 persen korban.

Gejala ini muncul secara hampir bersamaan dalam rentang waktu yang relatif singkat, sehingga memperkuat dugaan adanya paparan zat berbahaya dari makanan yang dikonsumsi bersama.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, menjelaskan bahwa dari total 69 korban bergejala, sebanyak 39 orang menjalani rawat jalan melalui posko kesehatan di lokasi terdampak.

Selain itu, sepuluh orang memilih memeriksakan diri ke RSA UGM, dengan sembilan orang menjalani rawat jalan dan satu orang rawat inap. Enam korban lain mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan berbeda, sementara sisanya memilih pengobatan mandiri di rumah.

“Tidak ada kasus kematian dalam kejadian ini,” tegas Cahya.

Tim Dinas Kesehatan langsung bergerak cepat dengan melakukan penyelidikan epidemiologi. Petugas melakukan penanganan korban, pengambilan sampel makanan, serta identifikasi wilayah terdampak guna mencegah penyebaran kasus lebih luas.

Pemerintah setempat juga membuka pos pengobatan di rumah Dukuh Toragan untuk memudahkan warga yang merasakan gejala agar segera mendapatkan penanganan medis.

Dari hasil investigasi awal, menu nasi kotak berupa sambal goreng krecek dengan rempela ati diduga kuat menjadi penyebab utama keracunan. Sementara itu, menu lain tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap munculnya gejala.

Namun demikian, kepastian penyebab masih menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Labkesmas Yogyakarta. Cahya menyebut proses analisis membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari karena harus melalui tahapan pembiakan bakteri.

“Biasanya bakteri yang muncul dalam kasus seperti ini adalah salmonela dan E. coli,” jelasnya.

Masa Inkubasi Sekitar 12 Jam, Diduga Akibat Kontaminasi Bakteri

Berdasarkan analisis waktu konsumsi makanan hingga munculnya gejala, Dinas Kesehatan memperkirakan masa inkubasi rata-rata sekitar 12 jam. Hal ini menguatkan dugaan bahwa keracunan terjadi akibat kontaminasi bakteriologis atau mikroorganisme pada makanan.

Dinas Kesehatan akan terus melakukan pemantauan intensif setidaknya selama dua kali masa inkubasi, yaitu dalam kurun satu hingga dua hari ke depan, untuk memastikan tidak ada tambahan korban baru.

Petugas juga tengah menyelidiki faktor risiko di tempat katering, termasuk proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan yang diduga tidak memenuhi standar higienis.

Sementara itu, Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, mengungkapkan bahwa tuan rumah acara memesan sebanyak 250 nasi kotak dari sebuah jasa katering ayam panggang di kawasan Jalan Wates, Yogyakarta, dengan tambahan bonus enam kotak.

Makanan tersebut kemudian didistribusikan kepada warga padukuhan, keluarga di Umbulharjo, yayasan, tetangga, hingga pemain sepak bola di Lapangan Getas.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap salah satu korban di RSA UGM menunjukkan adanya indikasi muntaber akibat infeksi bakteri.

Argo menegaskan bahwa kontaminasi makanan kemungkinan terjadi akibat proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi yang tidak higienis. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan resmi ke pihak kepolisian maupun kasus keracunan yang berujung fatal.

Tuan Rumah Juga jadi Korban, Curigai Sambal Krecek

Tuan rumah acara, Nayuku Bramantyo atau Yoko, mengungkapkan bahwa ia dan anggota keluarganya juga menjadi korban dalam peristiwa ini. Ia menyebut tiga orang di rumahnya mengalami gejala serupa, seperti diare dan demam.

Acara syukuran pamitan haji tersebut berlangsung pada Minggu (3/5/2026) pagi di sebuah Gedung Dakwah di Mlati.

Menu dalam nasi kotak meliputi nasi putih, ayam panggang kecap, telur rebus, sambal goreng krecek jeroan rempela ati, timun, dan pisang. Selain itu, tamu juga menerima camilan seperti lemper, pastel, donat, dan sus.

Yoko mengaku mulai merasakan gejala pada Minggu malam sekitar pukul 22.30 WIB, bersama sejumlah tamu lainnya. Ia juga mencurigai sambal goreng krecek sebagai penyebab utama keracunan. Menurutnya, saat disantap, makanan tersebut memiliki rasa yang tidak biasa.

“Ada yang aneh dari krecek. Rasanya agak kecut. Bau tidak terlalu tercium, tapi rasanya sudah berbeda,” ungkapnya.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap makanan yang menunjukkan perubahan rasa, bau, maupun tekstur. Makanan yang terasa asam, lembek, atau berbau anyir berpotensi mengandung bakteri berbahaya dan tidak layak konsumsi. (ef linangkung)