bernasnews – Puluhan warga di wilayah Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah menghadiri acara syukuran pamitan calon jemaah haji pada Minggu, 3 Mei 2026.
Hingga Senin, 4 Mei 2026,penanganan masih dilakukan oleh petugas kesehatan di lokasi.
Sejak Minggu malam sekitar pukul 22.30 WIB, sejumlah warga mulai merasakan gejala seperti mual, diare, pusing, dan demam.
Warga yang mengalami keluhan kemudian mendatangi posko darurat yang didirikan di Rumah Dukuh Toragan untuk mendapatkan penanganan medis.
Kronologi Kejadian
Acara syukuran berlangsung di sebuah gedung dakwah di wilayah Mlati sejak pagi hari. Tuan rumah memesan ratusan nasi box dan camilan untuk tamu undangan.
Menu yang disajikan antara lain nasi putih, ayam panggang, telur rebus, sambal goreng krecek jeroan, timun, dan pisang. Sejumlah tamu melaporkan adanya rasa tidak biasa pada salah satu menu.
Gejala kemudian muncul pada malam hari setelah konsumsi makanan tersebut.
Penanganan Medis
Petugas dari Puskesmas Mlati bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sleman melakukan penanganan di lokasi.
Data sementara mencatat puluhan warga mengalami gejala dan mendapatkan penanganan medis, baik di posko darurat, puskesmas, maupun rumah sakit.
Sebagian pasien dirujuk untuk perawatan lanjutan, sementara lainnya menjalani rawat jalan.
Hasil Pemeriksaan Awal
Hasil pemeriksaan awal dari Dinas Kesehatan menunjukkan adanya indikasi makanan yang tidak layak konsumsi.
Salah satu menu yang disorot adalah sambal goreng krecek yang ditemukan dalam kondisi tidak normal.
“Kondisi makanan, krecek mulur dan terasa kecut,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, Khadijah Yuliati.
Tindak Lanjut dan Penyelidikan
Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian, termasuk pemeriksaan sampel makanan dan penelusuran proses distribusi katering.
Sementara itu, posko darurat tetap dibuka untuk melayani warga yang masih mengalami gejala.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat dan penyedia jasa boga untuk memperhatikan standar kebersihan dan keamanan pangan, terutama dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang.
Kasus ini menjadi perhatian dalam upaya pencegahan kejadian serupa di masa mendatang. (Eln)











