News  

Kasus Keracunan Massal di Sleman Melonjak, 43 Warga Toragan Alami Gejala usai Santap Hidangan Acara Haji

Ilustrasi | Keracunan makanan. (bernasnews)

bernasnews – Jumlah warga yang mengalami gejala keracunan pangan di Pedukuhan Toragan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman terus bertambah.

Hingga Senin, 4 Mei 2025 petang, tercatat sebanyak 43 orang terdampak setelah mengonsumsi hidangan dari acara pamitan calon jemaah haji.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, menyampaikan bahwa seluruh korban saat ini menjalani rawat jalan.

“Data sementara hingga Senin pukul 16.36 WIB, jumlah korban mencapai 43 orang. Seluruhnya menjalani rawat jalan dan tidak ada yang dirawat inap,” ujarnya.

Para korban mendapatkan penanganan di berbagai fasilitas kesehatan.

Sebanyak tiga orang diperiksa di Puskesmas Mlati II, 32 orang ditangani di posko kesehatan Toragan, tujuh orang menjalani perawatan di RSA UGM, dan satu orang melakukan pengobatan mandiri.

Kronologi Kejadian

Peristiwa ini bermula dari acara syukuran pamitan calon haji yang digelar pada Minggu, 3 Mei 2025 pagi di sebuah gedung dakwah. Acara tersebut dihadiri sekitar 110 warga.

Panitia menyediakan makanan berupa camilan dan nasi kotak yang dipesan dari jasa katering.

Menu yang disajikan antara lain lemper, pastel, donat, sus, serta nasi dengan lauk ayam bakar dan sambal goreng krecek.

Setelah acara selesai, sisa makanan turut dibagikan kepada warga sekitar.

Gejala yang Dialami

Pada malam harinya, warga mulai merasakan gejala seperti sakit perut, diare, pusing, mual, hingga demam.

Kondisi ini mendorong pembukaan posko darurat untuk mempercepat penanganan medis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman langsung melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian.

Tim mengambil sejumlah sampel makanan serta sampel biologis dari korban.

“Sampel yang kami kirim meliputi ayam bakar, sambal goreng krecek plus jeroan, serta feses dari salah satu korban,” jelas Yuliati.

Sampel tersebut kini sedang diuji di laboratorium kesehatan masyarakat di Yogyakarta untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi.

Imbauan kepada Masyarakat

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Selain itu, penyelenggara kegiatan dan penyedia jasa boga diingatkan untuk memastikan kebersihan dan keamanan makanan, terutama dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang. (Eln)