bernasnews – WARCIL atau Wartawan Cilik adalah program tahunan yang mendampingi siswa kelas 6 di Sekolah Dasar Marsudirini Yogyakarta dalam melakukan wawancara terhadap tokoh publik, mulai dari kepala dinas hingga kepala daerah atau wali kota. Semua dirangkum dalam buku tahunan yang bukan hanya dokumentasi, tapi juga menjadi mozaik impian dan semangat zaman.
“Setelah melaksanakan tiga kali program Wawancara Warcil, pada bulan Mei 2026 kami akan melanjutkan ke seri empat. Kali ini kami akan meliput heritage yang ada di Yogyakarta, seperti Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Istana Kepresidenan Yogyakarta, dan sebagainya,” kata Kepala SD Marsudirini Yogyakarta F.X. Oktaf Laudensius, S.Si., M.M. kepada bernasnews di ruang kepala sekolah setempat, Rabu (29/4/2026).
Menurut Oktaf, buku Warcil seri pertama berjudul “Wawancara Warcil”. Buku seri kedua berjudul “Wawancara Wartawan Cilik Berani Bereksplorasi dan Berkolaborasi”. Kemudian buku seri ketiga berjudul “Wawancara Warcil : Gantungkan Cita-Cita Setinggi Langit”.
“Itu merupakan ungkapan penuh makna yang mengajak anak-anak berani bermimpi besar. Tapi, di tengah dunia digital yang serba cepat, kalimat motivasi ini terasa diuji. Cita-cita anak kini meluas dan dinamis : menjadi YouTuber, gamer, aktris, model, bahkan memiliki café sendiri—semua sah dan pantas. Di sinilah Warcil berperan, bukan untuk membatasi mimpi, tetapi menghidupkan keberanian mengejar mimpi itu dengan kesiapan dan nilai-nilai,” kata dia.
Setiap proses wawancara dalam Warcil, lanjut Oktaf, adalah latihan keberanian : berani bertanya, berani menyimak, berani mencatat dengan tangan sendiri, berani bekerja sama, dan berani mengambil keputusan.
Seperti pendakian ke langit yang tinggi, langkah anak-anak tidak selalu mulus. Terkadang mereka lelah, ragu, atau kecewa. Tapi seperti kata pepatah, jika mimpi belum tercapai, setidaknya kita jatuh di awan yang empuk—tempat kita dapat bangkit dan mencoba lagi.
“Lewat Warcil, kami berharap anak-anak tidak hanya belajar bertanya, tapi juga belajar tentang semangat, ketekunan, dan arti menjadi pembelajar seumur hidup. Semoga pengalaman ini menjadi bekal untuk menggantungkan mimpi yang lebih tinggi lagi, tanpa takut jatuh—karena dari awan pun, kita dapat memandang langit yang lebih luas.” kata Oktaf Laudensius. (mar)











