Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Keutamaan Bulan Zulkaidah dan Makna Ibadah Kurban bagi Umat Islam

Ilustrasi naskah khutbah Jumat 12 Juni 2026.(Pixabay.com)

bernasnews – Memasuki Jumat, 1 Mei 2026, umat Islam berada dalam bulan Zulkaidah, salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriah. Momentum ini menjadi penting karena menandai semakin dekatnya pelaksanaan ibadah kurban yang akan berlangsung pada bulan Zulhijah.

Dalam konteks ini, para khatib dapat memanfaatkan tema keutamaan bulan Zulkaidah sekaligus mengingatkan jamaah tentang makna mendalam dari ibadah kurban, baik dari sisi sejarah maupun nilai spiritual yang dikandungnya.

Bulan Zulkaidah sebagai Momentum Persiapan Ibadah Kurban

Bulan Zulkaidah termasuk dalam empat bulan haram (suci) dalam Islam yang dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan menjauhi perbuatan dosa. Selain itu, Zulkaidah juga menjadi fase persiapan menuju bulan Zulhijah, di mana ibadah haji dan kurban dilaksanakan.

Bagi umat Muslim yang memiliki kemampuan finansial, bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan diri, baik secara spiritual maupun materi, guna menunaikan ibadah kurban. Kesadaran ini penting agar ibadah yang dilakukan tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar dilandasi niat tulus dan keikhlasan.

Sejarah Kurban dalam Ajaran Islam

Dalam khutbah Jumat, khatib dapat mengangkat sejarah kurban yang telah ada sejak masa Nabi Adam. Perintah kurban menjadi bagian dari ajaran tauhid yang mengajarkan ketaatan kepada Allah SWT.

Kisah paling monumental terkait ibadah kurban adalah peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS. Dalam mimpinya, beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Perintah tersebut merupakan ujian keimanan yang sangat berat. Namun, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan ketaatan luar biasa terhadap perintah Allah.

Peristiwa ini kemudian menjadi dasar syariat kurban yang dijalankan umat Islam hingga saat ini. Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sebagai bentuk rahmat dan bukti bahwa keikhlasan hamba-Nya menjadi hal utama dalam beribadah.

Makna Kurban: Mengikis Egoisme dan Sifat Serakah

Lebih dari sekadar penyembelihan hewan, ibadah kurban memiliki makna spiritual yang mendalam. Kurban mengajarkan umat Islam untuk mengendalikan hawa nafsu, menghilangkan sifat egoisme, serta menumbuhkan kepedulian sosial.

Dalam khutbah, khatib dapat menekankan bahwa kurban adalah simbol pengorbanan diri. Sifat-sifat buruk seperti keserakahan, individualisme, dan cinta dunia yang berlebihan harus “disembelih” dalam diri setiap Muslim. Dengan demikian, kurban menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mempererat hubungan dengan sesama manusia.

Distribusi daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan juga menjadi wujud nyata dari ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan solidaritas sosial.

Naskah Khutbah sebagai Panduan Khatib

Tema khutbah Jumat 1 Mei 2026 ini sangat relevan untuk disampaikan kepada jamaah sebagai pengingat akan pentingnya memanfaatkan bulan Zulkaidah dengan baik. Khatib diharapkan dapat menyusun materi khutbah yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati jamaah.

Beberapa poin utama yang dapat disampaikan dalam khutbah antara lain:

  • Keutamaan bulan Zulkaidah sebagai bulan haram
  • Persiapan menyambut ibadah kurban
  • Sejarah kurban sejak Nabi Adam hingga Nabi Ibrahim
  • Nilai spiritual dan sosial dari ibadah kurban

Dengan penyampaian yang lugas dan menyentuh, khutbah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran jamaah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah serta mempersiapkan diri dalam menyambut ibadah kurban.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَۙ

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.

Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.

Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah…

Saat ini kita telah memasuki bulan Zulkaidah sebagai bulan mulia bagi umat Islam. Bulan yang berharga bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Salah satu perintah Allah kepada umat Islam yaitu berqurban. Qurban dianjurkan bagi Muslim yang memiliki kelapangan harta. Ibadah qurban disyariatkan untuk dilakukan pada hari raya Idul Adha (10 Zulhijah) dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Dalam Al-Qur’an, perintah qurban termaktub dalam Al-Hajj ayat 34 yang berbunyi:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَۙ ۝٣٤

wa likulli ummatin ja‘alnâ mansakal liyadzkurusmallâhi ‘alâ mâ razaqahum mim bahîmatil-an‘âm, fa ilâhukum ilâhuw wâḫidun fa lahû aslimû, wa basysyiril-mukhbitîn

Artinya: Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).

Hadirin yang berbahagia…..

Dalam sejarah Islam, perintah qurban dimulai sejak masa Nabi Adam AS. Atas perintah Allah Swt., Nabi Adam meminta kepada 2 putranya, Habil dan Kabil, untuk berkurban. Keduanya harus berkurban dalam rangka memperoleh Iqlima dan Labuda sebagai istri.

Habil berkurban binatang ternak terbaik miliknya, sementara Kabil hanya memberi hasil pertanian yang rusak dan busuk. Kurban dari Habil diterima oleh Allah Swt. karena rasa keikhlasan. Adapun kurban dari Kabil ditolak karena tidak ikhlas.

Namun, perintah qurban menggunakan hewan ternak dilatarbelakangi oleh kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Kala itu, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail.

Nabi Ibrahim menerima perintah tersebut, dan dengan penuh ketaatan, ia menyampaikan perintah itu kepada Nabi Ismail.

Hal ini diceritakan dalam Ash-Shaffat ayat 102-107:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢

fa lammâ balagha ma‘ahus-sa‘ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbaḫuka fandhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abatif‘al mâ tu’maru satajidunî in syâ’allâhu minash-shâbirîn

Artinya:”Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ۝١٠٣

fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn

Artinya:”Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah).”

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ ۝١٠٤

wa nâdainâhu ay yâ ibrâhîm

Artinya:”Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim.”

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٠٥

qad shaddaqtar-ru’yâ, innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn

Artinya:”Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ۝١٠٦

inna hâdzâ lahuwal-balâ’ul mubîn

Artinya:”Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ۝١٠٧

wa fadainâhu bidzib-ḫin ‘adhîm

Artinya:”Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.”

Setelah Nabi Ibrahim menyampaikan perintah kepada Ismail, ia menyanggupi perintah Allah. Maka, tepat pada tangal 10 Zulhijah sewaktu Nabi Ismail berusia 7 tahun (ada yang berpendapat 13 tahun), Nabi Ibrahim menjalankan perintah itu di Mina.

Nabi Ismail ke Mina dan membaringkan di atas pelipis. Saat-saat penuh kesedihan itu, Nabi Ismail lantas mengatakan pada ayahnya dengan penuh keikhlasan, yaitu:

يا أبت اشدد رباطى حتى لا اضطرب، واكفف عنى ثيابك حتى لا يتناثر عليها شئ من دمى فتراه أمى فتحزن، وأسرع مرّ السكين على حلقى ليكون أهون للموت على، فإذا أتيت أمى فاقرأ عليها السلام منى

Artinya, “Wahai ayahku! Kencangkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatlah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila engkau telah kembali maka sampaikanlah salam (kasih)ku kepadanya.” (Syekh Muhammad Sayyid Ath-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M], halaman 3582).

Berkat rahmat dan kasih sayang Allah Swt., Ismail tidak jadi dikurbankan. Saat Ibrahim hendak menyembelih putranya, Allah lalu mengganti Ismail dengan seekor domba.

Perintah qurban juga dicontohkan oleh Rasulullah yang termuat dalam hadis Bukhari dan Muslim:

ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata: ‘Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca basmalah dan takbir.’”

Berangkat dari kisah Ibrahim dan Ismail, hal ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah harus diutamakan. Berqurban juga dapat menumbuhkan sifat kedermawanan, saling membantu, dan saling berkasih sayang.

Qurban juga menjadi simbol untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan, menghilangkan sifat-sifat buruk, sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual.

Semoga kita dapat menjaga kesucian dan kehormatan bulan Zulkaidah sebagai langkah awal untuk memperbaiki rasa hormat dan patuh kita akan perintah-perintah serta larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ،

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penyampaian khutbah dengan tema ini memiliki dampak positif dalam meningkatkan pemahaman umat Islam terhadap makna ibadah kurban. Tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai sarana pembentukan karakter yang lebih baik.

Diharapkan, umat Islam dapat menjadikan bulan Zulkaidah sebagai momentum introspeksi diri dan memperkuat keimanan. Dengan demikian, ketika memasuki bulan Zulhijah, mereka telah siap secara lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah kurban dengan penuh keikhlasan. (anp)