bernasnews — Sebanyak 20 pegawai museum, dari berbagai divisi, duduk melingkar, terlibat dalam diskusi aktif, simulasi komunikasi, hingga praktik membangun narasi, bertempat di ruang audiovisual Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Kamis, 23 April 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Program Studi Sastra Inggris, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Program bertajuk “Pelatihan Public Relations bagi Pegawai Museum Benteng Vredeburg.” dipimpin langsung oleh ketua tim pengabdi, Dr. Rachmat Nurcahyo, S.S., M.A.
Dalam sambutan pembuka, penanggung jawab museum, Agus Sulistya, S.Pd., M.A menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia museum, tidak hanya dalam penguasaan sejarah, tetapi juga dalam cara menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada pengunjung.
“Benteng ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita menceritakan masa lalu itu kepada generasi hari ini,” jelas Agus, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/4/2026)
Sepanjang hari, peserta mengikuti pelatihan yang mencakup tiga materi utama: dasar-dasar public relations, komunikasi sebagai praktik PR, serta storytelling sebagai strategi membangun citra.
Namun, yang membuat pelatihan ini berbeda adalah pendekatannya: alih-alih ceramah satu arah, kegiatan didominasi oleh diskusi interaktif dan praktik langsung.
Peserta diajak untuk memerankan berbagai situasi komunikasi, mulai dari menyambut pengunjung hingga menangani pertanyaan kritis.
Sementara dalam sesi storytelling, peserta bukan saja diminta membuat narasi singkat tentang koleksi secara menarik, bahkan diminta menanggapi berbagai potensi komplain terkait benteng, dan disampaikan kepada publik secara menarik dan berterima.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Salah satu peserta mengungkapkan perubahan perspektif yang ia rasakan setelah mengikuti pelatihan ini.
“Saya jadi paham bahwa tugas security itu juga menjaga citra positif benteng. Dan saya lebih tahu cara komunikasi yang bisa membuat benteng ini dianggap lebih baik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan esensi dari pelatihan ini, bahwa setiap individu di lingkungan museum, tanpa memandang posisi, memiliki peran strategis dalam membangun citra institusi.
Public relations bukan hanya tugas humas, melainkan praktik kolektif yang hidup dalam setiap interaksi.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Sastra Inggris UNY berharap dapat terus memperluas jangkauan pengabdian, menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. (*/ ted)











