News  

Efek Pembatasan Akses Bus di Sumbu Filosofi, Pendapatan Taman Pintar Diprediksi Turun Sebanyak Rp10 Miliar

Salah satu zona baru yang terdapat di Taman Pintar, Kota Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

bernasnews – Kebijakan pembatasan kendaraan besar di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta mulai berdampak pada sektor pariwisata, termasuk terhadap proyeksi pendapatan Taman Pintar Yogyakarta.

Pemerintah Kota Yogyakarta menerapkan kebijakan ini untuk menjaga nilai historis kawasan serta meningkatkan kenyamanan ruang publik, khususnya di ruas Jalan Panembahan Senopati.

Kebijakan tersebut membatasi akses bus wisata besar ke kawasan inti, yang selama ini menjadi jalur utama rombongan wisata.

Kondisi ini dinilai memengaruhi pola kunjungan wisatawan, terutama kelompok pelajar dan wisata keluarga.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa terdapat potensi penurunan pendapatan Taman Pintar sebagai dampak dari perubahan akses tersebut.

“Kalau hitungannya bisa besar itu. Dari proyeksi Rp16 miliar, bisa tinggal Rp6 miliar,” ujarnya.

Perubahan Akses dan Pola Kunjungan

Salah satu dampak utama berasal dari tidak diperbolehkannya bus wisata besar berhenti di kawasan dekat Taman Pintar, khususnya di titik parkir sekitar Jalan Panembahan Senopati.

Sebelumnya, lokasi tersebut menjadi titik utama bagi rombongan wisata untuk turun dan mengakses destinasi secara langsung.

Dengan kebijakan baru, bus harus berhenti di lokasi yang lebih jauh.

Hal ini membuat wisatawan perlu menempuh jarak tambahan untuk mencapai tujuan, yang dinilai dapat memengaruhi kenyamanan dan efisiensi kunjungan.

Perubahan ini terutama berdampak pada rombongan pelajar yang selama ini mengandalkan akses langsung dari bus ke lokasi wisata.

Proyeksi Penurunan Pendapatan

Pemerintah Kota Yogyakarta mencatat potensi penurunan pendapatan Taman Pintar hingga Rp10 miliar dari proyeksi awal.

Penurunan tersebut mencerminkan kemungkinan berkurangnya jumlah pengunjung serta dampak lanjutan terhadap aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Selain sektor wisata, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi pelaku usaha pendukung seperti UMKM, jasa transportasi lokal, serta pemandu wisata.

Penyesuaian Skema Transportasi

Sebagai langkah penyesuaian, pemerintah menyiapkan skema alternatif untuk menjaga kelancaran akses wisatawan.

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pengalihan lokasi parkir bus ke titik penyangga, seperti kawasan Kotabaru.

Selain itu, sistem drop-off dioptimalkan agar wisatawan tetap dapat diturunkan di lokasi yang relatif dekat dengan Taman Pintar.

Salah satu titik yang disiapkan berada di kawasan Gondomanan.

Melalui skema ini, bus diperbolehkan menurunkan penumpang sebelum menuju lokasi parkir yang telah ditentukan.

Implementasi dan Koordinasi

Pemerintah menilai sistem drop-off dapat berjalan efektif karena kedatangan rombongan bus wisata tidak terjadi secara bersamaan dalam jumlah besar.

Namun demikian, pelaksanaan kebijakan ini memerlukan koordinasi dengan operator bus dan agen perjalanan.

Sosialisasi dilakukan untuk memastikan seluruh pihak memahami perubahan pola akses dan dapat menyesuaikan operasional di lapangan.

Upaya Menjaga Stabilitas Kunjungan

Meskipun terdapat potensi penurunan pendapatan, Pemerintah Kota Yogyakarta menyatakan telah menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas jumlah kunjungan.

Strategi ini mencakup pengaturan akses, peningkatan koordinasi, serta optimalisasi sistem transportasi wisata.

“Insyaallah tidak sampai turun sebanyak estimasi pesimistis itu. Skenario ini sudah saya tetapkan untuk mempertahankan minat pengunjung ke Taman Pintar,” kata Hasto.

Tahap Penyesuaian Kebijakan

Kebijakan pembatasan kendaraan besar di kawasan Sumbu Filosofi saat ini masih dalam tahap penyesuaian.

Pemerintah daerah menyatakan akan terus memantau dampaknya terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pelestarian kawasan heritage dan keberlanjutan aktivitas pariwisata di Kota Yogyakarta. (Eln)