bernasnews – Salah satu karya tulis yang tetap enak dibaca, relevan dengan dinamika kehidupan, dan mengiibur adalah cerita pendek. Karya fiksi yang akrab disebut cerpen itu – karena lebih pendek dibanding novelet dan novel, namun lebih panjang dari cerita mini – di masa lalu sering kita jumpai termuat di media cetak antara lain koran. Karena dimuat di koran harian, produk imajinasi yang kadang juga faktual itu disebut sastra koran.
Sastra koran baik cerpen atau puisi yang termuat di media masa itu kadang justru menjadi tujuan utama pembaca untuk dinikmati selain halaman fakta dan opini. Karya sastra koran itu biasa muncul di hari tertentu, misal Sabtu atau Minggu. Harian Bernas termasuk salah satu koran di Yogyakarta yang rutin menyajikan tulisan sastra koran di halaman budayanya.
Keunikan sastra koran ala Bernas pada waktu itu, dimulai tahun 1990-an, tampil dua versi yakni cerpen asli dan cerpen terjemahan. Bakdi Sumanto dalam pengantar buku “Lukisan Matahari” menulis, buku ini menampakkan diri sebagai kumpulan cerita pendek yang aneh. Mungkin sebagai satu kesatuan utuh dalam arti buku, antolologi ini merupakan sastra yang untuk meminjam istilah para ahli, “sui generis”, tidak ada duanya. Adapun alasan penyebutan itu adalah bahwa dalam kumpulan ini, cerpen asli disatukan dengan cerpen terjemahan.
Suryanto Sastroatmojo di buku “Guru Tarno” pun menulis, Henry Bergson benar. Sastra adalah proyek hari depan kemanusiaan. Jika manusia adalah produk dari sebuah sistem dan produk sebuah wahana komunikasi dialogis, agaknya benarlah dugaan sementara orang, bahwa makin lama makin diperlukan dialog-dialog demi terciptanya toleransi, rasa kebetahan akan hidup, spririt juang dan juga rasa butuh dihargai.
Maka lahirnya antologi-antologi dewasa ini, lanjut Suryanto, ikut membantu berlangsungnya wacana-wacana lebih terbuka, jembar dan berkesinambungan antara pengarang-pembaca-penerbit dan para tebing terakhir : pemerhati.Ini dimaksudkan agar kepedulian yang makin mahal harganya dan semakin samar itu dapat lebih diraih ke kalbu kita.
Dalam perkembangan kemudian, seiring dengan bergugurannya satu demi satu media cetak dan sebagian beralih ke platform digital, sastra koran pun kehilangan media tayang atau kolam kreativitasnya. Beruntung, penulis masih menyimpan dokumentasi tiga buku antologi cerpen yang diterbtikan oleh Harian Bernas. Ketiga buku ini serasa sebagai pelepas dahaga akan sastra koran yang menghilang pelan-pelan.
Dari sisi karya tulis dan terutama pesan yang disampaikan oleh penulis cerpen itu ternyata tetap relevan di saat sekarang dan mungkin era masa depan. Mengapa? Karena benang merah karya mereka adalah kemanusiaan dengan dinamiika yang beragam dan kadang absurd.
KADO ULANG TAHUN BERNAS
Buku LUKISAN MATAHARI menampilkan 19 cerita pendek pilihan Bernas yakni : Sang Boss (Achmad Munif), Lukisan Matahari (Agnes Yani Sardjono), Pulang (Agus Noor), Arisan (Ahmadun Yosi Herfanda), Parfum (Ryan O’Neil/Bakdi Sumanto), Lelaki (Beni Setia), Museum Perjuangan (Ernest Hemingway/Bern Hidayat), Slogan (Dedi H Purwadi), Wajah Tanpa Rembulan (Diah Hadaning), Sokra (Handoko Adinugroho).
Kemudian Dua Surat Salindri (Ignatius Abi), Pelamar-Pelamar (Iman Budhi Santosa), Guest House Mega Malang (Iman Soetrisno), Tlutur (Indra Tranggono), Sebelum Tapa dan Semedi (C Rajagopalachari/Landung Rusyanto Simatupang), Sangkuriang (Omi Intan Naomi), Seruni (Sri Hardjanto Sahid), Daun Terakhir (O Henry/Steve Geroda), dan Wayang (Y.B. Margantoro).
Buku setebal193 halaman ini dieditori oleh FX Mantoro Suryo Putro, Handoko Adinugroho, Ignatius Abi dan Y.B. Margantoro. Buku diterbitkan oleh Harian Bernas bekerja sama dengan Bentang Intervisi Utama pt. Diterbitkan untuk kado HUT ke-47 Harian Bernas Yogyakarta, 15 November 1993.
Kemudian buku GURU TARNO menyajikan 20 cerpen pilihan Bernas. Diterbitkan oleh BIGRAF Publishing bekerjasama dengan Harian Bernas, 1994. Tim penyunting buku adalah Ireng Laras Sari, FX Mantoro Suryo Putro, Ignatius Abi dan Y.B. Margantoro. Kata pengantar oleh Suryanto Sastroatmodjo.
Kedua puluh cerpen itu adalah : Bom di Bukit Kapur (Agnes Yani Sardjono), Harta Warisan (Aprinus Salam), Rumah Tanpa Daun Pintu (Dorothea Rosa Herliany), Limbah (Endang Susanti Rustamaji), Metamorfosa (Ida Bani Kadir), Hikayat Kerbau (Joni Ariadinata), Ancaman (Ngarto Februana), Suwung (Omi Intan Naomi), Guru Tarno (Purwadmadi Admadipurwa), Pintu yang Diketuk (Whani Dharmawan).
Selanjutnya Vanka (Anton Chekov/Bern Hidayat), Sang Penyair (Carl Capek/Genthong HSA), Surat kepada Tuhan (Gregorio Lopes Y Fuentes/Kuswahyo SS Raharjo), Mereka Tak Pernah Terbang (Heinrich Boll/Bern Hidayat), Ambisi (Kahlil Girbran/Landung Simatupang), Kuda Makan Bakmi (Lao Hsiang/Landung Simatupang), Buket Biru (Oktavio Paz/Threes Susilastuti). Mendongenglah (Rabindranath Tagore/Landung Simatupang). Dongeng Aesop yang Terakhir (William March/Bern Hidayat), Tuan Serba Tahu (W Somerset Maugham/Inter Literat).
Sedangkan buku CANDRAMAWA berisi 20 cerita pendek pilihan Bernas. Buku setebal 130 halaman ini diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Nusatama dan Harian Bernas, 1995. Editor Ignatius Abi, Y.B. Margantoro, dan FX Mantoro Suryo Putro, Disain dan ilustrasi oleh Kuss Indarto.
Kedua puluh cerpen itu adalah : Protes (Achmad Munif), Panjat Pinang (Achmad Munjid), Nurul Marah (AM Lilik Agung), Sarung Pak Gun (Agnes Yani Sardjono), Kesaksian Matpelor (Abrazi Z Alkael), Manusia Lumpur (D Pramono Raharjo), Sebuah Lukisan Abstrak (Dorothea Rosa Herliany), Kamar Mandi (Fuad Sulistyono), Listrik (Gusti Herselo Age), Pembunuh Bayaran (Herry Gendut Janarto).
Kemudian Vicky dan Nani (Joni Ariadinata), Lewat Tengah Malam (Ngarto Februana), Anak (R Toto Sugiharto), Simpang Ajal (Satmoko Budi Santoso), Kartu (Simon Hate), Kumis (Singgir Kartono), Tiga Anak Pertama (St. Suryani), Candramawa (Tri Wiyono), Bahasa (Whani Dharmawan), dan Padepokan Garong (Z. Arifin).
Tim editor dalam buku kumpulan cerita pendek ketiga ini hanya memberikan kata pengantar pendek yakni tiga alinea. Alasan mereka, pengantar sebuah antologi cerita pendek yang cenderung berpanjang-panjang terkadang hanya menjadi sebuah keluh kesah atau tuturan-tuturan yang tidak berkaitan dengan dunia sastra. Hal-hal non teknis pun terjadang juga membuat langkah dan semangat editor kurang begitu melenggang.
Pada akhirnya, kertas-kertas gersang menjadi berarti lantaran goresan cerita pendek di atasnya. Buku tulis lusuh menjadi tatapan pandang lantaran sebuah kisah digelar di atasnya. Maka dengan didokumentasikan, apa yang masa lalu atau waktu kini centeng perentang, kelak akan menjadi serangkum sejarah yang bermakna. (Anto Margono. Pegiat Literasi).












