News  

Harga Tiket Pesawat Naik hingga 13 Persen, Aktivitas Penumpang di YIA Tetap Stabil

Jumlah penumpang pesawat di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) stabil di tengah kenaikan harga tiket penerbangan. (Ist)

bernasnews – Kenaikan harga tiket pesawat sebesar 9 hingga 13 persen mulai diberlakukan sebagai dampak dari lonjakan harga avtur di tengah dinamika geopolitik global.

Kebijakan tersebut diterapkan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan industri penerbangan sekaligus mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, aktivitas penerbangan di Yogyakarta International Airport tetap menunjukkan stabilitas hingga pertengahan April 2026.

Bandara yang menjadi pintu utama mobilitas udara di wilayah selatan Jawa itu belum mengalami penurunan signifikan dalam jumlah penumpang.

Pergerakan Penumpang Masih Terjaga

General Manager YIA, Muhammad Thamrin, melalui Branch Communication and CSR Department Head, Anita Herawati, menyampaikan bahwa pergerakan penumpang masih berada dalam kondisi normal.

“Sampai saat ini pergerakan penumpang di YIA masih terjaga dengan baik, belum ada penurunan,” ujarnya pada Minggu, 14 April 2026.

Setiap hari, YIA melayani sekitar 13.000 hingga 15.000 penumpang dengan jumlah penerbangan berkisar antara 89 hingga 96 per hari. Angka tersebut menunjukkan permintaan perjalanan udara masih relatif tinggi meskipun terjadi penyesuaian harga tiket.

Kenaikan Avtur Pengaruhi Biaya Operasional

Kenaikan harga avtur menjadi faktor utama yang mendorong maskapai melakukan penyesuaian tarif. Avtur merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya operasional penerbangan, sehingga perubahan harga berdampak langsung terhadap tarif tiket.

Muhammad Thamrin menyebutkan bahwa kondisi ini berpotensi memengaruhi harga tiket untuk berbagai rute, termasuk penerbangan menuju dan dari YIA.

Namun demikian, pemerintah menetapkan batas kenaikan tarif agar tidak melampaui ambang kewajaran.

“Kenaikan harga tiket masih dalam batas wajar karena ada pembatasan dari pemerintah,” katanya.

Industri Andalkan Kolaborasi Lintas Sektor

Dalam menghadapi kondisi tersebut, pengelola bandara menilai pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam ekosistem penerbangan.

Menurut Thamrin, koordinasi antara maskapai, regulator, dan sektor pariwisata menjadi kunci dalam menjaga stabilitas industri di tengah tekanan biaya global.

“Kami menyikapi dinamika ini melalui ekosistem terintegrasi, mulai dari maskapai, regulator, hingga sektor pariwisata,” ujarnya.

Sektor Pariwisata Mulai Antisipasi Dampak

Sementara itu, pelaku industri pariwisata mulai mengantisipasi potensi dampak kenaikan harga tiket terhadap jumlah kunjungan wisatawan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulon Progo, Sumantoyo, menyatakan bahwa kenaikan tarif penerbangan dapat memengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah.

“Kalau sudah begitu, maka kami harus melakukan efisiensi operasional dalam penggunaan utilitas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa efisiensi menjadi langkah awal yang ditempuh pelaku usaha, sementara langkah seperti pemutusan hubungan kerja masih menjadi opsi terakhir.

“PHK menjadi opsi terakhir. Kami masih terus memantau situasi yang sangat dinamis ini,” tambahnya.

Permintaan Perjalanan Masih Stabil

Meski terdapat tekanan dari sisi biaya, permintaan perjalanan udara di YIA hingga kini masih menunjukkan tren stabil. Hal ini menjadi indikator bahwa kebutuhan mobilitas masyarakat, baik untuk keperluan wisata maupun sosial, masih cukup tinggi.

Namun demikian, perkembangan kondisi global, khususnya yang memengaruhi harga avtur, tetap menjadi faktor yang perlu dipantau karena berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap industri penerbangan dan sektor terkait.