News  

1000 Hari A.M. Henky Irawan : Tujuh Warisan yang Berguna bagi Pembelajar

Undangan Perayaan Ekaristi Mengenang 1000 Hari A.M. Henky Irawan. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Sebuah undangan elektronik melalui hp dikirimkan kepada penulis oleh dua pihak. Satu oleh keluarga Maria Siswantini Henky dan yang kedua oleh Yohanes Sumantri. Isinya sama, undangan untuk mendoakan A.M. Henky Irawan yang telah dipanggil Tuhan 1000 hari yang lalu.

Doa dipersembahkan dalam Perayaan Ekaristi yang akan dipersembahkan oleh Romo Albertus Mardi Santosa, SJ, di Kapel SMA Kolese de Britto, Jalan Demangan Baru, Sleman, DIY, Sabtu (11/4/2026) pukul 10.00 WIB.

Henky – demikian almarhum biasa dipanggil – adalah teman kami dan purna karya guru sekolah yang para siswanya lelaki semua dan kebanyakan berrambut gondrong ini. Kepergiannya yang didahului sakit beberapa saat ternyata telah berlalu 1000 hari lalu.

Tertulis di undangan dengan kutipan 2 Timotius 4 : 7-8 : “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Sebuah kutipan kitab suci yang sarat dengan perenungan dan turut mengajak umat untuk terus merawat iman dengan baik.

Sebagai suami dan ayah di keluarga; sebagai guru, humas dan kepala perpustakaan saat berkarya di sekolah; sebagai warga masyarakat; dan sebagai umat Gereja, Henky menghadirikan diri sebagai pribadi yang baik, santun, setia, berkomitmen dan berkarya. Hal itu terlihat atau terungkap dari relasi dengan para pihak dan karya yang diwariskan almarhum.

Secara pribadi, penulis mengenal Henky paling tidak sejak tahun 1974/1975 saat dia membentuk grup tari ular “Naya Hannah”. Dia mencoba belajar tari kreasi baru. Dalam tari ular, penari-penarinya menari dengan menggunakan properti ular. Grup tersebut sempat pentas keliling kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan.

Pada awalnya dia memang bercita-cita mempunyai profesi dalam dunia seni atau entertainment. Ada empat cabang seni yang dia pelajari : seni rupa, seni tari, seni drama/teater, dan seni musik. Apakah cita-cita itu kesampaian atau terwujud? Ternyata tidak. Ini menjadi bagian dari warisan Henky kepada semua pihak yang mau memposisikan diri sebagai pembelajar.

Pertama, kegagalan dalam cita-cita di bidang seni itu adalah karena dia tidak fokus pada satu cabang seni saja sehingga orientasinya menjadi terpecah-pecah. “Kalau kita ingin bekerja secara profesional, hendaklah kita fokus menekuni atau mendalami satu bidang yang dipilih,” kata dia menjawab penulis dalam buku “Perjumpaan yang Menginspirasi : Menghargai Sekecil Apapun Karya Siswa” (MMB, 2021, 2023)

Kedua, dia adalah figur yang sayang keluarga dan sekaligus taat beragama. Salah satu buktinya adalah dia menyerahkan dua foto ilustrasi untuk wawancara buku itu adalah foto ziarah rohani bersama isteri tercinta di Vatikan, Roma, Italia. Sebaliknya, keluarga senantiasa mendoakan keselamatan jiwa Henky hingga Perayaan Ekaristi Mengenang 1000 Hari tersebut.

Ketiga, sebagai pendidik khususnya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta, dia justru merasa senang ketika para siswanya bersikap kritis dengan suka mengajukan banyak pertanyaan dalam pembelajaran. “Terkadang, siswa tidak puas dengan jawaban saya dan berani mendebat saya. Bagi saya, hal seperti ini tambah menyenangkan dan permasalahan tidak harus selesai dengan berakhirnya jam pelajaran,” katanya.

Keempat, sebagai pendidik dia juga menekankan pentingnya penanaman pendidikan karakter bagi para siswa. Menurut dia, jauh sebelum orang membicarakan hal itu, SMA Kolese de Britto sudah melaksanakan pendidikan karakter. Yang perlu dicatat, pendidikan karakter di sekolah ini tidak dalam bentuk teori-teori atau sejumlah aturan, akan tetapi sebuah keteladanan. Hal itu adalah perbuatan nyata yang baik, bertanggung jawab dan kesediaan berkorban bagi orang lain.

Kelima, sebagai guru dia diberi tugas tambahan menjadi kepala perpustakaan. Cukup lama dia menjabat posisi ini yaitu selama 16 tahun, pada 1991-2005 dan 2014-2016. Beberapa prestasi berhasil dia torehkan, salah satunya dalam kesempatan lomba perpustakaan sekolah tingkat nasional, Perpustakaan SMA Kolese de Britto menjadi Juara II. Tentu saja, selain perpustakaan sekolahnya juara, minat baca warga sekolah juga dapat dibanggakan.

Keenam, sebagai hubungan masyarakat (Humas) sekolah, dia mewariskan pentingnya hubungan media bagi satuan pendidikan. Selama menjabat sebagai humas pada tahun 2007 – 2012, dia telah mampu melaksanakan tugas itu dengan benar dan baik. Kerja sama dengan banyak pihak pun dia lakukan, salah satunya kerja sama dengan media massa. Hasil karya ini antara lain terbitnya buku “De Britto dalam Liputan Media” (Pohon Cahaya, 2016, Pengantar Y.B. Margantoro, dan Henky sebagai editor).

Ketujuh, sebagai guru dan humas, dia turut menghasilkan buku-buku refleksi para alumni untuk menulis buku bersama dengan mengisahkan kembali makna pendidikan khas de Britto selama menjadi siswa dan ketika sudah berkarya di masyarakat. Buku-buku itu antara lain : “Be the Best in Your Life : Aneka Kisah Alumni de Britto” (editor Henky dan YBM, 2019), “Sekolah yang Mengubahku : Aneka Kisah Alumni de Britto” (editor Henky, 2021). Sebelumnya, dia juga mengeditori buku : ”Menjelajah Dunia : Bunga Rampai Kisah Perjalanan” (2012).

Poinn penting warisan ketujuh ini adalah : warga sekolah : guru, siswa, karyawan, dan juga alumni harus gemar membaca dan menulis. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)