bernasnews – Kajian mengenai eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan selalu menjadi topik yang menarik untuk didalami, terutama melalui lensa tasawuf. Dalam sebuah ulasan terbaru mengenai Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan membedah hikmah ke-99 yang menitikberatkan pada dua anugerah besar yang menyertai setiap makhluk. Dua anugerah tersebut dikenal dengan istilah nikmatul ijad dan nikmatul imdad.
M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa dalam pandangan Ibnu Atha’illah, tidak ada satu pun maujud atau sesuatu yang diciptakan yang dapat terlepas dari dua kenikmatan ini. Hal ini menjadi landasan dasar bagi setiap manusia untuk menyadari hakikat keberadaannya di dunia.
Dua Keniscayaan bagi Setiap Makhluk
Menurut pemaparan M. Nur Kholis Setiawan, setiap makhluk yang ada di alam semesta ini secara otomatis terikat oleh dua jenis nikmat yang saling melengkapi. Kenikmatan pertama berkaitan dengan proses kemunculan dari ketiadaan, sedangkan kenikmatan kedua berkaitan dengan keberlangsungan hidup makhluk tersebut setelah diciptakan.
Dalam penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan menegaskan, “Nikmatul ijad nikmat diciptakan gitu ya, kedua nikmatul imdad nikmat dicukupi kebutuhannya. Jadi ketika kita manusia sebagai hamba Allah mendapatkan kenikmatan yang pertama dari Sang Khaliq adalah karena kita diciptakan. Kita dulu tidak ada lalu menjadi ada”.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan sebuah anugerah awal yang disebut sebagai nikmatul ijad.
Nikmatul Ijad: Dari Ketiadaan Menjadi Ada
Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan mengaitkan konsep ini dengan hikmah ke-14 Al-Hikam yang menyebutkan bahwa alam semesta pada hakikatnya adalah kegelapan atau ketiadaan (non-existence). Intervensi Sang Maha Kuasa-lah yang membuat sesuatu yang gelap dan tidak ada itu menjadi tampak dan eksis di panggung dunia.
Secara teknis jurnalistik, nikmatul ijad dapat didefinisikan sebagai anugerah diwujudkannya seorang hamba. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa nikmat ini berfungsi untuk menghilangkan status ketiadaan (al-adam) yang melekat pada makhluk sebelum ia diciptakan. Tanpa intervensi ini, manusia selamanya akan tetap berada dalam “kegelapan” ketiadaan.
Nikmatul Imdad: Anugerah Pemenuhan Kebutuhan yang Berkelanjutan
Setelah seorang makhluk melalui fase ijad (diwujudkan), ia tidak lantas dibiarkan begitu saja. Di sinilah peran nikmatul imdad muncul. M. Nur Kholis Setiawan menguraikan bahwa kenikmatan ini adalah bentuk pemenuhan segala kebutuhan makhluk sepanjang hidupnya, mulai dari bayi, remaja, dewasa, hingga usia tua.
M. Nur Kholis Setiawan memberikan kutipan penting mengenai fungsi nikmat kedua ini:
“Anugerah diwujudkan atau nikmat diadakan atau diwujudkan ya azalat anhu menghilangkan ketiadaan yang sebelumnya karena asalnya tidak ada menjadi ada… sementara anugerah dipenuhinya kebutuhan atau nikmat pemenuhan ini menghilangkan ketiadaan yang berikutnya”.
Artinya, jika nikmatul ijad membuat manusia menjadi ada, maka nikmatul imdad menjaga agar manusia tersebut tetap ada dan mampu berfungsi dengan baik melalui pemberian kesehatan, rezeki, serta lingkungan yang mendukung.
Kesadaran akan Ketergantungan Mutlak pada Sang Khaliq
Melalui ulasan filosofis ini, M. Nur Kholis Setiawan mengajak para penyimak untuk menyadari bahwa kebutuhan manusia terhadap Tuhan adalah sesuatu yang inheren atau melekat kuat. Manusia tidak mungkin bisa hidup mandiri atau menjalani kehidupan dengan layak tanpa aliran anugerah yang terus-menerus dari Allah.
M. Nur Kholis Setiawan menekankan poin krusial dalam kehidupan seorang hamba:
“Seorang hamba ini akan menyadari atau akan mengetahui bahwa kebutuhannya, kebutuhan dirinya itu inherent melekat dalam dirinya. Tidak mungkin kemudian hanya diciptakan lalu dibiarkan”.
Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan agar setiap individu melakukan introspeksi atau muhasabah, terutama di momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan. Seringkali manusia baru mengingat Tuhan saat tertimpa musibah, namun lalai saat berada dalam kenyamanan. Dengan memahami perbedaan antara nikmatul ijad dan nikmatul imdad, diharapkan manusia dapat senantiasa bersyukur atas eksistensinya dan kecukupan yang ia terima setiap saat.












