Resensi Buku: Novel “Kedai Ngudar Ati”

Cover novel "Kedai Ngudar Ati", karya Galih Satria Hutama. (Z. Bambang Darmadi/ bernasnews)

bernasnews — Judul buku novel “Kedai Ngudar Ati”, karya Galih Satria Hutama, Penerbit PT. Nas Media Indonesia Tahun 2026, tebal 83 halaman + I-VII, ISBN:976-634-205-931-9. Ternyata saat ini buku bacaan yang berupa novel, cerpen dan sejenisnya semakin marak keberadaannya diburu orang.

Hal ini pun  ditanggapi oleh Galih Satria Hutama, seoang penulis muda dari Jogja, dengan meluncurkan buku novel berjudul “Kedai Ngudar Ati”. Karya novel yang keduanya ini mempaparkan 10 tema novel masing- masing berjudul: Prolog; Sore yang Kehilangan Arah; Percakapan yang Menunda Sunyi; Wajah-Wajah yang Belajar Berani.

Wajah yang Membawa Pulang; Ketika Sunyi Menemukan Jawabannya; Belajar Membuka, Bukan Mengganti; Dua Cangkir yang Terpendam 24 Tahun; Air Mata yang Akhirnya Jujur; dan judul Novel kesepuluh adalah Hidangan Untuk Bertahan.

Di setiap judul novel, bahasa dan kata yang disajikan oleh penulis sangat sederhana, namun penuh makna walau sebuah novel, namun ceritanya tidak jauh dari kehidupan nyata, kongkrit yang dialami oleh sebagian orang hanya tidak bisa terurai dalam tatanan cerita seperti novel ini.

Sebagai contoh tema berjudul “Dua Cangkir yang Terpendam 24 Tahun” pada halaman 58-65, penulis mampu menyuguhkan peran Tama selaku yang  berada di Kedai  Ngudar Ati, dan Rani teman Tama yang mengajak kedua orang tuanya Pak Arya dan Bu Mira, singgah di kedai tersebut.

Singkat cerita ternyata kurun waktu 24 tahun, perjalanan pasangan antara Pak Arya dan Bu Mira ada sesuatu yang terpendam, dan kata “diam” yang dipilihnya bukan sesuatu yang terbaik. Tempat atau kedai itu yang dipilih Rani sebagai putri Pak Arya dan Bu Mira untuk memecah keingintahuan Rani terhadap orangtuanya menjadi nyata terwujud.

Terlebih peran Tama sebagai penanggungjawab kedai yang lihai melayani tamunya dengan baik, dengan pilihan kata dan menu autentik yang disajikan mampu membuat suasana terbuka (halaman 65). Melalui satu tulisan baru, menu berbagai: Sup Iga Jernih Menahan Lelah; Nasi Tim Lembut Mengurai Diam; Teh Pahit Menunggu Ucap; Wedang Jahe Menyentuh Pelan.

Bahkan pada halaman 65 akhir, terurai dengan jelas lantaran ada luka yang tidak butuh dijahit, cukup didengarkan — setelah 24 tahun diam. Dalam setiap  judul cerita dalam halaman novel ini, sungguh Galih Satria Hutama mampu membawa perasaan pembaca larut dalam ikut memahami dan bahkan dapat ikut merasakan makna hidup.

Juga kehidupan manusia yang masing- masing orang bisa mengalami dengan berbeda cerita. Novel ini sangat bagus untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin membuka dan melihat cakrawala kehidupan. Pasalnya bahasa dan cerita yang disajikan sangat lugas, mudah dipahami dan penuh makna.

Dari sepuluh judul halaman yang ada dalam buku novel ini, sedikit banyak juga ada yang menceritakan kehidupan sang penulis. Sehingga novel ini dapat menjadi sajian yang bisa menambah refleksi hidup. (Drs. Z. Bambang Darmadi, M.M, Penulis Buku dan Instruktur Pelatihan Bersertifikasi BNSP)