Baca Puisi dan Diskusi Buku Karya PM Laksana di Sastra Bulan Purnama

Buku “Tiga Malam di Kaki Monrolo karya PM Laksono. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Sastra Bulan Purnama (SBP) kali ini meluncurkan buku puisi karya seorang antropolog handal, Prof. Dr. PM. Laksono, yang berjudul ‘Tiga Malam di Kaki Monrolo’, diterbitkan Tonggak Pustaka, Yogyakarta.

Selain dibacakan, buku puisi ini sebelumnya akan didiskusikan di hari yag berbeda. Pembicara diskusi Simon HT, penyair/pemikir kebudayaan, Hairus Salim, penulis/analis sastra dan film, Zamzam Fauzanawi, antropolog. Moderator Ida Fitri, penulis dan penterjemah. Diskusi akan diselenggarakan di Balai Bahasa Yogyakarta, Jalan I Dewa Nyoman Oka No.34, Kotabaru, Yogyakarta, Senin (6/4/2026).

Sebelum pensiun, PM. Lakosono adalah seorang Guru Besar di Departemen Antropologi FIB UGM. Selain mengajar ia juga melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia. Indonesia Timur salah satu lokasi penelitian yang sering dikunjungi. Pengalaman penelitian di lapangan, data-data yang tidak masuk dalam penulisan akademik, dituliskan dalam bentuk puisi, dan diberi pengantar Faruk HT, Guru Besar Departemen Sastra Indonesia FIB UGM, dan Krisbudiman, penulis sastra dan kurator seni rupa.

Faruk mengemukakan, sifat etnografis dari puisi-puisi Laksono tampak dari judul-judul yang menunjuk pada lokalitas-lokalitas tertentu seperti sebuah desa di Yogya, sebuah wilayah pinggiran kali, sebuah tempat di Sulawesi, Maluku, bahkan Nusa Tenggara, sebuah desa di lereng sebuah gunung seperti yang segera terlihat dari judul bukunya.

“Semuanya cenderung digambarkan secara deskriptif, dengan rincian yang benar-benar etnografis. Membaca puisi-puisi yang demikian kita tidak hanya diajak menyaksikan lingkungan topografis sebuah lokasi, pohon, bebatuan, tinggi-rendah dataran, yang semuanya visual, melainkan juga diajak mengaktifkan semua pancaindera kita, mengecap rasa masakan, buah, menghirup aroma dari yang wangi sampai yang menusuk hidung, mendengar suara, kata-kata dengan bahasa setempat, menyentuh kasar-halus bebatuan, kulit dan keringat,” kata Faruk.
Krisbudiman menyebutkan, bagi Pak Laks agaknya, puisi dapat menjadi ruang refeksif, yang leluasa dan tetap berpijak pada sensibilitas etnografis. Puisi-puisinya memantulkan pengalaman-pengalaman kultural dan historis yang dengan sengaja dia pisah-bedakan dari tulisan-tulisan akademis.

“Di tangan PM. Laksono, puisi dapat menguak kemungkinan register wacana lain, tanpa harus menggantikan tulisan akademisnya,” kata Krisbudiman.

PEMBACAAN PUISI
Puisi-puisi yang terkumpul dalam buku karya PM. Laksono dan diberi judul ‘Tiga Malam di Kaki Monrolo” akan dibacakan di Museum Sandi Jalan Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (11/4).

Para pembaca, aktor Butet Kartaredjasa akan membacakan puisi berjudul ‘Layu Revolusi’. Pembaca lainnya muridnya yang pernah belajar di Jurusan Anrotopologi (kini Departetemen Antoropoligi FB. UGM), diantaranya Aan Subansyah membaca puisi berjudul “Kasih Tak Berbalas’, Cuk Riomandha ‘Kualat’, Krisbudiman ‘Pahit Kopi di Kebun Salak”, Kunharibowo ‘Budi Pekerti Mendoet’, Argo Twikromo ‘Bakar Batu di Wamena’.

Pembaca lain dari departemen berbeda di FIB UGM, Heru Marwata/Yupi ‘Mengulik Kemiskinan’, Anang Batas ‘Sepeda Onthel-onthel-ku (Sayang), Ina Sita Nur Aina ‘Bagong Bedah Nalar, dan seorang peneliti dan dikenal sebagai alhi Demografi, Riwanto Tirtosudarmo akan membacakan puisi ‘Getir Di Balik Pintu’. PM. Laksono juga akan membacakan puisi karya sendiri.

Joshua Igho, seorang penyair, akan menggubah salah satu puisi karya PM. Laksono menjadi lagu, dan pertunjukan puisi yang disebut Teaterisasi puisi oleh Gati Andoko dan Teater Terjal.

Kegiatan ini sekaligus merupakan rangkaian merayakan usia 73 tahun PM. Laksono, dan akan diakhiri acara baca puisi, pameran, musik dan lain-lain di Fransis Pizza, Jalan Puntodewo 14, Banjarsari, Ngaglik, Sleman, Minggu, 12 April 2026 pukul 15.30 WIB.

Koordinator SBP Ons Untoro mengemukakan, tiga kegiatan dalam satu rangkaian peluncuran buku puisi karya PM. Laksono diselenggarakan kerjasama dengan Penerbit Tonggak Pustakan, Balai Bahasa dan Fransis Pizza.

“Di era digital sastra bersentuhan dengan Pizza, yang memiliki dimensi internasional, setidaknya untuk menunjukkan bahwa karya sastra tidak berada di ruang terpencil,” kelakar Ons Untoro. (*/mar)