bernasnews – Membaca ulang dua buku tentang Raja Kraton Yogyakarta pada momentum 80 tahun Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2 April 2026) yang dirayakan warga Daerah Istimewa Yogyakarta terasa istimewa. Dua buku itu bertajuk “Sri Sultan Hamengku Buwono X Meneguhkan Tahta untuk Rakyat” (1999) dan “Takhta untuk Rakyat” – Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX” (cetakan pertama April 1982).
Dari sisi waktu, dua buku itu ada beda waktu 17 tahun. Buku tentang Sultan HB IX dicetak (paling tidak) sampai lima edisi dengan revisi. Sedangkan buku tentang Sultan HB X sejauh yang diketahui baru cetak satu kali. Menariknya, dua buku tentang putera dan ayahnya itu memiliki judul kurang lebih sama, namun untuk puteranya ditambahkan kata “meneguhkan”. Artinya, keduanya sebagai raja Kraton Yogyakarta memiliki komitmen yang sama tentang tahta mereka.
Buku “Meneguhkan Tahta untuk Rakyat” diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Jakarta bekerja sama dengan Harian BERNAS Yogyakarta. Tim penulis buku terdiri Y.B. Margantoro, RPA Suryanto Sastroatmodjo, Baskoro Muncar, Agoes Widhartono, Ali Subchi, dan Philipus Jehamun, dengan editor A. Ariobimo Nusantara. Kata pengantar oleh Prof. Dr. Selo Soemardjan.
Sosiolog Selo Soemardjan mengemukakan, pada waktu Soeharto masih berkuasa, Sri Sukltan Hamengku Buwono X menyatakan kepada umum mendukung gerakan reformasi. Tanpa direkayasa sedikit pun rakyat dari segala lapisan dan golongan di Yogyakarta dengan serentak mengikuti sikap panutannya.
Mereka percaya bahwa sikap Sultan adalah sikap yang benar dan direstui oleh kekuatan seru sekalian alam. Memang Yogya merupakan wilayah tenang dan tenteram di lautan Indonesia yang penuh dengan kerusuhan, kekerasan, dan kekacauan politik.
Dalam pertarungan antara kubu reformasi melawan kubu status quo (sisa-sisa Orde Baru yang masih menguasai lembaga-lembaga kenegaraan) yang berlangsung di seluruh Indonesia, terutama di kota Jakarta, proses reformasi di Yogyakarta berjalan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Selama Sri Sultan bersikap, masyarakat Yogya merasa aman.
Buku setebal 266 halaman dengan banyak foto ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, Raja untuk Rakyat : Simbolisasi dan Aktualisasinya, terdiri enam bab yakni : Putera yang terpilih; Jumenengan Sultan Yogyakarta; Tahta untuk reformasi; Sultan, DIY, dan Gubenur; Terbuka bagi kegiatan budaya; Semuanya terserah rakyat. Bagian kedua, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat : Dulu – Kini – Masa Depan, terdiri tiga bab yakni Laras harmoni dalam sistem kekuasaan Jawa; Sri Sultan dan kekuatan populis; Tradisi ngabekten di Keraton Yogyakartta. Masih ada pengantar dan epilog : reformasi damai untuk rakyat.
Hal yang menarik dari buku ini adanya Lima Tekad Dasar yang disampaikan oleh Sultan Hamengku Buwono X. Pertama : untuk tidak mempunyai prasangka, rasa iri dan dengki serta tetap hangrengkuh siapapun, baik terhadap mereka yang senang maupun yang tidak senang, atau bahkan juga terhadap yang menaruh rasa benci sekalipun.
Kedua : untuk lebih banyak memberi daripada menerima; ketiga : untuk tidak melanggar paugeran Negara; keempat : untuk lebih berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah memang benar-benar salah; kelima : untuk tidak memiliki ambisi apapun selain senantiasa berusaha hanya bagi kesejahteraan rakyat. Lima Tekad Dasar itu terungkap dalam Pidato Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta pada tanggal 7 Maret 1989.
Sedangkan pada buku “Takhta untuk Ralyat:” setebal 505 halaman dengan penerbit Gramedia Pustaka Utama Jakarta, penulis Mohamad Roem, dkk. dan penyunting Atmakusumah mengisahkan antara lain : seluruh perjalanan kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX sejak dilahirkan di Keraton Yiofgyakarta, berjuang pada zaman kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, Orde lama, Orde Baru sampai kemudian dimakamkan di perbukitan Imogiri, Bantul, DIY.
Sebuah buku yang harus dibaca untuk dapat memahami mengapa warga masyarakat Yogyakarta yang selembut kain sutra berubah menjadi sekeras batu karang jika mereka merasa dipaksa dan ditekan. Bagaimanapun kekuasaan tradisional dengan legitimasi dan falsafah leluhur sarat mistik merupakan mata air perjuangan yang tidak pernah akan kering dan sekaligus tidak mungkin disurutkan.
Ada tiga bagian dalam buku tebal dan kaya foto ini. Ketiga bagian itu adalah Pak Sultan dari Masa ke Masa, Mengenal Sri Sultan dari Dekat, dan Perjalanan Terakhir Ngarsa Dalem. Tiga bagian itu diurai ke dalam 39 bab.
Salah satu bab ditulis oleh Mohammad Roem yang mengatakan, Apa yang akan terjadi dengan Republiik jika tidak ada Hamengku Buwono IX? Sebuah pemantik dan perenungan mendalam yang tidak mudah dijawab, dulu, kini, dan mendatang. (mar)











