bernasnews – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengalokasikan anggaran sebesar Rp160 juta dari Dana Keistimewaan (Danais) untuk penanganan konflik antara manusia dan kera ekor panjang yang meningkat di wilayah pesisir selatan.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya serangan kera yang berdampak pada lahan pertanian warga. Dalam beberapa waktu terakhir, kawanan kera dilaporkan aktif memasuki area pertanian dan menyebabkan kerugian pada hasil panen.
Program Pemberian Pakan di Zona Rawan
Program pemberian pakan mulai dilaksanakan sejak pertengahan Maret 2026. Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan DLH Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, menyampaikan bahwa distribusi pakan difokuskan pada wilayah dengan tingkat konflik tinggi.
Wilayah sasaran meliputi Kapanewon Tepus, khususnya Kalurahan Tepus, Sidoharjo, dan Purwodadi. Ketiga wilayah tersebut merupakan titik dengan intensitas kemunculan kera yang tinggi.
DLH menetapkan 15 titik lokasi pemberian pakan di tiga kalurahan tersebut. Setiap titik menerima suplai lima sisir pisang secara rutin.
“Berhubung belum musim panen singkong, saat ini kami rutin menyediakan lima sisir pisang di setiap titik,” ujar Adinoto.
Program ini bertujuan mengurangi pergerakan kera ke lahan pertanian dengan menyediakan sumber pakan alternatif di area tertentu.
Rencana Jangka Panjang: Restorasi Hutan Buah
Pemerintah menilai bahwa pemberian pakan hanya merupakan solusi sementara. Untuk penanganan jangka panjang, DLH menyiapkan program penanaman pohon buah di kawasan hutan.
Langkah ini bertujuan mengembalikan ketersediaan pakan alami di habitat kera sehingga dapat mengurangi potensi konflik dengan manusia.
Restorasi hutan buah diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi sektor pertanian warga.
Kondisi Lapangan dan Tantangan Penanganan
Di lapangan, peningkatan populasi kera menjadi salah satu faktor yang memperparah konflik. Di Kalurahan Purwodadi, tercatat terdapat sedikitnya 11 titik persembunyian kera yang aktif.
Ulu-Ulu Kalurahan Purwodadi, Suroyo, menyampaikan bahwa metode pengusiran tradisional sudah tidak efektif.
“Monyet sekarang semakin nekat. Cara lama sudah tidak mempan,” ujarnya.
Meski program pemberian pakan membantu mengurangi intensitas serangan, warga masih mengharapkan solusi yang lebih permanen untuk mengendalikan populasi kera secara sistematis.
Sinergi Penanganan dan Peran Masyarakat
Pemerintah mendorong keterlibatan masyarakat dalam penanganan konflik ini. Warga diminta melaporkan titik-titik baru persembunyian kera agar distribusi pakan dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Dengan dukungan Dana Keistimewaan, pemerintah menargetkan penanganan konflik antara manusia dan satwa liar dapat berjalan seimbang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Program ini diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus mendukung upaya konservasi satwa liar di wilayah Gunungkidul. (Eln)












