bernasnews – Belajar dan berkarya tulis bagi saya adalah sebuah karunia yang harus disyukuri dan patut dirawat dengan baik. Ada yang berpendapat bahwa orang yang rutin menulis belum tentu atau belum boleh disebut sebagai penulis. Sebaliknya, seorang penulis semestinya rajin atau banyak menulis.
Tentang pendapat pertama di atas, tentu akan ada pro dan kontra. Apakah sebutan penulis hanya boleh disematkan kepada mereka yang karyanya sudah terakomodasi di media umum atau tidak? Media umum dimaksud adalah media massa dan buku. Kalau tulisannya hanya sebatas dimuat di media internal atau media pribadi, apakah penciptanya belum layak disebut penulis?
Bagi saya sebagai pembelajar kepenulisan, mau dieebut sebagai penulis atau bukan, tidak masalah. Yang penting ketika sudah menyadari berapa pentingnya membaca dan menulis bagi orang yang ingin bertumbuh, itu sudah cukup. Bukankah setiap karya tulis yang dibaca orang lain, pesan atau atau gagasan penulis telah tersampaikan? Tentu semakin banyak orang yang membaca karya tulis itu, akan semakin baik.
Lalu kalau ada orang yang berkehendak begini : saya mau menulis asalkan termuat di media dan ada honornya, apakah hal ini tidak boleh atau tidak pantas? Tentu saja jawabnya boleh iya dan boleh tidak. Sebab setiap orang tidak sama dalam hal tertentu atau dalam banyak hal. Termasuk misal ketika naskahnya ditolak atau diterima, sejauh mana sikap si penulis. Apakah tetap semangat atau sebaliiknya.
Proses menjadi penulis, sebenatnya bukan waktu yang singkat atau hal mudah Bahwa tidak semua orang mau dan mampu membaca dan apalagi menulis, adalah sebuah keniscayaan. Bagi yang belum atau tidak tertarik bidang kepenulisan, diajak untuk membaca dan menulis tentu tidak akan segera gayung sambut. Sebaliknya, bagi mereka yang sudah tertarik, akan lebih ringan melangkahkan kaki.
Maka ketika langkah membaca dan menulis sudah dimulai dan berharap menjadi sebuah kebiasaan atau rutin dilakukan, salah satu upaya merawat semangat itu adalah dengan ikut atau masuk dalam komunitas literasi. Di dalam paguyuban para calon penulis atau penulis itu, anggota dapat saling belajar, saling menyemangati dan bertumbuh.
Sebagai pembelajar kepenulisan, penulis merasa senang dapat bergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan yakni Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA. Perkumpulan ini dibagi dalam tiga kelompok yakni tingkat provinsi, tingkat regional dan tingkat nasional. Setiap anggota berada dalam tiga kelompok itu. Penulis saat ini menjadi anggota SATUPENA di wilayah Pronvinsi DIY, regional Pulau Jawa dan sekaligus nasional.
Di WAG perkumpulan, setiap hari anggota dapat belajar atas karya tulis sesama penulis di tingkat provinsi maupun nasional. Ada puisi, cerpen, resensi buku, esai, aneka informasi di bidang kepenulisan, ajakan dan lomba menulis, sampai pertemuan daring tentang kepenulisan.
Sejak menjadi anggota SATUPENA, penulis telah ikut berkarya tulis paling tidak di tiga buah buku yakni Antologi Puisi SATUPENA DIY “Kabar dari Yogyakarta” (2022), “Cerita dari Yogya – kumpulan cerpen” (2026), dan “API Merdeka – Merdeka APA” – SATUPENA Jawa 2025 yang berisi kumpulan esai, puisi dan cerpen.
Semoga dinamika literasi atau kepenulisan di tanah air terus terjaga, bertumbuh dan bermanfaat bagi kehidupan bersama. (mar/Anto Margono, Pegiat Literasi).











