Nilai Hormat dan Budaya Sungkeman yang (Harus) Dilestarikan

Seorang ibu yang telah sepuh di dusun Windusari Lor, Windusari Bandongan Magelang saat menerima Sungkem dari salah satu putranya, Sabtu 21 Maret 2026.(.Z. Bambang Darmadi/ bernasnews)

bernasnews — Siasat apapun bisa dijalankan apabila suatu saat bisa datang ke rumah orang tua yang dianggap sudah sepuh (tua) untuk jongkok melakukan sungkeman. Hal semacam ini masih banyak dijumpai usai salat Idulfitri, seperti yang tampak di Dusun Windusari Lor, Windusari, Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu (21/3/2026).

Usai salat id bagi yang masih punya orang tua kesempatan ini dimanfaatkan oleh putra- putri dan para cucu, buyut langsung menghadap orang tua untuk melakukan sungkem dengan posisi jongkok, lutut ditekuk dan kedua tangannya diletakkan ke atas lutut orangtuanya sambil mengucap mohon maaf atas segala perbuatan yang dilakukan, sekaligus mohon berkah (Jawa: pangestu) untuk kehidupan ke depannya.

Kemudian biasanya orang tua yang di-sungkemi segera memberi jawaban dan memberikan pesan- pesan bijak tentang kehidupan (Jawa: pitutur). Kejadian semacam ini terlihat salah satu orang yang dituakan berada di Dusun Windusari Lor, saat menerima salah satu putranya dan pulang kampung-mudik dari Malang Jawa Timur untuk melakukan sungkem dihadapan orang tuanya usai salat Idulfitri.

Tampak saat sungkem, ibunya memberikan pesan-pesan sambil meneteskan air mata perlambang sebagai kegembiraan, keharuan anaknya bisa pulang kampung. Kejadian ala sungkem semacam ini mamang perlu dan harus terus dilestarikan. Pasalnya konteks ini merupakan nilai hormat pada orang tua dan nilai budaya luhur yang sudah ada sejak lama. (zbd)