Menakar Ulang Kemaslahatan MBG

Narasumber, Moderator dan Peserta Diskusi foto bersama usai acara diskusi Ruang Seminar FBE UAJY Selasa, 10 Maret 2026. (Foto: Kiriman Humas FBE UAJY)

bernasnews — Laboratorium Ekonomi Bisnis Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (LEB FBE UAJY) bekerja sama dengan Kantor Kemahasiswaan, Pusat Karier dan Alumni UAJY bersama CELIOS menyelenggarakan diskusi, dengan topik “Menakar Ulang Kemaslahatan MBG”, yang berlangsung di Ruang Seminar FBE UAJY Selasa, 10 Maret 2026.

Narasumber yang hadir dan menyajikan materi adalah Bhima Yudhistira Adinegara, Direktur Eksekutif CELIO, Jakarta; Aloysius Gunadi Brata, Guru Besar FBE UAJY, dan Fitri Nur Hidayati, Anggota PGSI DIY. Bertindak selaku moderator Pristanto Silalahi, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY.

“Diskusi tersebut juga dihadiri oleh sekitar 120 dosen dan mahasiswa FBE UAJY,” jelas Y. Sri Susilo, Plt. Humas FBE UAJY, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (14/3/2026)

Aloysius Gunadi Brata mengemukakan, bahwa makan bergizi merupakan Jaring Pengaman Global. Menurutnya, program makan siang di sekolah merupakan salah satu sistem perlindungan sosial terbesar di dunia, mencakup setidaknya 407,8 juta anak di 148 negara.

Lebih dari 100 negara telah bergabung dalam koalisi global dengan target ambisius, yakni menyediakan akses makanan bergizi bagi seluruh siswa pada tahun 2030,” ungkap Aloysius.

Ia juga menyatakan di tengah tantangan ekonomi dan keterbatasan sumber daya, perluasan program ini dipandang sebagai katalisator strategis. Program ini tidak hanya fokus pada nutrisi, tetapi juga dirancang untuk memberikan manfaat ganda dalam mencapai berbagai poin SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).

Program MBG (Makan Bergizi Gratis) memang berpotensi membantu anak-anak miskin (syaratnya ini dijalankan dengan sebenar-benarnya), tapi berdasarkan temuan Opportunity Atlas, dampaknya terhadap mobilitas sosial kemungkinan besar terbatas jika berdiri sendiri.

“Artinya, MBG membutuhkan dukungan agar terjadi mobilitas sosial, yakni: ekosistem lingkungan tempat anak tumbuh,” ungkap Aloysius, yang juga Kepala LEB FBE UAJY.

“MBG bisa menjadi fondasi yang perlu, tapi tidak cukup. Ia seperti memperbaiki bahan bakar mesin, sementara jalanan, peta, dan pengemudinya belum berubah,” tambahnya.

Menurut Aloysius, mobilitas sosial yang nyata mensyaratkan perubahan ekosistem lingkungan secara menyeluruh dan itulah yang paling sulit, paling mahal, sekaligus paling berdampak.

Sementara Bhima Yudhistira Adinegara menegaskan, bahwa program Makan Bergizi Gratis MBG digadang sebagai program unggulan pemerintahan Prabowo – Gibran. Pemerintah melalui Bappenas menyebut 4 tujuan utama MBG.

“Tujuan tersebut mencakup pemenuhan gizi kelompok rentan. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. MBG juga diharapkan mendorong ekonomi lokal. Program ini sekaligus diklaim mampu menciptakan lapangan kerja,” ujar Bhima.

Menurut Bhima, MBG membuat stok bahan pangan di distributor pertama terbatas. “Supply bahan pangan di pasar induk berkurang signifikan, padahal demand meningkat,” jelas Bhima. Kondisi tersebut dapat menjadikan, inflasi harga bahan pangan terjadi karena cost push dan demand pull terjadi bersamaan.

“Pada gilirannya, pedagang eceran, sektor rumah tangga dan UMKM menjadi korban terjadinya kenaikan harga atau inflai tersebut,” tegasnya.

Studi CELIOS (2025), menempatkan MBG di antara urgensi sosial dan tantangan tata kelola kebijakan. Temuan menunjukkan 79% responden menyadari adanya konflik kepentingan dalam penunjukan langsung vendor.

Sebanyak 73% orang tua lebih memilih bantuan langsung tunai dibandingkan MBG. Sebanyak 65% responden menyatakan tetap mengeluarkan uang tambahan untuk makanan pengganti MBG.

“CELIOS juga merekomendasikan 85% pengadaan barang jasa MBG wajib berasal dari UMKM, Koperasi dan produk lokal, agar menjamin dampak berganda bagi ekonomi di daerah,” tandas Bhima Yudhistira Adinegara, Direktur Eksekutif CELIOS.

Bhima Yudhistira Adinegara, Direktur Eksekutif CELIOS. (Foto: Kiriman Humas FBE UAJY)

Sementara itu Fitri Nur Hidayati mengungkapkan, sebagian siswa kurang cocok atau berselera dengan menu makanan yang disajikan oleh MBG. Dengan kondisi demikian maka ada sebagian siswa yang masih membawa bekal dan uang jajan.

Lebih lanjut Fitri juga mengakui bahwa terjadi beberapa kasus keracunan makanan MBG di beberapa sekolah. “Evaluasi pelaksanaaan MBG di sekolah harus dilakukan secara periodik agar menjadi semakin baik dari aspek menu dan tata laksana,” harap Fitri yang mewakili PGSI DIY.

Usai sesi tanya jawab, acara disksu diakhir dengan pemberian cindera mata untuk narasumber dan moderator yang diserahkan oleh AM Rini Setyastuti, Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY.

“Untuk diketahui acara diskusi, kuliah umum dan seminar diselenggarakan secara rutin setiap semester,” ujar Y. Sri Susilo. (*/ ted)