Berdayakan Ekonomi Desa Melalui Inovasi Budidaya dan Olahan Jamur Tiram

Pengembangan usaha budidaya dan pengolahan jamur tiram, di Desa Karangsari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program pengabdian yang berbasis potensi lokal.

Tim pengabdian masyarakat UMY menggulirkan program pemberdayaan ekonomi desa, dengan fokus pada pengembangan usaha budidaya dan pengolahan jamur tiram, di Desa Karangsari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, pada 12 Maret 2026.

Program ini tidak hanya menyasar peningkatan produktivitas jamur tiram, tetapi juga mendorong diversifikasi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan daya saing pasar. Desa Karangsari dipilih karena memiliki potensi agroklimat yang mendukung serta ketersediaan limbah serbuk gergaji dari industri kayu lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam jamur tiram.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Aris Slamet Widodo, dosen Program Studi Agribisnis UMY, bersama tim dosen dan mahasiswa. Dalam pelaksanaannya, program ini juga menggandeng Politeknik LPP Yogyakarta melalui keterlibatan Bahrul Ulum, M.Sc., ahli manajemen agribisnis, serta Puji Qomariyah, Sosiolog dari UWM, yang memberikan perspektif sosial-budaya dalam pengembangan pangan lokal.

Kolaborasi lintas institusi ini bermitra dengan BUMDes Mutiara Karangsari, guna memastikan keberlanjutan program dan penguatan kelembagaan ekonomi desa. Dalam program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pendampingan teknis budidaya, tetapi juga pelatihan pengolahan jamur tiram menjadi produk bernilai tambah seperti keripik jamur dan abon jamur tiram.

Teknologi tepat guna seperti mesin penggoreng keripik, mesin peniris minyak (spinner), dan mesin pengemas (band sealer) turut diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi.

Dr. Aris Slamet Widodo, Ketua Tim Pengabdian UMY mengemukakan bahwa, target peningkatan produktivitas budidaya jamur tiram hingga 30 persen serta lahirnya minimal dua produk olahan baru yang siap dipasarkan secara luas.

”Tidak hanya soal produksi, kami juga membekali masyarakat dengan manajemen usaha dan pencatatan keuangan sederhana agar usaha yang dikelola lebih profesional dan berkelanjutan,” kata Dr. Aris, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (14/3/2026)

Bahrul Ulum, M.Sc, ahli Manajemen Agribisnis, Politeknik LPP Yogyakarta menambahkan, pendampingan ini tidak berhenti pada penguasaan teknis produksi. Ia menekankan pentingnya tata kelola agribisnis yang terintegrasi, dari hulu ke hilir.

”Dengan penguatan manajemen usaha dan strategi pemasaran digital, produk jamur tiram Karangsari diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas dan kompetitif.” harap Bahrul.

Sementara itu, Puji Qomariyah Sosiolog UWM, memberikan analisisnya. Menurutnya, dari perspektif sosiologi budaya pangan, pengembangan jamur tiram bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga membangun kembali kesadaran kolektif masyarakat terhadap potensi lokal.

”Pendekatan partisipatif dalam program ini menjadi kunci agar inovasi yang diperkenalkan dapat diterima dan dilestarikan sebagai bagian dari budaya pangan masyarakat.” ungkap Puji.

Program ini merupakan bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (DRP UMY) Tahun Anggaran 2026.

Pendanaan ini menjadi bukti nyata komitmen UMY dalam mendorong riset terapan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Bukan sekadar transfer teknologi, tetapi pintu menuju kemandirian ekonomi yang berakar pada potensi desa.

Ketika serbuk gergaji yang selama ini terabaikan berubah menjadi media tanam subur, dan jamur tiram yang sederhana menjelma menjadi produk bernilai tinggi, di situ sesungguhnya makna pembangunan yang berkeadilan mulai bersemi.

”Sinergi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi fondasi bagi agribisnis yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan,” pungkas Puji. (*/ nun)