News  

Ajakan untuk Semakin Peduli dan Memiliki Tanggung Jawab Sosial

Seorang biarawati sedang memberikan layanan kesehatan khususnya lansia. (Foto : Ilustrasi cover booklet panduan lingkungan APP 2026).

bernasnews – Pertemuan demi pertemuan, dari keseluruhan lima pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) dalam masa Prapaskah 2026 khususnya di Keuskupan Agung Semarang (KAS), umat Katolik diajak bersama Gereja berjuang menghadirkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Khusus untuk pertemuan III pada pekan kedua Maret 2026, umat diajak untuk semakin peduli dan memiliki tanggung jawab sosial.

Setiap ajakan khususnya yang baik tentu mengandung alasan dan tujuan. Apa alasan dan tujuan untuk ajakan pada pertemuan III APP itu? Jawabannya dapat bersifat pribadi masing-masing orang, dan atau dapat melihat kenyataan sosial yang ada di masyarakat.

Secara pribadi, kita dapat bertanya di relung hati paling dalam dan secara jujur yakni apakah kita memiliki kepedulian sosial kepada sesama di masyarakat, paling tidak di lingkungan terdekat? Benarkah kita masih belum dapat meninggalkan sikap ketidakpedulian kita? Kemudian apakah kita mau dan mampu mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari lingkungan dan masyarakat.

Secara lebih luas dalam masyarakat, bagaimana kepedulian warga kepada sesama insan manusia dan makhluk hidup lainnya? Bagaimana tanggung jawab sosial warga masyarakat. Kita dapat mengamati dan merasakan sendiri, minimal di lingkungan setempat, kepedulian dan tanggung jawab sosial itu ada. Namun, sejauh mana perkembangannya? Sejauh mana nyata, tulus, dan penuh keikhlasan?

Pinjam istilah Gereja sebagaimana tertulis dalam kitab suci Lukas tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin, “Lazarus-Lazarus” di masyarakat yakni mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, difabel, sakit dan terlupakan adalah “siapa yang dituju” atau sasaran untuk kepedulian sosial itu. Keengganan menggunakan sumber daya yang kiita miliki untuk orang lain, masuk dalam kategori dosa ketidakpedulian. Mengapa? Kiranya akan berdampak negatif bila tidak dilaksanakan, dan berdampak positif bila dilaksanakan.

Lalu yang dimaksud “sumber daya” manusia yang kita miliki itu apa? Menurut Tim APP 2026 KAS, hal itu adalah kesehatan, pengetahuan dan jejaring, selain tentu saja harta bagi yang memiliki. Sumber daya itu semestinya dimanfaatkan untuk menghadirkan kebaikan terutama bagi mereka yang membutuhkan. Artinya, kalau harta belum atau kurang dimiliki, kita dapat berbagi dalam hal kesehatan, pengetahuan dan jejaring.

Ada tiga keteladanan yang dapat dipetik dan dipraktekkan secara pribadi atau komunitas dari kisah Lazarus dan orang kaya itu. Pertama, kisah itu mengajarkan kita akan pentingnya kepedulian dan kasih kepada sesama. Kedua, kita dipanggil untuk menjadi tangan Tuhan yang penuh belas kasih. Ketiga, sumber daya yang kita miliki adalah titipan Tuhan. Hal itu harus dapat dimanfaatkan untuk memberkati sesama dan agar berdampak positif.

Harus diakui, seringkali kita sebagai pribadi dan sebagian warga masyarakat justru menghindari dari tugas tanggung jawab untuk memperhatikan sesama yang membutuhkan. Ini harus diperlihatkan dan dibenahi agar tercipta hubungan antarinsan dengan baik dan bermakna.

Dari pertemuan APP pertama sampai kelima, kita diajak untuk belajar, merefleksi, dan mempraktekkan ajakan dan ajaran Tuhan yakni menolong sesama. Sehingga masyarakat yang bahagia dan sejahteraa itu dapat terwujud. (Anto Margono, pegiat literasi)