bernasnews – Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mencatat sebanyak 90 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi selama Januari hingga Februari 2026.
Meskipun jumlah tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Perubahan kondisi cuaca, lingkungan, serta kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan dinilai masih berpengaruh terhadap potensi penyebaran penyakit tersebut. Karena itu, pemerintah daerah terus mengingatkan warga agar tidak mengabaikan langkah-langkah pencegahan.
Upaya menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi potensi tempat berkembang biaknya nyamuk dinilai menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran kasus DBD di wilayah Gunungkidul.
Kasus DBD Januari–Februari 2026 Sebanyak 90 Kasus
Dinas Kesehatan Gunungkidul melaporkan total 90 kasus DBD terjadi selama dua bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut terdiri dari 60 kasus yang ditemukan pada Januari dan sekitar 30 kasus tambahan pada Februari.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, mengatakan bahwa tren kasus DBD pada awal tahun ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Secara total Januari dan Februari 2026 ada 90 kasus. Ini jauh turun dibandingkan kasus yang sama pada 2025 lalu,” ujar Wanda.
Sebagai perbandingan, pada Januari 2025 tercatat sebanyak 396 kasus DBD di Gunungkidul. Jumlah tersebut kemudian bertambah dengan 185 kasus pada Februari 2025.
Perbandingan data tersebut menunjukkan adanya penurunan cukup signifikan pada awal tahun 2026.
Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran penyakit tersebut.
Tidak Ada Laporan Kematian Akibat DBD
Di tengah puluhan kasus yang tercatat pada awal tahun ini, Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan tidak ada laporan kematian akibat DBD.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasien yang terinfeksi dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski tidak ada korban meninggal, masyarakat tetap diminta untuk tidak mengabaikan risiko penyakit tersebut.
Menurut Wanda, potensi penyebaran DBD masih dapat terjadi apabila masyarakat tidak menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.
“Tetap harus diwaspadai dan salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam pencegahan adalah dengan terus menjaga kebersihan lingkungan,” ungkapnya.
Sosialisasi Pencegahan Melalui Program Germas
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya pencegahan untuk menekan angka kasus DBD.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kegiatan sosialisasi kepada masyarakat melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Program tersebut melibatkan kader kesehatan hingga tingkat kalurahan agar pesan mengenai pencegahan penyakit dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari.
Ismono menekankan bahwa penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan serta mencegah berbagai penyakit menular, termasuk DBD.
“Penerapan PHBS serta rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi sangat penting untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah terserang penyakit,” jelasnya.
Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Terus Didorong
Selain sosialisasi, pemerintah juga terus mendorong masyarakat untuk aktif melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Upaya tersebut dilakukan dengan memantau berbagai lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Petugas kesehatan bersama masyarakat secara berkala melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di sejumlah tempat penampungan air.
Pemerintah menargetkan angka bebas jentik minimal mencapai 95 persen untuk menekan populasi nyamuk penyebab DBD.
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat antara lain menutup rapat tempat penampungan air, menguras bak mandi secara rutin, serta mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Upaya tersebut dikenal dengan gerakan 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.
Jika langkah tersebut dilakukan secara konsisten oleh masyarakat, maka peluang nyamuk untuk berkembang biak dapat ditekan.
Peran Masyarakat Dinilai Penting dalam Pencegahan
Dinas Kesehatan Gunungkidul menilai keberhasilan menekan penyebaran DBD tidak hanya bergantung pada program pemerintah.
Peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan.
Lingkungan rumah yang bersih serta kebiasaan hidup sehat dinilai dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.
Ismono berharap masyarakat tetap berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan melaksanakan langkah-langkah pencegahan.
“Ini penting agar pencegahan terhadap penyebaran penyakit DBD bisa terus ditekan. Jadi, upaya penanggulangan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi warga juga harus ikut berperan aktif agar upaya pencegahan maksimal,” tegasnya.
Dinas Kesehatan berharap dengan kewaspadaan masyarakat serta upaya pencegahan yang terus dilakukan, penyebaran kasus DBD di Gunungkidul pada tahun 2026 dapat semakin terkendali. (Eln)











