bernasnews – Buku cerita “Purnama Berdarah” merupakan karya perdana tulisan cerita berbentuk buku dari penulis muda asal Yogyakarta, bernama Galih Satria Hutama, yang berprofesi sebagai PNS di Komisi Pemelihan Umum (KPU) Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.
Hobi menulisnya menurun dari ayahnya, seorang karyawan yang puluhan tahun mendedikasikan di Harian Bernas, Yogyakarta dan almarhum kakeknya (dari ayahnya) seorang purnawirawan POLRI, yang juga seorang penulis dimana artikelnya banyak menghiasi berbagai majalah berbahasa Jawa juga SKH Kedaulatan Rakyat.
Galih Satria Hutama sudah nampak memiliki imajinasi dan daya khayalan yang tinggi ketika duduk di bangku kelas 4 SD, dengan karya cerpennya yang dimuat di majalah Teratai, milik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Yogyakarta. Dari karyanya itu telah dapat menambah uang sakunya, yang dikirim oleh instansi tersebut melalui sekolahan SDN. Panembahan.
Kekinian sebagai penulis muda, penanya semakin tajam, dengan karya-karya artikel opini kritis yang dimuat di beberapa media cetak koran dan media online tertanama. Juga cerita-cerita ringan tentang kehidupuan yang lebih seperti dongeng, rutin menghiasi media online ternama dari ibu kota.
Buku cerita “Purnama Berdarah” diterbitkan oleh Penerbit Nasmedia (PT. Nas Media Indonesia), Anggota IKAPI No.081/SSI/2018. Buku dengan ISBN 978-634-205-821-3 ini terdiri dari 118 halaman, yang terbagi Kata Pengantar, Daftar Isi, Epilog, Sinopsis, dan Tentang Penulis.
Sementara daftar isi meliputi judul, Mantili, Senyap yang Menyimpan Rahasia (Halaman 1), Tragedi di Malam Bulan Purnama (Halaman 12), Pencarian Ranu (Halaman 36), Dendan yang Belum Terungkap (Halaman 51), Jangan Buka Pintu Saat Bulan Purnama (Halaman 65), Purnama Terakhir Mantili (Halaman 77).
Buku ini bukan sekadar horor namun oleh penulisnya dibalut dengan keharuan cinta seorang nenek terhadap cucu satu-satunya yang tak pernah padam. Ini adalahcerita tentang keadilan yang menuntut balas saat purnama menggantung di langit dan kebenaran yang akhirnya mengguncang seluruh desa.
Bulan purnama yang semestinya indah dipandang mata, menjadi latar belakang tragedi di sebuah pedesaan. Aroma bunga melati, kenanga dan anyir darah yang menyeruak mejadi tanda hadirnya sosok tak kasat mata. Pemuda desa pun lenyap satu persatu, dan rahasia kelam mulai terkuak.
Di balik kemunafikan seorang duda kaya, di balik bisikan malam, dan di balik ketakutan dan kengerian merambat di setiap pintu terkunci, tersimpan sebuah dendam yang tak main-main. Buku cerita “Purnama Berdarah”, bisa didapatkan di marketplace Shopee. Sebuah buku bacaan yang cukup renyah bagi penggemar cerita misteri. (ted)











