Strategi Mengelola Karir Secara Proporsional: Tips Memutus Mata Rantai Ketamakan dari M. Nur Kholis Setiawan

Mengacu pada Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athillah as-Sakandari, khususnya Hikmah ke-65, M. Nur Kholis Setiawan memaparkan bahwa kemerdekaan sejati seseorang ditentukan oleh sejauh mana ia mampu memutus ketergantungan hatinya dari hal-hal duniawi. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

bernasnews.com – Dalam mengejar karir dan jabatan, seringkali seseorang terjebak dalam ambisi yang tidak terkendali atau ketamakan. Kondisi ini menurut M. Nur Kholis Setiawan bukan hanya merusak integritas, tetapi juga menghinakan martabat kemanusiaan. Mengacu pada Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athillah as-Sakandari, khususnya Hikmah ke-65, M. Nur Kholis Setiawan memaparkan bahwa kemerdekaan sejati seseorang ditentukan oleh sejauh mana ia mampu memutus ketergantungan hatinya dari hal-hal duniawi.

M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa ketamakan terhadap posisi, harta, maupun popularitas akan mengubah status seseorang menjadi “budak” dari hal yang ia kejar tersebut. Sebaliknya, jika seseorang mampu memutus harapan berlebih (pedot), maka ia akan menjadi sosok yang merdeka.

Tips Menerapkan Sikap Proporsional dalam Karir

Untuk membantu para profesional tetap berada di koridor yang sehat dalam meniti karir, M. Nur Kholis Setiawan memberikan beberapa poin strategi manajemen diri sebagai berikut:

1. Manajemen Angan-angan agar Tetap Rasional

Ketamakan seringkali bermula dari impian yang melampaui batas kewajaran. M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya menjaga agar target karir tetap masuk akal.

“Akar dari tamak adalah angan-angan yakni impian-impian yang tidak rasional, impian-impian yang mengalahkan akal sehat,” tegasnya.

Dengan menjaga akal sehat, seseorang tidak akan mudah tergiur untuk menghalalkan segala cara demi mencapai jabatan tertentu.

2. Memutus Ketergantungan Emosional terhadap Jabatan

Seseorang harus mampu memposisikan diri untuk tidak menjadikan jabatan sebagai segala-galanya. M. Nur Kholis Setiawan menyarankan sikap ora ngreken (tidak terlalu menghiraukan secara berlebihan) agar hati tetap bebas. Ketika hubungan emosional yang haus akan jabatan itu diputus, maka beban psikologis akan hilang, dan seseorang bisa bekerja dengan lebih tulus.

3. Menjadikan Pekerjaan sebagai Sarana Khidmat (Pelayanan)

M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan agar setiap posisi yang diduduki harus dilandasi dengan niat atau nawaitu untuk berkhidmat. Jabatan bukan untuk dibanggakan secara personal atau dipamerkan demi popularitas (hungry of popularity), melainkan difungsikan sebagaimana mestinya untuk kebaikan.

4. Memahami Konsep Rezeki yang Sudah Terbagi (Rizqun Maqsum)

Setiap orang telah memiliki porsi rezeki dan bagiannya masing-masing yang telah diatur oleh Tuhan. Dengan meyakini konsep ini, seseorang tidak akan merasa perlu berebut atau merasa iri dengan pencapaian rekan kerja lainnya. Jika mendapatkan amanah, hal itu disyukuri, dan jika tidak, ia tidak akan merasa kehilangan.

5. Menghindari Kutub Ekstrem dalam Bekerja

Sikap proporsional berarti tidak berada di “ekstrem kanan” (menghamba sepenuhnya pada dunia) dan tidak di “ekstrem kiri” (meninggalkan dunia secara total). M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan, “Batasan yang semestinya kita lakukan adalah manajemen diri yang memadai, di mana ajaran sufistik ini memberikan kita ruang untuk bersikap senantiasa proporsional.”

Bahaya Menjadi Budak Popularitas dan Jabatan

M. Nur Kholis Setiawan memperingatkan bahwa sekali seseorang masuk ke dalam jerat ketamakan, ia akan kehilangan kemerdekaannya. Fenomena haus popularitas di dunia kerja, misalnya, membuat seseorang akan merasa “sakit” jika tidak mendapatkan perhatian atau pengakuan.

“Jangan sekali-kali kemudian kita tamak terhadap sesuatu karena begitu kita tamak akan sesuatu kita akan menjadi budaknya,” ujarnya.

M. Nur Kholis Setiawan ini mengajak setiap profesional untuk kembali melakukan introspeksi diri. Kemerdekaan karir bukan berarti tidak memiliki jabatan tinggi, melainkan memiliki jabatan namun tidak membiarkan jabatan tersebut mengendalikan hati dan pikiran. Dengan menerapkan manajemen diri yang baik, setiap orang dapat menjalankan amanahnya dengan penuh martabat tanpa harus terjatuh ke dalam jurang kehinaan akibat ketamakan.