bernasnews – Malam Lailatul Qadar selalu menjadi momen yang paling dinantikan umat Islam setiap bulan Ramadan. Dalam ajaran Islam, malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik daripada 1.000 bulan.
Artinya, setiap amal kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut akan dilipatgandakan pahalanya melebihi ibadah selama puluhan tahun.
Keistimewaan ini tidak lepas dari peristiwa agung yang terjadi di dalamnya, yaitu turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa monumental ini menjadikan Lailatul Qadar sebagai malam penuh kemuliaan, rahmat, dan keberkahan.
Allah SWT menegaskan kemuliaan malam ini dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Qadr ayat 1–3, bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan dan pada malam itu para malaikat turun membawa ketetapan atas segala urusan.
Lalu, seperti apa ciri-ciri malam Lailatul Qadar menurut hadis? Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Terjadi di Sepuluh Malam Terakhir, Khususnya Malam Ganjil
Rasulullah SAW memberikan petunjuk jelas tentang waktu datangnya Lailatul Qadar. Dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.”
Artinya, malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan menjadi waktu yang paling dianjurkan untuk meningkatkan ibadah. Meski demikian, tidak ada kepastian tanggal tertentu, sehingga umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir.
2. Malam Terasa Tenang, Tidak Panas dan Tidak Dingin
Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan bahwa suasana malam Lailatul Qadar terasa sejuk dan menenangkan. Tidak panas menyengat, juga tidak terlalu dingin. Cuacanya stabil dan damai.
Hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani menyebutkan bahwa malam tersebut terang, tidak berawan, tidak turun hujan, dan tidak ada angin kencang.
Ketenangan ini bukan hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara batin. Banyak orang merasakan kedamaian hati yang berbeda dari malam-malam biasanya. Suasana ibadah pun terasa lebih khusyuk.
3. Langit Bersih dan Tidak Hujan
Ciri lain yang disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad bin Hanbal adalah langit malam Lailatul Qadar tampak bersih. Tidak mendung, tidak hujan, dan udara terasa nyaman.
Bintang-bintang juga disebut tidak tampak jelas, seolah langit terlihat tenang tanpa gangguan. Keadaan ini menjadi salah satu tanda yang sering diperhatikan umat Islam dalam mengamati malam-malam terakhir Ramadan.
4. Matahari Terbit dengan Cahaya Lembut
Tanda Lailatul Qadar tidak hanya terlihat pada malam harinya, tetapi juga pada pagi setelahnya. Dalam hadis riwayat Muslim ibn al-Hajjaj disebutkan bahwa matahari terbit dalam keadaan tidak menyengat.
Cahayanya lembut, tidak silau, dan tampak indah seperti bulan purnama. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa matahari pagi itu bersinar tanpa pancaran sinar yang tajam.
Fenomena ini sering dijadikan petunjuk tambahan untuk mengenali apakah malam sebelumnya adalah Lailatul Qadar.
5. Bulan Tampak Seperti Separuh Lingkaran
Sahabat Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menggambarkan bulan pada malam tersebut tampak seperti separuh nampan atau setengah lingkaran.
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj. Gambaran bulan separuh ini menjadi salah satu tanda yang disebutkan dalam diskusi para sahabat tentang Lailatul Qadar.
Namun, perlu dipahami bahwa tanda-tanda ini tidak selalu harus muncul bersamaan. Para ulama menjelaskan bahwa ciri-ciri tersebut bisa berbeda sesuai kondisi wilayah.
6. Turunnya Malaikat ke Bumi
Keistimewaan terbesar malam Lailatul Qadar adalah turunnya para malaikat ke bumi dengan membawa rahmat dan keberkahan. Bahkan Malaikat Jibril turut turun atas izin Allah SWT.
Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Qadr ayat 4 yang menyebutkan bahwa malaikat dan Ruh (Jibril) turun untuk mengatur segala urusan pada malam tersebut.
Malam itu diyakini penuh kedamaian hingga terbit fajar. Banyak ulama menyebut bahwa pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, menjadi momentum emas bagi setiap Muslim untuk memohon ampunan.
7. Dianjurkan Memperbanyak Ibadah dan Itikaf
Karena keutamaannya yang luar biasa, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Salah satu amalan utama adalah itikaf, yakni berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah.
Dalam risalah karya Al-Ghazali berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali, dijelaskan adab itikaf antara lain:
- Memperbanyak dzikir
- Menghindari percakapan yang tidak perlu
- Tidak berpindah-pindah tempat
- Mengendalikan hawa nafsu
- Fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah
Itikaf menjadi sarana terbaik untuk meraih Lailatul Qadar karena seseorang benar-benar memusatkan hati dan pikirannya untuk ibadah.












