bernasnews– Gemuruh Sungai Oya pada Selasa (24/2/2026) meninggalkan trauma bagi warga di Padukuhan Wunut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, terutama satu keluarga yang tinggal tepat di belakang bangunan Musala Adzikri.
Musala yang selama ini menjadi pusat ibadah dan kebersamaan warga itu runtuh setelah tebing di bantaran Sungai Oya terkikis derasnya arus air.
Dampak Erosi Sungai Oya
Asrofi (60), warga yang rumahnya berada paling dekat dengan lokasi longsor, mengaku terus khawatir. Ia kini mulai mengemasi perlengkapan penting sebagai langkah antisipasi jika erosi kembali terjadi.
“Jelas waswas. Apalagi kalau hujan terus, ada angin dan banjir. Kami yang sangat dekat dengan lokasi bencana ini jelas khawatir. Hujannya juga masih terus,” ujar Asrofi saat ditemui di kediamannya, Kamis (26/2/2026).
Ia bersama keluarganya sebenarnya ingin segera mengungsi. Namun, ia menilai posisi rumahnya untuk sementara masih relatif aman karena tidak berada tepat di bibir tebing yang longsor. Meski demikian, ia telah menyiapkan rencana darurat.
Jika kondisi memburuk, Asrofi berencana mengungsi ke arah timur, mendekati wilayah Batu Gede di Ngeposari. Di sana saudaranya memiliki rumah kosong yang bisa ia tempati sementara. Alternatif lain, ia akan menumpang di rumah anaknya yang berada di lokasi lebih tinggi.
Ia bahkan sudah mengumpulkan perlengkapan memasak dan kebutuhan dasar rumah tangga. Semua barang itu ia siapkan agar bisa langsung diangkut kapan saja jika erosi susulan terjadi.
“Kami sudah siapkan barang-barang penting. Kalau sewaktu-waktu harus pergi, tinggal bawa saja,” katanya tegas.
Asrofi masih mengingat jelas detik-detik musala itu ambrol. Malam itu, ia dan sekitar 50 jemaah baru saja menyelesaikan Salat Isya dan bersiap melaksanakan Tarawih. Tiba-tiba, suara keras memekakkan telinga terdengar dari arah belakang.
“Waktu mau tarawih itu terdengar suara ‘tuooor’. Jemaah langsung minta pindah. Kami pindah ke teras rumah saya untuk melanjutkan tarawih,” ungkapnya.
Keesokan malamnya, warga melaksanakan salat di rumah kosong milik saudaranya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi musala.
Musala kecil yang dibangun secara swadaya pada 2014 itu berdiri di atas tanah milik Asrofi. Saat awal pembangunan, jarak antara bangunan dan tebing sungai mencapai sekitar 20 meter. Area tersebut bahkan penuh pepohonan jati dan mahoni yang membuat suasana rindang.
Namun, banjir yang berulang kali datang perlahan menggerus tebing. Beberapa pohon hanyut terbawa arus, sebagian lain ditebang karena terancam tumbang.
Kini, jarak dari rumah Asrofi ke bibir tebing bahkan tak sampai 10 meter. Erosi Sungai Oya terus memangkas daratan, menyisakan ketakutan yang setiap hari mengintai.
Bencana yang Datang Mendadak
Nurmiyati (30), warga lain yang ikut melaksanakan Salat Isya malam itu, juga merasakan kepanikan serupa. Ia mengaku sempat melihat retakan tanah di sekitar musala sejak siang hari sebelum kejadian.
Warga sebenarnya telah menurunkan genteng musala sebagai langkah pencegahan karena khawatir bangunan akan runtuh.
“Siangnya genteng sudah diturunkan. Malamnya waktu Isya, tiba-tiba terdengar suara keras. Selesai salat, orang-orang langsung lari keluar,” tuturnya.
Setelah mendengar suara gemuruh susulan, jemaah berhamburan meninggalkan musala demi menyelamatkan diri. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Kini, hampir sepertiga bangunan musala ambrol. Warga memutuskan menghentikan seluruh aktivitas ibadah di lokasi tersebut. Untuk sementara, jemaah Tarawih berpindah ke wilayah Kedungmiri di sebelah barat.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan, baik berupa penguatan tebing maupun relokasi jika situasi semakin berbahaya. Mereka tidak ingin menunggu korban jatuh.
Di tengah ancaman erosi Sungai Oya di Imogiri Bantul, warga Wunut kini hidup dalam kewaspadaan. Mereka tidak hanya kehilangan tempat ibadah, tetapi juga ketenangan.
Suara sungai yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kini berubah menjadi pengingat bahwa alam bisa mengambil apa saja dalam sekejap.
Di balik rasa takut itu, solidaritas warga tetap menyala. Mereka saling membuka pintu, berbagi ruang, dan menguatkan satu sama lain.
Bagi Asrofi dan keluarganya, bertahan bukan berarti tanpa persiapan. Ia memilih tetap tinggal sembari bersiap pergi kapan saja. Ia menggenggam satu harapan sederhana: semoga tidak ada lagi yang ambrol dan semua tetap selamat. (ef linangkung)












