News  

Musala Adzikri Ambrol Diterjang Erosi Sungai Oya saat Tarawih, Jemaah Berlarian Selamatkan Diri

Musala Adzikri Ambrol/Foto: Istimewa

bernasnews– Hujan deras yang mengguyur wilayah Padukuhan Wunut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Selasa (24/2/2026) malam, membuat panik warga.

Di tengah kekhusyukan salat tarawih, Musala Adzikri yang berdiri tak jauh dari aliran Sungai Oya mendadak ambrol setelah tebing di bawahnya tergerus erosi.

Jemaah yang tengah menunaikan ibadah sontak menghentikan salat. Mereka mendengar suara gemuruh keras dari arah belakang bangunan. Tanpa komando, para jemaah berlarian keluar menyelamatkan diri sebelum bagian musala benar-benar runtuh.

Kronologi Musala Adzikri Ambrol

Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, menceritakan detik-detik mencekam tersebut. Ia menyebut, musala kecil itu rutin digunakan warga sekitar untuk tarawih selama Ramadan.

“Musala itu kecil, paling sekitar 50-an jemaah yang menggunakan tempat ibadah itu. Saat salat tarawih berlangsung, jemaah mendengar suara gemuruh sehingga bergegas lari meninggalkan musala,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kepanikan berubah menjadi rasa syukur ketika seluruh jemaah berhasil keluar dengan selamat.

Titik menjelaskan, hampir sepertiga bangunan Musala Adzikri ambrol karena erosi tebing yang berbatasan langsung dengan aliran Sungai Oya. Kondisi tanah yang labil membuat bangunan tak lagi mampu bertahan setelah diguyur hujan deras berhari-hari.

Untuk sementara, warga memindahkan lokasi tarawih ke Musala Kedungmiri yang berada sekitar 700 meter di sebelah barat lokasi kejadian. Warga memilih lokasi tersebut demi keamanan dan ketenangan beribadah.

“Jadi, saat ini musala tidak bisa digunakan sebagai tempat tarawih. Nanti jemaah salat tarawih di Kedungmiri di sebelah barat,” katanya.

Keputusan itu memberi rasa aman bagi warga, terutama karena kondisi tebing masih berpotensi mengalami longsor susulan.

Selain itu, kekhawatiran lain muncul. Sebuah rumah warga berdiri hanya sekitar lima meter di sebelah utara musala. Meski relatif lebih aman, keluarga yang menghuni rumah tersebut tetap waspada.

“Ada satu rumah yang jaraknya sekitar lima meter dari musala itu. Rumah itu di sebelah utara musala, tetapi relatif lebih aman. Jadi, rumah itu masih ditempati oleh penghuninya,” jelas Titik.

Pemerintah kalurahan kini melakukan kajian mendalam terhadap kondisi tanah di sekitar lokasi. Titik menilai, kontur tanah di wilayah itu mirip dengan titik longsor yang sempat memutus akses jalan di dekat desa wisata Srikeminut beberapa waktu lalu.

Di area tersebut, terdapat sekitar lima kepala keluarga yang tinggal tak jauh dari bibir sungai. Pemerintah setempat masih melakukan pendalaman untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Kalau memang membahayakan, kami akan upayakan evakuasi. Yang jelas, lokasi itu tidak menjadi tempat bermain anak, sehingga relatif aman,” tegasnya.

Abrasi Sungai Oya Terus Menggerus Tebing

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Mujahid Amruddin, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ambrolnya Musala Adzikri.

Ia menjelaskan, jarak awal bangunan musala dengan bibir Sungai Oya sebenarnya lebih dari dua meter. Namun, aliran sungai yang terus menggerus tebing saat hujan deras membuat jarak tersebut semakin menyempit hingga mencapai titik kritis.

“Awalnya jaraknya lebih dari dua meter dengan bibir Sungai Oya, tetapi semakin lama semakin dekat dengan titik terluar longsoran tebing karena terus tergerus aliran sungai saat hujan,” ungkapnya.

Sehari sebelum kejadian, warga bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan BPBD sempat melakukan langkah antisipasi dengan menurunkan genteng serta kayu atap untuk diamankan. Mereka sudah mencium potensi longsor yang semakin nyata.

Hasil asesmen sementara menunjukkan tebing Sungai Oya yang longsor memiliki ketinggian sekitar dua hingga tiga meter dengan lebar mencapai 100 meter. Mujahid menegaskan, longsor tidak terjadi secara tiba-tiba.

“Sejak November hingga sekarang hujan terus-menerus turun. Terjadi bencana hidrometeorologi yang membuat abrasi Sungai Oya ke arah utara semakin parah,” tandasnya.

Pemerintah kalurahan telah menyiapkan surat tembusan kepada Pemerintah Kabupaten Bantul dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak guna mencari solusi penanganan tebing Sungai Oya. (ef linangkung)