bernasnews.com – Memiliki cita-cita adalah motor penggerak hidup, namun tanpa langkah konkret, cita-cita tersebut hanyalah fatamorgana. Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan, dalam ulasan hikmah ke-81 Kitab Al-Hikam, memberikan panduan praktis mengenai bagaimana memanifestasikan harapan sejati (ar-raja’) melalui ikhtiar nyata agar tidak terjatuh dalam kategori angan-angan kosong atau yang akrab disebut masyarakat modern sebagai “halu” (umniyatun).
Ia menegaskan bahwa dalam dunia sufistik, legitimasi sebuah harapan sangat bergantung pada aktivitas yang menyertainya. Harapan bukan sekadar keinginan kuat di dalam hati, melainkan dorongan yang membangkitkan kesungguhan untuk melakukan sesuatu secara fisik dan mental.
Manifestasi Ikhtiar: Contoh Nyata dalam Kehidupan
Untuk memperjelas perbedaan antara harapan sejati dan lamunan kosong, Prof. M. Nur Kholis Setiawan memaparkan beberapa contoh nyata yang relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari dan dunia profesional:
Pencapaian Jabatan Strategis (Konteks ASN)
Dalam dunia birokrasi, seseorang yang berharap menduduki Jabatan Tinggi Pratama atau Madya harus menunjukkan ikhtiar yang terukur. Bentuk nyatanya adalah dengan berpartisipasi aktif dalam proses lelang jabatan dan membuktikan dedikasi melalui kinerja harian yang terbaik. Beliau menyatakan:
“Orang tersebut juga akan ikut partisipasi melalui proses lelangnya, dia akan menjadi terbaik di dalam kinerja yang dia lakukan tiap harinya, kemudian dia mengikuti proses tadi dengan upaya yang semaksimal mungkin.”
Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan
Keinginan untuk menjadi kaya atau sukses secara finansial tidak boleh hanya berhenti pada doa. Ikhtiar nyatanya adalah dengan bekerja keras dan mencari peluang, bukan justru memperbanyak tidur. Beliau memberikan kritik tajam bagi mereka yang terjebak lamunan:
“Pengin kaya tidur mulu, hanya doa mulu, ya susah… itu hanya halu aja gitu, bukan harapan yang sejati.”,
Pencapaian Prestasi yang Membanggakan
Seseorang yang mengharapkan prestasi di bidang apa pun harus terlibat langsung dalam proses yang mendukung prestasi tersebut. Contoh konkretnya adalah berlatih dengan konsisten, mengikuti kompetisi, dan tidak menyerah pada kegagalan awal.
Perbaikan Karakter dan Spiritual
Menjadi “orang baik” atau “orang bermanfaat” juga memerlukan ikhtiar nyata. Ini dilakukan dengan melakukan aktivitas-aktivitas positif dan menjauhi perbuatan yang kontraproduktif seperti maksiat atau dosa yang justru melemahkan kesungguhan seseorang untuk mewujudkan harapannya,.
Logika Pencarian: Siapa yang Berharap, Dia yang Mencari
Prof. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa secara logis, seseorang yang benar-benar mengharapkan sesuatu pasti akan bergerak untuk mendapatkannya. Beliau menggunakan istilah tholabahu (mencari) untuk menggambarkan tindakan tersebut.
“Karena sesungguhnya orang yang mengharapkan sesuatu, dia akan cari… orang yang mengharapkan sesuatu pasti akan mengupayakannya, akan mengejarnya sampai mendapatkan sesuatu tadi itu,” ujarnya.
Sebaliknya, jika seseorang mengaku takut akan kegagalan atau kemiskinan namun tidak melakukan upaya untuk menghindarinya, maka pengakuannya tersebut diragukan. Hal ini sama logisnya dengan seseorang yang takut pada ular pasti akan lari menghindarinya.
Keseimbangan Antara Upaya Maksimal dan Doa
Meskipun menekankan pada ikhtiar fisik, Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan pentingnya dimensi spiritual sebagai penyeimbang. Tanpa doa, usaha keras rentan membuat manusia menjadi takabur atau sombong karena merasa hasil yang didapat adalah murni kekuatannya sendiri,.
Di sisi lain, doa dan kepasrahan (tawakal) berfungsi sebagai pelindung mental. Ketika ikhtiar maksimal telah dilakukan namun hasil belum sesuai keinginan, seseorang tidak akan mudah terjatuh dalam keputusasaan atau kegalauan yang mendalam.
Sebagai penutup, ia memberikan batasan yang sangat tegas mengenai fenomena angan-angan kosong:
“Ketika hanya harapan saja tanpa dibarengi dengan upaya yang serius, upaya yang keras untuk mewujudkan harapan itu, yaitu hanya angan-angan, umniyatun kata Al-Hikam atau lamunan yang orang sekarang nyebutnya halu.”
Dengan memahami contoh-contoh ikhtiar nyata ini, kita diajak untuk menjadi pribadi yang tidak hanya pandai bermimpi, tetapi juga gigih dalam mengejar dan realistis dalam berserah diri.











