News  

Keistimewaan Shalat Tarawih Malam Kelima Ramadan: Pahala Setara Shalat di Tiga Masjid Suci

Ilustrasi keistimewaan shalat tarawih malam kelima. (Freepik.com)

bernasnews – Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana religius yang khas di tengah masyarakat Muslim. Selepas azan Isya berkumandang, masjid-masjid kembali dipenuhi jamaah yang ingin menunaikan shalat Tarawih. Di antara rangkaian malam Ramadan, malam kelima disebut memiliki keistimewaan tersendiri yang menarik perhatian umat Islam.

Dalam literatur klasik Durratun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, disebutkan bahwa mereka yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam kelima akan memperoleh pahala yang setara dengan orang yang menunaikan shalat di tiga masjid paling suci dalam Islam, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa.

Dalam kitab tersebut tertulis:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةِ اَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى مِثْلَ مَنْ صَلَّى فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ الْمَسْجِدِ الْمَدِيْنَةِ وَالْمَسْجِدِ الْاَقْصَى

Artinya: “Pada malam kelima, Allah memberikan pahala seperti pahala seseorang yang salat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjidil Aqsha.”

Mengapa Tiga Masjid Ini Istimewa?

Ketiga masjid tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Masjidil Haram di Makkah merupakan tempat berdirinya Ka’bah yang menjadi kiblat umat Muslim di seluruh dunia. Sementara Masjid Nabawi di Madinah adalah masjid yang dibangun langsung oleh Rasulullah SAW dan menjadi lokasi makam beliau.

Adapun Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam dan salah satu tempat bersejarah dalam perjalanan Isra Mi’raj.

Keutamaan ketiga masjid ini ditegaskan dalam sejumlah hadis sahih. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa shalat di Masjid Nabawi lebih utama dibanding 1.000 shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram.

Sedangkan shalat di Masjidil Haram bernilai 100.000 kali lipat dibanding masjid lainnya. Selain itu, umat Islam dianjurkan melakukan perjalanan khusus hanya ke tiga masjid tersebut.

Catatan Sumber dan Motivasi Ibadah

Sejumlah ulama menjelaskan bahwa rincian keutamaan shalat Tarawih setiap malam sebagaimana disebut dalam Durratun Nasihin tidak secara langsung bersumber dari hadis sahih. Namun, hal tersebut dipandang sebagai motivasi untuk meningkatkan semangat ibadah selama Ramadan.

Secara umum, keutamaan qiyam Ramadan telah ditegaskan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim: siapa yang melaksanakan shalat malam di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Hadis lain juga menganjurkan agar umat Islam melaksanakan Tarawih berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai, karena akan dicatat sebagai pahala qiyam satu malam penuh.

Momentum Menjaga Konsistensi

Memasuki malam kelima, semangat sebagian jamaah biasanya mulai mengalami penurunan. Padahal, Ramadan adalah proses pembentukan karakter dan ketakwaan yang membutuhkan konsistensi. Keistimewaan malam kelima dapat menjadi pengingat agar umat Islam tidak mengendurkan ibadah di pertengahan awal Ramadan.

Para pengurus masjid di berbagai daerah juga mencatat bahwa jumlah jamaah Tarawih pada pekan pertama Ramadan cenderung tinggi. Namun menjaga stabilitas kehadiran hingga akhir bulan menjadi tantangan tersendiri.

Malam kelima dapat menjadi titik evaluasi sekaligus penguat tekad. Tanpa harus bepergian jauh ke Makkah, Madinah, atau Yerusalem, umat Muslim tetap memiliki peluang meraih pahala besar melalui ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh harap.

Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan memperbaiki diri. Setiap rakaat Tarawih menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang lebih panjang. Karena itu, menjaga konsistensi ibadah sejak awal hingga akhir bulan suci menjadi kunci meraih keberkahan maksimal. (anp)