bernasnews.com – Di tengah deru kehidupan era ultra-modern yang serba instan, tantangan mental dan spiritual manusia semakin kompleks. Ketidakpastian dunia sering kali membuat individu kehilangan pegangan dan arah hidup. Menanggapi fenomena ini, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan dalam kajian Kitab Al-Hikam Hikmah ke-42, memberikan ulasan mendalam mengenai pentingnya kembali kepada Tuhan, khususnya melalui ibadah di sepertiga malam, sebagai cara membangun fondasi jiwa yang tidak tergoyahkan.
M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa kekuatan pendirian seseorang berkaitan erat dengan kepada siapa ia bersandar. Ketika manusia menyandarkan harapannya pada hal-hal yang bersifat duniawi dan fana, maka pendiriannya akan mudah goyah seiring dengan perubahan dunia tersebut. Sebaliknya, membangun komunikasi yang intim dengan Sang Pencipta di waktu-waktu mustajab adalah kunci ketenangan yang hakiki.
Fenomena Pelarian dari Zat yang Abadi ke Dunia Fana
Dalam ulasannya, M. Nur Kholis Setiawan menyoroti kejanggalan perilaku manusia modern yang sering kali menghindari Tuhan dan justru mencari perlindungan pada hal-hal materi. Padahal, dunia dan segala isinya tidak memiliki keabadian. M. Nur Kholis Setiawan merasa heran terhadap individu yang memilih lari dari zat yang menguasai segalanya demi berpegangan pada sesuatu yang sementara.
Ketergantungan pada teknologi dan gadget juga menjadi sorotan tajam. M. Nur Kholis Setiawan memberikan peringatan agar kemudahan teknologi tidak menggeser posisi Tuhan di hati manusia.
“Jangan sampai era post-modernitas, segala sesuatu serba mudah tinggal pencet tombol, tinggal gadget yang bisa kita operasikan dengan sangat mudah lalu menyelesaikan begitu banyak hal, ini jangan kemudian menjadi Tuhan baru menjadi acuan baru sekaligus menjadi sesuatu yang bisa diandalkan melupakan zat yang adil kodrati yang Maha segalanya,” ungkap M. Nur Kholis Setiawan.
Menjadi “Anak Kecil” di Hadapan Tuhan: Kunci Kekuatan Batin
Strategi spiritual yang ditawarkan oleh M. Nur Kholis Setiawan untuk memperkuat pendirian adalah dengan mengadukan segala persoalan secara totalitas kepada Allah SWT. Menggunakan analogi yang menyentuh, M. Nur Kholis Setiawan menyarankan agar manusia tidak perlu malu untuk menunjukkan kelemahan dan kerentanannya di hadapan Sang Khalik.
M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan, “Jadilah orang yang sangat apa ya istilahnya kayak anak kecil ya merengek-rengek, sepertiga malam kita Munajat, kita bangun malam.”.
Sikap “merengek” ini bukan menunjukkan kelemahan karakter di dunia nyata, melainkan bentuk pengakuan bahwa hanya Allah tempat memohon solusi. Dengan melepaskan ego di hadapan Tuhan, seseorang justru akan mendapatkan energi baru untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih berani dan stabil secara emosional.
Sepertiga Malam Sebagai Fondasi Karakter yang Kuat
Mengapa waktu sepertiga malam secara spesifik disebut mampu mengokohkan pendirian? Merujuk pada tafsir para ulama mengenai Surat Al-Muzzammil, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa aktivitas menghidupkan malam atau nasyi’atal lail adalah instrumen yang paling tepat untuk memperdalam bekas di dalam jiwa dan menguatkan perkataan atau tekad.
M. Nur Kholis Setiawan menegaskan dampak dari praktik spiritual ini, “Orang yang menghidupkan malam itu akan menjadi sangat kokoh, menjadi orang yang sangat kuat di dalam pendirian karena hanya Allah sebagai tempat bersandar hanya Allah sebagai tempat tempat mengadu.”.
Ketika seseorang secara rutin mengadu dan menangis di hadapan Allah saat dunia sedang terlelap, ia sedang membangun ketahanan mental yang luar biasa. Pendiriannya menjadi kokoh karena ia tidak lagi merasa perlu “mengemis” perhatian atau validasi dari sesama makhluk yang sama-sama lemah. Kebergantungan total kepada Allah menghilangkan rasa takut terhadap kehilangan duniawi.
Muhasabah dan Kualitas Hidup di Era Digital
Selain munajat malam, M. Nur Kholis Setiawan juga menyarankan pentingnya quality time atau waktu berkualitas untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah). Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan nilai-nilai kebaikan dan tidak terjebak dalam kecerobohan yang berulang.
M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa orang yang lari dari Allah menuju dunia yang fana sebenarnya sedang mengalami “kebutaan hati”. Hati yang buta tersebut gagal melihat bahwa di balik fenomena dunia yang menggoda dan mengasyikkan, ada zat yang menciptakan segalanya,. Dengan terus melakukan introspeksi dan menjaga hubungan intensif di sepertiga malam, diharapkan setiap individu dapat memiliki kualitas kehidupan yang semakin baik dan jalan menuju Allah semakin terbuka lebar.












