bernasnews — Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Kuba, Simon Djatwoko Irwantoro Soekarno melakukan kunjungan ke Yogyakarta. Selain bertugas di Kuba yang berkedudukan di Havana, Dubes Simon D.I Soekarno juga merangkap akreditasi untuk negara-negara Karibia lainnya, yaitu Bahamas, Republik Dominika, Haiti, dan Jamaika.
Dalam kunjungan ke Yogyakarta, Duta Besar RI tersebut melakukan kunjungan ke PD Taru Martani dan melakukan diskusi dengan perwakilan Pengurus KADIN DIY, yang diselenggarakan di Sasanti Resto, di Kawasan Utara Yogyakarta, Rabu (18/2/2026).
“Dalam kesempatan tersebut, Dimon D.I Soekarno didamping oleh Nicolas Manoppo selaku Staf Fungsi Politik Kedubes RI di Havana, Kuba.” kata WKU Bidang Kominfodigi KADIN DIY, Y. Sri Susilo dalam keterangan tertulisnya.
Dari KADIN DIY hadir antara lain, Robby Kusumaharta, WKU Koordinator Bidang 1; Hermawan Ardiyanto, WKU Koordinator Bidang 3, dan George Iwan Marantika, WKU Koordinator Bidang 4. Selain itu hadir Richard Kaunang, WKU Bidang Hubungan Luar Negeri, dan Fahmi Akbar Idries, WKU Bidang Investasi.
Juga Tim Apriyanto, WKU Bidang Organsiasi dan Keanggotaan; Arif Effendi, WKU Bidang Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, dan Y. Sri Susilo, WKU Bidang Kominfodigi. Juga hadir Ghofar Ismail, Kepala DPMPTSP DIY, serta sejumlah Pengurus KADIN DIY lainnya.
“Pertemuan dan diskusi ini merupakan forum yang bermanfaat bagi pak Dubes RI serta bagi pengurus KADIN DIY,”jelas George Iwan Marantika yang bertindak selaku moderator.
Menurutnya, bagi Dubes RI di Havana, Kuba dan staf kesempatan ini dapat menginfromasikan potensi serta peluang pasar ekspor negara Kuba dan negara Karibia lainnya. Sebaliknya pelaku usaha atau eksportir dapat memperoleh informasi pasar yang valid dan kemungkinan dapat menjajagi kerjasama untuk masuk ke pasar negara-negara di Karibia tersebut.
“Karakter pasar di negara-negara Karibia selaran dengan kekuatan produk DIY yang berbasis kreativitas, nilai budaya, fleksibilitas UMKM dan serta produk bernilai tambah tinggi,” ungkap jelas Simon D.I Soekarno.
Kata Simon, produk seni dan kerajinan, kopi dan coklat artisan, furniture dan dekorasi hotel, fashion kreatif, kosmetik berbahan alami, makanan olahan, bahan konstruksi dan produk industri skala menengah di DIY memiliki kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan pasar dan kerangka insentif fiskal di Kawasan Karibia.
“Peluang tersebut semakin kuat karena produk-produk dari DIY tersebut sudah dikenal dan memiliki rekam jejak ekspor yang nyata,” ujar Simon yang merupakan diplomat karir di Kemenlu RI.
“Agar peluang tersebut dapat diwujudkan secara nyata diperlukan sinergi yang terarah KBRI, KADIN, Pemda dan Pelaku Usaha,” harap Simon. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui misi dagang dan business matching yang terfokus di Kawasan Karibia.
Di samping itu, dapat juga diwujudkan melalui penyelenggaraan showcase produk unggulan untuk pariwisata dan lifestyle, pendampingan UMKM produk ekspor berbasis standar, kualitas dan logistik serta pemanfaatan jalur pendidian dan budaya sebagai pintu masuk ekonomi kreatif.
Simon juga menjelaskan, sampai saat ini kawasan Karibia belum menjadi pasar ekspor yang besar namun pasar masa depan bagi produk bernilai tambah tinggi. DIY dengan kinerja perdagangan yang baik, iklim usaha yang kompetitif serta kreativitas dan daya saing yang tinggi maka modal dasar untuk masuk pasar Kawasan Karibia cukup memadai.
“Mari kita jadikan DIY sebagai pintu gerbang masuk kreativitas dan kesempatan bisnis di Kawasan Karibia, dengan membuka pasar baru, menciptakan nilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global,” harap Simon D.I Soekarno.
Pada bagian lain, Robby Kusumaharta, WKU Koordinator Bidang 1 mengemukakan, bahwa pasar ekspor kawasan Karibia cukup terbuka dan potensial dan pihaknya berharap pelaku usaha atau eksportir DIY dapat memanfaatkannya.
Robby yang juga seorang pengusaha senior, berharap pengurus dan anggota KADIN DIY dapat bersinergi dengan pemangku kepentingan untuk memanfaatkan pasar ekspor tersebut. (*/ ted)












