M. Nur Kholis Setiawan Beberkan Mengapa Curhat Berlebihan ke Manusia Itu ‘Suul Adab’?

Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan

bernasnews – Dalam kehidupan sehari-hari, menceritakan masalah atau “curhat” kepada teman atau kerabat sering dianggap sebagai solusi untuk melepaskan beban pikiran. Namun, dalam perspektif tasawuf dan tata krama spiritual (adab), tindakan ini ternyata memiliki batasan yang sangat tegas. Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan, pakar studi Islam, memberikan penjelasan mendalam mengenai mengapa mengadu secara berlebihan kepada sesama manusia dikategorikan sebagai suul adab atau buruk tata krama.

Melalui kajian Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Prof. M. Nur Kholis menyoroti pentingnya seorang hamba atau salik (pencari Tuhan) untuk menjaga lisannya, terutama saat berada dalam kondisi batin yang tidak stabil. Menurutnya, kegagalan dalam menjaga lisan saat menghadapi cobaan adalah salah satu bentuk kebodohan spiritual,.

Dimensi Horizontal dalam Tata Krama Spiritual

Dalam penjelasannya, Prof. M. Nur Kholis membagi suul adab ke dalam dua dimensi besar, yakni dimensi vertikal (hubungan dengan Allah) dan dimensi horizontal (hubungan dengan sesama makhluk),. Curhat yang tidak terkontrol masuk ke dalam kategori buruk tata krama pada dimensi horizontal.

Ia menekankan bahwa ketika seorang hamba tertimpa masalah, seharusnya tujuan utama pengaduannya adalah Allah SWT. Menjadikan makhluk sebagai sandaran utama untuk berkeluh kesah dianggap sebagai tindakan yang tidak terpuji secara spiritual.

“Dalam kondisi dirinya lagi labil misalnya, maka bukannya dia mengadu Kepada Allah sebagai zat yang mampu Maha menerima aduan, tapi justru kita malah ember ke mana-mana; itu termasuk perilaku yang tidak terpuji,” ungkap Prof. M. Nur Kholis Setiawan dalam kajiannya.

Fenomena ‘Ember’ dan Lemahnya Sandaran Batin

Lebih lanjut, Prof. M. Nur Kholis menggunakan istilah “ember” untuk menggambarkan seseorang yang dengan mudah menyebarkan keluh kesahnya kepada siapa saja tanpa pertimbangan,. Perilaku ini menunjukkan adanya ketidaksabaran dan kurangnya kepercayaan hamba terhadap perlindungan Allah.

Dalam dunia tasawuf, seorang murid diharapkan mampu menahan diri dan mengelola kegelisahan batinnya dengan cara ber- munajat kepada Sang Pencipta. Mengadu kepada manusia secara terus-menerus tanpa adanya keperluan yang mendesak atau konsultasi yang benar, justru menunjukkan kerentanan iman dan pengabaian terhadap kehadiran Allah sebagai tempat kembali.

“Salah satu kebodohan dari salik atau murid adalah memperburuk atau menjelekkan adab atau berbuat tata krama yang tidak baik,” tegasnya.

Salah satu bentuk nyata dari kebodohan ini adalah ketidakmampuan memilih tempat mengadu yang tepat.

Bahaya Tersembunyi: Hukuman yang Tak Terlihat

Salah satu poin kritis yang disampaikan oleh Prof. M. Nur Kholis adalah bahwasanya banyak orang tidak menyadari bahwa perilaku curhat berlebihan atau suul adab ini memiliki konsekuensi serius. Karena hukuman (ukubah) dari Allah seringkali tidak datang dalam bentuk penyakit fisik atau kerugian materi secara langsung, pelakunya seringkali merasa apa yang dilakukannya benar.

Namun, ia memperingatkan bahwa hukuman yang paling berbahaya adalah hukuman batin, seperti dicabutnya nikmat beribadah atau dijauhkannya seorang hamba dari Allah tanpa ia sadari.

“Seandainya Allah tadi menempatkan seorang murid yang melakukan suul adab atau perilaku yang tidak terpuji tadi itu sudah jauh dari Allah tapi tidak menyadari, maka cara yang kemudian Allah lakukan adalah orang ini dibiarkan untuk tersesat,” papar Prof. M. Nur Kholis menjelaskan dampak fatal dari pengabaian adab,.

Membangun Kendali Diri dan Introspeksi

Sebagai solusi, Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengajak umat untuk senantiasa melakukan introspeksi diri (muhasabah). Menyadari bahwa setiap keluhan yang keluar dari mulut memiliki bobot spiritual sangatlah penting. Menahan diri untuk tidak “ember” kepada makhluk dan belajar untuk lebih banyak mengadu dalam sujud adalah langkah awal memperbaiki adab,.

Dengan menjaga tata krama, baik dalam lisan maupun perbuatan, seorang hamba akan lebih mudah mendapatkan pertolongan (nusrah) dari Allah dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Penjelasan Prof. M. Nur Kholis ini menjadi pengingat penting di era media sosial, di mana batasan antara ruang pribadi dan ruang publik seringkali kabur akibat keinginan untuk selalu “curhat” secara terbuka.