bernasnews – Dalam sebuah pemaparan mendalam mengenai tasawuf, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan kembali memberikan wawasan berharga bagi umat melalui ulasan kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
Fokus utama yang diangkat kali ini adalah bagaimana penyakit hati dapat menyelinap secara halus ke dalam amal ibadah manusia, sehingga merusak esensi dari keikhlasan. Ia menekankan bahwa ketaatan fisik tidak menjamin keselamatan spiritual jika di dalamnya bersarang rasa sombong dan merasa mulia.
Jebakan Tipis Antara Ketaatan dan Kesombongan
Mengawali ulasannya pada hikmah ke-98, Prof. M. Nur Kholis Setiawan menyampaikan sebuah pernyataan yang cukup ekstrem untuk memantik kesadaran batin. Ia menjelaskan bahwa terdapat kondisi di mana kemaksiatan yang memunculkan rasa rendah hati jauh lebih baik daripada ketaatan yang memicu takabur. Hal ini bukan bermaksud melegalkan kemaksiatan, melainkan sebagai peringatan keras akan bahayanya penyakit hati yang sangat lembut dan seringkali tidak disadari oleh pelakunya.
“Penyakit hati ini luar biasa masuk ke relung-relung yang sangat tipis yang sangat halus. Seolah-olah kita sangat taat tapi ternyata ketaatan kita itu ada pamrihnya,” ujar Prof. M. Nur Kholis Setiawan dalam penjelasannya.
Menurut Ia, setiap individu, terutama mereka yang memiliki posisi sebagai pemimpin atau tokoh masyarakat, sangat rentan terjangkit keinginan untuk dipuji dan dianggap baik oleh orang lain. Gangguan-gangguan kecil inilah yang sering kali menyelinap di tengah-tengah aktivitas kebaikan, mengubah niat tulus menjadi sarana untuk memuaskan ego pribadi.
Amal Sebagai ‘Casing’, Ikhlas Sebagai Substansi
Prof. M. Nur Kholis Setiawan memberikan analogi yang sangat relevan untuk membedakan antara amal perbuatan dan kualitas batin. Ia merujuk pada hikmah ke-15 yang menyatakan bahwa amal hanyalah bentuk lahiriah, sementara ruhnya adalah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, sebuah amal kehilangan nilainya di hadapan Sang Pencipta.
Penyakit hati seperti riya, ujub, dan sombong adalah perusak utama substansi amal tersebut. Ia menegaskan kembali logika ekstrem dari Ibnu Atha’illah untuk menekankan urgensi menjaga hati.
“Maksiat yang menjadikan pelakunya itu hina-dina itu jauh lebih baik daripada orang taat tapi menyebabkan pelakunya itu tinggi hati, sombong, atau merasa dirinya paling mulia,” tegasnya.
Pernyataan ini menurutnya adalah sebuah warning agar manusia tidak merasa paling suci hanya karena rutinitas ketaatan yang dilakukan, sementara hatinya penuh dengan penyakit yang menjauhkan diri dari Allah.
Memahami Sifat Penghambaan dalam Beramal
Lebih lanjut, Prof. M. Nur Kholis Setiawan memaparkan perbedaan mendasar antara sifat-sifat ketuhanan (rububiyah) dan sifat-sifat penghambaan (ubudiyah). Manusia sejatinya adalah hamba yang memiliki karakter dasar rendah hati dan penuh keterbatasan (iftiqar). Ketika seseorang merasa mulia dan besar karena amalnya, ia seolah-olah sedang merampas sifat yang hanya milik Allah, yaitu kemuliaan (izzah) dan kebesaran (istikbar).
“Amal perbuatan itu hanya casing saja, sementara substansinya adalah adanya keikhlasan di situ,” jelas Prof. M. Nur Kholis Setiawan.
Oleh karena itu, pengakuan diri sebagai makhluk yang lemah dan tidak memiliki apa-apa justru menjadi jalan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, merasa hebat karena ketaatan justru menjatuhkan martabat manusia ke tingkat yang paling rendah karena adanya unsur kesombongan.
Sebagai penutup, Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan agar pesan mengenai “maksiat yang lebih baik dari ketaatan yang sombong” tidak dipahami secara literal atau harafiah sebagai ajakan untuk berbuat dosa. Pesan substantifnya adalah dorongan untuk mencapai ketaatan yang murni, yang tidak disertai dengan embel-embel kepentingan duniawi atau pemuasan nafsu ego.
Ia mengajak para penyimak untuk bersikap lebih proporsional dalam mendekatkan diri kepada Allah. Hubungan antara penyakit hati dan keikhlasan adalah hubungan yang saling meniadakan, di mana ada penyakit hati, di situ keikhlasan akan luntur.












