bernasnews – Banyak umat Islam yang memiliki persepsi bahwa amal ibadah yang dilakukan di dunia hanya akan mendapatkan balasan kelak di akhirat dalam bentuk pahala atau surga. Namun, pandangan ini diluruskan oleh pakar tafsir dan tasawuf, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan.
Dalam ulasan mendalam mengenai Hikmah ke-91 dari kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, beliau menekankan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Dermawan dan tidak pernah menunda balasan bagi hambanya yang berbuat baik.
Allah Maha Suci dari Menunda Balasan
Dalam penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan mengutip bait hikmah yang menyatakan bahwa Allah Maha Agung untuk membiarkan seorang hamba beramal secara kontan (naqdan), namun Dia membalasnya secara bertempo atau ditunda (nasiatan),. Menurutnya, persepsi bahwa balasan hanya ada di akhirat justru menjauhkan kita dari hakikat kemurahan Allah.
“Apapun yang dilakukan oleh hamba kepada Allah, kita beribadah kepada Allah, kita mendekatkan diri kepada Allah, kita melakukan sekian banyak kebaikan demi atau dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, maka balasan dari Allah itu ya kontan tidak kemudian balasannya di akhirat,” ujar M. Nur Kholis Setiawan dalam pemaparannya.
Ia menambahkan bahwa sifat menunda-nunda bukanlah karakter dari Sang Maha Pemurah. Jika Allah tidak memberikan balasan seketika, maka hal itu dianggap tidak sesuai dengan sifat-Nya yang Maha Mulia dan Maha Memberi.
“Bukan karakter Allah atau bukan sifat Allah menunda-nunda balasan kepada amal perbuatan baik dari hambanya,” tegas Nur Kholis.
Anugerah Kesehatan dan Keharmonisan Keluarga sebagai Balasan
Bagi masyarakat awam, balasan langsung dari Allah sering kali tidak berupa keajaiban materi yang mencolok seperti yang dialami para wali Allah (Auliyah). Namun, jika kita melakukan introspeksi mendalam, balasan kontan tersebut hadir dalam bentuk nikmat yang sering dianggap biasa,.
Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa kesehatan fisik dan perlindungan dari berbagai penyakit adalah bentuk balasan langsung yang sangat luar biasa. Selain itu, dianugerahi keluarga yang sakinah, anak-anak yang berbakti kepada orang tua, serta kelancaran dalam pekerjaan tanpa hambatan berarti adalah wujud nyata dari kasih sayang Allah yang diberikan secara langsung di dunia.
Kenikmatan Beribadah dan Istiqamah: Balasan Tertinggi
Salah satu bentuk balasan yang jarang disadari adalah perubahan kondisi batin seseorang dalam menjalankan ketaatan. Secara alamiah, manusia memiliki sifat dasar pemalas, terutama untuk hal-hal yang berat seperti bangun di tengah malam untuk beribadah.
Menurut M. Nur Kholis Setiawan, ketika seseorang mulai merasakan kenikmatan dalam ibadah, merasa butuh untuk “menangis” di hadapan Allah, dan akhirnya mencapai derajat istiqamah, itu adalah tanda kuat adanya balasan langsung dari Allah.
“Makin kita rajin beribadah, makin kita mendekatkan diri kepada Allah, makin nyaman kita melakukan aktivitas kebaikan itu juga ada peran Allah di dalam diri kita yang itu adalah balasan Allah yang langsung kepada kita,” ujarnya.
Rasa nyaman dan ketagihan dalam berbuat baik bukanlah semata-mata usaha manusia, melainkan bentuk “pembayaran” tunai dari Allah agar hamba-Nya semakin dekat dengan-Nya.
Kematangan Batin yang Proporsional
Terakhir, balasan kontan dari Allah juga bermanifestasi dalam bentuk stabilitas emosional atau suasana batin yang proporsional. Orang yang mendapatkan balasan ini akan memiliki ketenangan dalam menghadapi fluktuasi kehidupan.
Ketika mendapatkan kebahagiaan, mereka tidak larut dalam euforia berlebihan. Sebaliknya, saat ditimpa kesulitan, mereka menjadi pribadi yang mudah move on dan tidak terjebak dalam kesedihan yang berlarut-larut apalagi sampai menyalahkan Tuhan. Kematangan batin inilah yang menjadi tujuan dari setiap hikmah yang dipelajari, agar manusia senantiasa bersyukur dan konsisten mendekatkan diri kepada Allah SWT.












