bernasnews – Menjelang masuknya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, alam semesta kembali menyuguhkan peristiwa langit yang jarang terjadi.
Dunia akan menyaksikan gerhana matahari cincin, sebuah fenomena astronomi yang selalu menarik perhatian para ilmuwan, pengamat langit, hingga masyarakat umum.
Meskipun tidak dapat diamati langsung dari Indonesia, momen kosmik ini tetap memiliki makna tersendiri, terlebih karena waktunya berdekatan dengan persiapan spiritual umat Islam menyambut bulan puasa.
Gerhana ini seakan menjadi pengingat bahwa perubahan di langit dan kehidupan manusia berjalan dalam keteraturan hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Apa Itu Gerhana Matahari Cincin?
Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi, namun dalam posisi jarak terjauh (apogee) dari planet kita. Karena jaraknya yang lebih jauh, ukuran tampak Bulan menjadi lebih kecil dibandingkan Matahari.
Akibatnya, Bulan tidak mampu menutupi Matahari sepenuhnya. Saat fase puncak gerhana, cahaya Matahari masih terlihat mengelilingi tepi Bulan, membentuk lingkaran terang yang dikenal dengan sebutan “cincin api”.
Fenomena ini dijelaskan dalam kajian astronomi klasik hingga modern, salah satunya dalam buku Astronomy: A Beginner’s Guide to the Universe karya Eric Chaisson dan Steve McMillan. Di dalamnya dijelaskan bahwa orbit Bulan berbentuk elips, sehingga jaraknya dari Bumi tidak selalu sama. Perubahan jarak inilah yang memengaruhi ukuran tampak Bulan dan memungkinkan terjadinya gerhana matahari cincin.
Waktu Puncak Gerhana Matahari Cincin
Mengacu pada data astronomi dari Time and Date, peristiwa gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 akan berlangsung melalui beberapa tahapan waktu yang jelas. Gerhana sebagian akan mulai terjadi pada pukul 09.56 UTC atau 16.56 WIB, menandai awal tertutupnya piringan Matahari oleh Bulan.
Selanjutnya, fase gerhana matahari cincin dimulai pada 11.42 UTC atau 18.42 WIB, ketika Bulan berada tepat di tengah Matahari namun belum sepenuhnya menutupinya.
Puncak gerhana cincin diperkirakan terjadi pada 12.12 UTC atau 19.12 WIB, saat lingkar cahaya Matahari tampak paling jelas mengelilingi Bulan. Setelah itu, fase cincin berakhir pada 12.41 UTC atau 19.41 WIB, dan rangkaian gerhana ditutup dengan berakhirnya gerhana sebagian pada 14.27 UTC atau 21.27 WIB.
Meski secara waktu fase-fase tersebut bertepatan dengan malam hari di Indonesia, gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 tidak dapat disaksikan dari wilayah Tanah Air. Hal ini disebabkan jalur visibilitas gerhana tidak melintasi Indonesia, sehingga fenomena langit tersebut hanya bisa diamati dari wilayah tertentu di belahan dunia lain.
Berdasarkan perhitungan astronomi, fase maksimum gerhana matahari cincin Februari 2026 terjadi pada malam hari waktu Indonesia. Gerhana Matahari Cincin akan berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026.
Karena itu, masyarakat di Tanah Air tidak dapat menyaksikan fenomena ini secara langsung, baik secara penuh maupun sebagian.
Lintasan utama atau jalur cincin penuh gerhana justru melintas di wilayah Antartika dan Samudra Hindia bagian selatan, serta sebagian kawasan Pasifik Selatan. Sementara itu, beberapa wilayah di belahan Bumi selatan hanya dapat melihat gerhana secara parsial.
Mengapa Gerhana Ini Tidak Terlihat dari Indonesia?
Tidak semua gerhana matahari dapat disaksikan dari seluruh penjuru dunia. Jalur bayangan Bulan saat gerhana bersifat sangat sempit dan spesifik, tergantung pada posisi Matahari, Bulan, dan Bumi pada waktu tertentu.
Pada 17 Februari 2026, konfigurasi ketiga benda langit tersebut membentuk lintasan gerhana yang jauh dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Karena itulah, wilayah Nusantara berada di luar zona pengamatan.
Meski begitu, masyarakat Indonesia tetap dapat mengikuti peristiwa ini melalui siaran langsung (live streaming) yang biasanya disediakan oleh lembaga astronomi internasional dan observatorium dunia.
Gerhana Matahari dalam Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, fenomena langit seperti gerhana tidak hanya dipahami sebagai kejadian ilmiah, tetapi juga sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Al-Quran telah lama menyinggung keteraturan peredaran benda-benda langit sebagai bagian dari sistem kosmik yang sempurna.
Salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan fenomena ini adalah Surah Yasin ayat 40:
Lā asy-syamsu yambaghī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakin yasbahūn.
Artinya:
“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, ayat ini menegaskan bahwa alam semesta bergerak dalam sistem yang sangat presisi dan teratur, sebagai bukti kebijaksanaan Ilahi dalam mengatur ciptaan-Nya.
Makna Gerhana Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah
Kehadiran gerhana matahari cincin hanya beberapa hari sebelum Ramadhan 1447 H seolah mengajak manusia untuk merenungi keteraturan alam dan memperkuat refleksi keimanan. Di tengah kesibukan dunia, peristiwa langit ini mengingatkan bahwa seluruh alam semesta berjalan sesuai sunnatullah, tanpa pernah meleset dari ketentuan-Nya.
Meski tidak bisa dilihat langsung dari Indonesia, gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 tetap menjadi peristiwa penting, baik dari sisi sains maupun spiritual. Ia menghubungkan ilmu pengetahuan, keimanan, dan kesadaran manusia akan kebesaran Sang Pencipta sebuah refleksi yang selaras dengan semangat menyambut bulan suci Ramadhan. (anp)











