News  

Sidang Isbat 1 Ramadhan 2026 Kapan? Ini Lokasi, Jadwal, dan Tahapan Penentuannya

Ilustrasi sidang isbat 1 Ramadhan 2026 kapan? (Pixabay.com)

bernasnews – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI kembali menyiapkan agenda tahunan yang sangat dinantikan umat Islam, yakni sidang isbat penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Sidang ini akan menjadi penentu resmi dimulainya ibadah puasa Ramadhan di Indonesia dan dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026.

Sidang isbat memiliki peran krusial karena menjadi forum nasional yang menyatukan berbagai pandangan keagamaan dan keilmuan dalam menetapkan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Lokasi dan Pimpinan Sidang Isbat Ramadhan 2026

Kemenag memastikan bahwa sidang isbat awal Ramadhan 1447 H akan dilaksanakan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta. Sidang tersebut akan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan kepastian waktu ibadah kepada masyarakat.

Menurut penjelasan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, forum sidang isbat akan melibatkan banyak unsur strategis. Peserta sidang terdiri atas perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), DPR RI, Mahkamah Agung, BMKG, para ahli falak, serta perwakilan kedutaan besar negara-negara Islam.

Keterlibatan berbagai pihak ini dimaksudkan agar keputusan yang dihasilkan memiliki legitimasi keagamaan, ilmiah, dan sosial yang kuat.

Tahapan Pelaksanaan Sidang Isbat Awal Ramadhan

Abu Rokhmad menjelaskan bahwa sidang isbat tidak dilakukan secara sederhana, melainkan melalui serangkaian tahapan sistematis dan ilmiah. Proses sidang diawali dengan pemaparan data hisab atau perhitungan astronomi terkait posisi bulan dan matahari.

Tahap berikutnya adalah verifikasi hasil rukyatul hilal, yakni pengamatan langsung terhadap hilal yang dilakukan di 37 titik pemantauan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Setelah seluruh laporan diterima dan dikaji, barulah sidang memasuki tahap musyawarah tertutup untuk mengambil keputusan final.

Hasil sidang tersebut kemudian diumumkan secara resmi kepada publik sebagai penetapan awal Ramadhan 1447 H.

Metode Hisab dan Rukyah Tetap Jadi Acuan Pemerintah

Dalam setiap penentuan awal bulan penting dalam kalender Islam, termasuk Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, Kemenag menegaskan tetap menggunakan pendekatan integratif antara metode hisab dan rukyah. Pendekatan ini telah menjadi dasar penetapan kalender Hijriah nasional selama bertahun-tahun.

Menurut Kemenag, integrasi kedua metode tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pendekatan ilmiah modern dan tradisi keagamaan yang telah lama dijalankan di Indonesia.

Imbauan Menunggu Pengumuman Resmi Pemerintah

Kemenag juga mengimbau masyarakat agar menunggu hasil resmi sidang isbat sebelum menetapkan awal puasa Ramadhan. Abu Rokhmad menegaskan bahwa mekanisme sidang isbat sejalan dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004, yang mengatur tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Fatwa tersebut menegaskan pentingnya keputusan pemerintah sebagai rujukan bersama demi menjaga persatuan umat.

Persiapan Rukyatul Hilal dan Regulasi Baru

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah ahli falak untuk diterjunkan langsung ke lokasi-lokasi rukyatul hilal yang dianggap potensial.

Titik-titik observasi tersebut tersebar di berbagai daerah Indonesia yang secara geografis dan astronomis memungkinkan pengamatan hilal dilakukan secara optimal.

Tidak hanya fokus pada teknis pengamatan, Kemenag juga tengah mempersiapkan Peraturan Menteri Agama (PMA) sebagai regulasi baru yang akan menjadi landasan hukum pelaksanaan sidang isbat. PMA ini diharapkan mampu memberikan kejelasan dan menjawab berbagai pertanyaan masyarakat mengenai dasar hukum dan mekanisme sidang isbat ke depan.

Penetapan Awal Ramadhan 2026 Versi Muhammadiyah

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Berdasarkan keputusan resmi, 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M.

Penetapan ini merupakan hasil hisab hakiki yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, dengan berpedoman pada prinsip dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Keputusan tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

Hasil Hisab Astronomis Muhammadiyah

Berdasarkan perhitungan astronomi, ijtimak menjelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 UTC. Namun, saat matahari terbenam pada hari ijtimak tersebut, kriteria visibilitas hilal Parameter Kalender Global (PKG) 1 belum terpenuhi.

PKG 1 mensyaratkan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum tengah malam UTC. Dari hasil analisis, kondisi tersebut belum tercapai di wilayah mana pun di dunia, sehingga Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada keesokan harinya.

Dengan adanya perbedaan metode penetapan awal Ramadhan, masyarakat diimbau tetap menjaga sikap saling menghormati. Pemerintah melalui Kemenag menegaskan bahwa hasil sidang isbat 17 Februari 2026 akan menjadi rujukan resmi nasional.

Pengumuman tersebut akan menentukan kapan umat Islam di Indonesia secara resmi memulai ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah, sekaligus menjadi penanda dimulainya bulan penuh keberkahan. (anp)