News  

Pesantren Pengusaha Bin Farid: Melahirkan Konglomerat Akherat

dr. Hasto Wardoyo (Kanan) selaku Penasehat Pondok Pesantren Bin Farid saat menyampaikan tausyiahnya. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

bernasnews — Pesantren Pengusaha Bin Farid yang didirikan oleh Farid Triwidodo, pada tanggal 1 Januari 2024, kini telah memasuki tahun ke-dua. Peringatan hari jadi Pesantren bagi pengusaha ini menghadirkan 100 orang pengusaha perwakilan dari seluruh Indonesia.

Juga dr. Hasto Wardoyo (Wali Kota Yogyakarta) selaku Penasehat dan para Ustad ,yang berlangsung di Rumah UFA, Kompleks Grand Mutiara Ciputra, Jalan Wates Yogyakarta, pada Jumat (16/1/2026).

Menurut Farid Triwidodo sebagai pendiri pesantren pengusaha, bahwa untuk metode pembinaan santri ada dua jalan, yang pertama santri singgah yaitu santri yang datang untuk menata niat, memperbaiki arah dan menguatkan kembali pondasi iman di tengah kesibukan berusaha.

“Dan yang kedua  adalah Santri Dzaujah yang ingin mengkaji lebih dalam, membangun dirinya diniatkan untuk kehidupan yang  lebih bertanggungjawab di hadapan Allah dan di hadapan manusia,” kata Farid, dalam sambutannya.

“Kita sebagai pengusaha mengaca dari Siti Hajar yang berusaha dan berjuang dari Sofa ke Marwah  sampai berkali kali, dengan harapan  berhasil dan akhirnya berhasil walaupun dengan perjuangan yang berat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Farid menjelaskan, bahwa sudah merasakan bangkrut sampai tujuh kali dan telah berusaha dari berbagai bidang seperti pertambangan, eksport import dan lainnya. Namun dengan berusaha, sekarang bisa bangkit dan memiliki usaha di bidang pendidikan, yang berada di Tangerang, Jawa Barat, apotek ada 18 cabang di beberapa kota serta usaha kuliner.

“Saya sejak umur 20 tahun sudah berbisnis, dari berbagai macam bisnis sudah saya jalani hingga kini  dan bercita-cita membuat 1000 apotek hingga tahun 2035. Harapan saya jadi pebisnis itu tidak harus selalu untung tapi bicara soal kemanfaatan,” bebernya.

“Pasalnya tujuan bisnis itu tidak harus kaya tapi yang utama jauh memberi manfaat  sebanyak-banyaknya kepada orang lain lain, sehingga tageline pesantren ini adalah melahirkan Konglomerat Akherat,” tandas Fari Triwidodo.

Sementara itu dr. Hasto Wardoyo selaku Penasehat mengungkapkan, bahwa Pesantren Pengusaha ini lebih spesifik karena yang jadi problem sekarang adalah pengusaha belum bisa menyerap tenaga kerja. Ia juga berharap para pengusaha bisa menyerap tenaga kerja sehingga bisa menimbulkan multi player yang luar biasa. Pasalnya kita masih sulit  mencari empat per seribu  pengusaha perpopulasi.

Menurut Hasto, dengan Pesantren Pengusaha yang berada di Rumah UFA ini bisa merawat dan menghidupkan harapan. Pengusaha akan memberikan harapan baru seperti  program Gandeng Gendong yang ada di Kota Yogyakarta, yang mempunyai filosofi yang tinggi, yakni para pengusaha saling membantu yang berhasil membantu yang belum berhasil.

“Yang membuat kita bergerak adalah harapan dengan mencontoh Siti Hajar yang terus bergerak dan berusaha. Juga kita harus mempunyai cita – cita setinggi langit  agar jadi pengusaha yang hebat dan harapan itu merupakan kunci agar kita bergerak  dan sukses walaupun dengan jalan yang dilalui sulit,” ungkap orang nomor satu di Pemkot Yogyakarta.

“Saya refleksikan pada diri sendiri  dari pengalaman saya sejak kecil sudah memelihara ayam berkembang menjadi mempunyai kambing seterusnya bisa mempunyai sapi. Itu saya milih jalan yang sulit tapi mempunyai  harapan dan nilai – nilai kebaikan yang Insya Allah terhindar dari kemaksiatan  dan ujian yang menuju kesesatan. Saya pun bersyukur lantaran jalan yang sulit menjadikan saya seperti sekarang ini,” tambah dr. Hasto.

Dikatakan, orang itu wang sinawang, sebagai hamba Allah  menempatkan diri di tempat yang rendah  harus ikhlas dan memantaskan diri serta menyederhanakan diri itu penting.

“Jangan sampai duit yang kita cari dan kita punya habis untuk foya-foya. Filosofi yang saya ugemi (pegang) adalah kaya itu  bisa hidup seperti sediakala dalam waktu lama meskipun tidak bekerja,” tegas dr. Hasto. (nun)