bernasnews – Pemerintah Kota Yogyakarta mencatat penurunan signifikan angka stunting berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terbaru.
Hingga Desember 2025, prevalensi stunting tercatat sebesar 8,48 persen, turun dibandingkan Januari 2025 yang berada pada angka 11,83 persen.
Capaian tersebut disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) Pelaksanaan BKK Danais DIY dengan Studi Kasus Percepatan Penanganan Stunting di Kota Yogyakarta yang berlangsung di Edotel Hotel, Kamis, 15 Januari 2026.
Forum ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor yang terlibat dalam program percepatan penurunan stunting.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menyatakan penurunan tersebut merupakan hasil kerja terkoordinasi antara pemerintah daerah, puskesmas, kelurahan, kader kesehatan, dan masyarakat.
“Semua pihak bergerak bersama. Tanpa kolaborasi yang solid, penurunan angka stunting tidak akan terjadi secepat ini,” kata Aan.
Peran Dana Keistimewaan dalam Intervensi Gizi
Aan menjelaskan bahwa salah satu intervensi utama yang berkontribusi terhadap perbaikan status gizi balita adalah program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang didukung Dana Keistimewaan (Danais) DIY. Program ini menyasar balita berisiko stunting secara terukur dan berkelanjutan.
“PMT dari Danais kami berikan secara konsisten dan terukur. Program ini sangat berperan dalam meningkatkan berat badan dan status gizi balita,” ujarnya.
Intervensi tersebut juga dinilai efektif dalam menangani kasus balita yang tidak mengalami kenaikan berat badan meskipun tampak aktif, sehingga mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi stunting.
Tantangan Kehadiran Balita di Posyandu
Meski angka stunting menurun, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta masih mencatat tantangan dalam cakupan pemantauan balita. Pada Desember 2025, tingkat kehadiran balita di posyandu mencapai 97,18 persen, belum mencapai target 100 persen.
“Kami menargetkan kehadiran balita mencapai 100 persen. Data pertumbuhan harus benar-benar valid agar kami dapat mengambil kebijakan yang tepat sasaran,” ujar Aan.
Ia menekankan pentingnya peran orang tua dan kader kesehatan dalam memastikan seluruh balita rutin mengikuti penimbangan dan pemantauan tumbuh kembang.
Tren Penurunan Kasus Baru
Selain prevalensi, angka stunting baru di Kota Yogyakarta juga menunjukkan tren menurun. Sepanjang 2025, rata-rata kasus stunting baru berada pada angka 1,23 persen. Dalam tiga bulan terakhir tahun tersebut, angka stunting baru tercatat berada di bawah satu persen.
“Penurunan stunting baru menunjukkan bahwa upaya pencegahan berjalan efektif. Kami fokus pada langkah promotif dan preventif sejak dini,” kata Aan.
Upaya pencegahan dilakukan melalui pendekatan siklus hidup, mulai dari edukasi gizi remaja putri, pendampingan calon pengantin, pemantauan ibu hamil, hingga perawatan ibu bersalin. Strategi ini diarahkan untuk menekan risiko stunting sebelum terjadi.
Aan menegaskan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta akan melanjutkan dan memperkuat program penurunan stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan optimalisasi pendanaan, termasuk Danais, guna memastikan seluruh anak mendapatkan pemantauan kesehatan dan intervensi gizi yang memadai. (Eln)












