bernasnews — RSUP Dr. Sardjito menggelar acara ground breaking pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU). Ground breaking dilakukan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Dirut RSUP dr. Sardjito, Eniarti, di Kompleks RSUP dr. Sardjito, Sleman, Kamis (8/1/2025).
Pembangunan CMU menegaskan RSUP Dr. Sardjito sebagai rumah sakit rujukan utama di DIY dan Jawa Tengah, yang diproyeksikan akan menjadi rumah sakit masa depan. Menariknya, proyek pembangunan bernilai sekitar Rp 900 miliar ini, tidak melalui dana APBD maupun APBN. Pembangunan murni didanai secara mandiri oleh RSUP Dr. Sardjito.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya mengemukakan, bahwa proyek ini menjadi salah satu supaya memenangkan kembali kepercayaan masyarakat agar tidak lagi melirik rumah sakit di luar negeri.
Menurutnya, kelemahan Indonesia selama ini bukan hanya pada alat, tapi pada aspek komunikasi dan empati. Masyarakat ke luar negeri itu bukan cuma soal fasilitas, tapi karena merasa lebih ‘dimanusiakan’.
“Maka, saya titip, tingkatkan kemampuan non-medis dokter kita. Komunikasi dan empati harus utama agar pasien merasa nyaman dan percaya,” tegas Budi Gunadi Sadikin, dikutip dari jogjaprov.go.id.
Dikatakan, bahwa transformasi ini adalah langkah radikal untuk menata ulang efisiensi. Dari 32 gedung yang ada, nantinya akan dirampingkan menjadi hanya 9 gedung utama, namun dengan kapasitas dan fasilitas yang melonjak 2 hingga 3 kali lipat.
“Targetnya bukan di 2040, tapi kita percepat ke 2029 agar bisa diresmikan Bapak Presiden. Kita ingin RSUP Dr. Sardjito menjadi rumah sakit yang tidak hanya menyembuhkan penyakit, tapi merawat kehidupan,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Menurut Menteri Kesehatan, gedung megah bukanlah kunci utama. Komunikasi dan empati dalam melayani pasien harus menjadi hal paling standar. Hai Itulah yang harus dibangun agar orang Jogja, terutama lansia, nyaman dan terlayani dengan baik.
Senada dengan Menteri Kesehatan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan, bahwa pembangunan fasilitas kesehatan tidak hanya soal membangun gedung dan sistem, tetapi juga tentang merawat nilai kemanusiaan dan memberi harapan bagi masyarakat.
“Pembangunan ini menjadi tonggak penguatan layanan kesehatan masa depan,” tegas Sultan HB X.
CMU RSUP Dr. Sardjito dibangun sebagai pusat layanan terintegrasi yang menghubungkan berbagai layanan penting rumah sakit, mulai dari gawat darurat, perawatan intensif, ruang operasi, hingga layanan diagnostik dan digital dalam satu alur pelayanan yang berkesinambungan.
“Konsep ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pasien dan kenyamanan selama menjalani perawatan,” tutur Sultan HB X.
Menurutnya, rumah sakit tidak boleh menjadi tempat yang terasa dingin dan kaku. Pelayanan kesehatan harus tetap mengedepankan empati dan rasa kemanusiaan, di tengah kemajuan teknologi dan sistem layanan yang semakin modern.
“Rumah sakit bukan sekadar tempat penyembuhan raga, melainkan ruang pengayoman, tempat harapan dipelihara, dan rasa aman ditumbuhkan,” ungkap Sultan HB X.
Dalam pendekatan ini, pasien dipandang bukan sekadar objek layanan, tetapi sebagai subjek yang dipandu secara menyeluruh dalam perjalanan perawatannya. Teknologi kesehatan, termasuk kecerdasan buatan, diposisikan sebagai alat bantu untuk mendukung pengambilan keputusan medis, bukan menggantikan sentuhan manusiawi tenaga kesehatan.
Sri Sultan juga menyoroti pentingnya memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan. Lingkungan kerja yang saling menghargai, penuh empati, dan saling percaya diyakini dapat meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus menjaga keberlanjutan sistem kesehatan.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, Eniarti, mengungkapkan, bahwa pembangunan Gedung CMU merupakan wujud komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan yang modern, terintegrasi, dan berfokus pada keselamatan pasien.
Menurut Erniati, gedung ini dirancang sebagai pusat layanan medis terpadu yang mengintegrasikan berbagai layanan penting, mulai dari gawat darurat, perawatan intensif, kamar operasi, hingga layanan diagnostik berteknologi tinggi dalam satu sistem pelayanan yang saling terhubung.
“Dengan pendekatan ini, diharapkan proses perawatan pasien menjadi lebih efektif, aman, dan berkesinambungan,” ujarnya.
Gedung CMU ditargetkan menjadi Center of Excellence (CoE) dengan layanan unggulan, seperti layanan emergensi, bedah minimal invasif, transplantasi organ, hingga precision medicine yang didukung laboratorium sel dan sel punca.
Tidak hanya berfokus pada layanan klinis, Gedung CMU juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti layanan diagnostik terpadu, ruang perawatan intensif, co-working space, serta ruang publik pendukung. “Pembangunan ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan yang holistik, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien,” bebernya.
RSUP Dr. Sardjito menargetkan keterlibatan lebih dari 1.500 tenaga medis dan profesional kesehatan untuk mendukung operasional seluruh layanan di Gedung CMU. Dengan nilai kontrak pembangunan sebesar Rp917,97 miliar, proyek ini diharapkan menjadi langkah maju dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, aman, dan terjangkau bagi masyarakat.
“Juga sekaligus memperkuat peran RSUP Dr. Sardjito sebagai rumah sakit rujukan nasional,” pungkas Eniarti. (ted)












