News  

Kunjungan Wisatawan ke Bantul Anjlok Sepanjang 2025, Target Pendapatan Pariwisata Gagal Tercapai

Kunjungan Wisatawan ke Bantul/Foto: Istimewa

bernasnews– Harapan Pemerintah Kabupaten Bantul untuk mendulang lonjakan wisatawan pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 justru berbalik arah.

Alih-alih meningkat, jumlah kunjungan wisatawan ke Bantul tercatat mengalami penurunan signifikan, baik selama libur Nataru maupun sepanjang tahun 2025. Kondisi ini membuat target pendapatan sektor pariwisata gagal tercapai.

Kunjungan Wisatawan ke Bantul

Data Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan selama periode Nataru 20–31 Desember 2025 hanya mencapai 116.361 orang.

Perolehan pendapatan sebesar adalah Rp1.683.339.500. Angka tersebut jauh di bawah capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Penurunan tidak hanya terjadi saat Nataru. Capaian menunjukkan tren penurunan daripada Desember 2024.

Sepanjang Desember 2025, Bantul mencatat 183.788 kunjungan wisatawan dengan pendapatan Rp2.660.781.000.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat pada akumulasi kunjungan wisatawan sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Dinas Pariwisata Bantul mencatat total kunjungan hanya mencapai 1.848.776 wisatawan dengan pendapatan Rp26.765.877.000. Angka ini setara dengan 54,6 persen dari target pendapatan pariwisata sebesar Rp49 miliar.

Kepala Bidang Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Pariwisata Bantul, Markus Purnama Adiq, mengakui bahwa sektor pariwisata Bantul menghadapi tekanan berat sepanjang 2025.

Pihaknya melihat penurunan terjadi secara konsisten, tidak hanya di momen Nataru, tetapi juga sepanjang tahun.

Perbandingan 2024: Angka Lebih Tinggi, Tren Lebih Stabil

Jika menilik data tahun 2024, kontras penurunan semakin terlihat jelas. Pada periode 20–31 Desember 2024, Bantul berhasil menarik 163.152 wisatawan dengan pendapatan Rp2.289.483.500.

Selama Desember 2024, total kunjungan mencapai 256.125 orang dengan pendapatan Rp3.707.647.500.

“Secara tahunan, Januari–Desember 2024 mencatat 2.373.156 kunjungan wisatawan dengan pendapatan Rp30.667.876.500, atau sekitar 62 persen dari target Rp49 miliar. Berdasarkan perbandingan tersebut, jumlah kunjungan wisatawan ke Bantul pada 2025 turun sekitar 28 persen dibandingkan 2024,”ungkapnya.

Markus mengungkapkan sejumlah faktor utama yang menyebabkan anjloknya kunjungan wisatawan ke Bantul sepanjang 2025.

Faktor pertama datang dari menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi ekonomi membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang untuk berwisata.

Selain itu, isu cuaca ekstrem turut memengaruhi minat wisatawan. Cuaca yang tidak menentu, terutama di kawasan pantai selatan Bantul, membuat wisatawan menunda bahkan membatalkan rencana perjalanan.

Faktor berikutnya muncul dari perubahan pola wisata masyarakat. Markus menjelaskan bahwa tren wisata kini mengarah pada konsep slow living.

Wisatawan tidak lagi berorientasi pada kunjungan massal, tetapi hanya ingin mencari suasana baru, lebih tenang, dan tidak padat aktivitas.

“Mereka datang tanpa target banyak destinasi. Mereka hanya ingin lepas sejenak dari rutinitas,” jelas Markus.

Penurunan kunjungan juga dipengaruhi oleh larangan perjalanan atau pembatasan kunjungan dari beberapa daerah.

Kebijakan tersebut secara langsung mengurangi arus wisatawan rombongan yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pariwisata Bantul.

Kondisi ini memberi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan pelaku wisata untuk merumuskan strategi baru agar sektor pariwisata kembali bangkit.

Evaluasi dan Harapan Kebangkitan Pariwisata Bantul

Markus menegaskan bahwa Dinas Pariwisata Bantul akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi promosi dan pengelolaan destinasi wisata.

Ia menilai Bantul perlu menghadirkan inovasi wisata yang adaptif terhadap tren slow living sekaligus ramah terhadap kondisi cuaca.

“Kami harus menyesuaikan pendekatan. Wisata Bantul tidak cukup hanya menjual jumlah, tetapi juga pengalaman,” ujarnya.

Meski angka kunjungan 2025 mencatat penurunan tajam, Markus tetap berharap sektor pariwisata Bantul mampu bangkit melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Ia optimistis, dengan strategi yang tepat, Bantul dapat kembali menjadi tujuan favorit wisatawan pada tahun-tahun mendatang. (ef linangkung)