News  

Upaya Pelestarian dan Penguatan Nilai Budaya, Sejarah Semarang Direkam dalam Bingkai Kartu Pos

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon (Tengah) saat menerima cinderamata sebuah buku. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Memasuki abad ke-20, kartu pos bergambar muncul sebagai media korespondensi yang populer di Hindia Belanda. Fenomena ini tidak sekadar mengubah cara pesan dikirimkan, tetapi juga memicu demokratisasi fotografi yang signifikan.

Fotografi yang semula merupakan komoditas yang eksklusif mengalami transformasi melalui format kartu pos. Di dalam bingkai kartu pos, jejak sejarah Ibu Kota Jawa Tengah ini terekam dan menjadi saksi perjalanan Semarang sejak akhir abad ke-19.

Sebuah cara unik untuk mempelajari sejarah Kota Semarang selain dari cerita atau buku-buku. Melalui pameran yang digelar di gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, masyarakat khususnya generasi muda bisa menyaksikan, mengenal dan memahami sejarah Kota Semarang lewat kartu pos.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon dalam sambutannya mengatakan, bahwa pameran kartu pos ini menjadi upaya pelestarian, pendokumentasian, serta penguatan nilai-nilai budaya melalui medium literasi visual dan sejarah.

“Ini tidak hanya menjadi ruang temu intelektual, tetapi juga ruang dialog antara memori kolektif dan realitas kekinian, serta wadah refleksi atas sejarah, identitas, dan perjalanan budaya Kota Semarang,” kata Fadli, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (31/12/2025).

Menurut Fadli, melalui gambar dan teks yang menyertainya, benda-benda pos ini mampu menjembatani masa lalu dengan masa kini, sekaligus menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih komunikatif, sehingga dapat dipahami oleh generasi penerus bangsa.

Selain itu, kartu pos juga bisa menjadi instrumen diplomasi bangsa, dengan menampilkan identitas nasional kepada dunia internasional, dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk melihat kembali Kota Semarang sebagai lanskap sejarah yang kaya akan nilai, makna, dan pelajaran,bsekaligus memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat terhadap kota ini,” jelasnya.

Fadli menyebut, yang perlu diingat bersama bahwa Semarang memiliki warisan budaya dan tradisi luar biasa seperti Dugderan, Arakarakan Sam Poo Tay Djien, dan Gambang Semarang. Selain itu, Semarang juga telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting perjuangan bangsa, termasuk aktivitas pergerakan nasional dan pemuda yang berperan dalam melawan kolonialisme.

“Tak kalah penting, kota Semarang memiliki banyak bangunan dan kawasan bersejarah, seperti Gedung Monod, Lawang Sewu, dan Klenteng Sam Poo Kong yang menjadi bukti nyata perjalanan sejarah kota. Kota Semarang juga telah memperkaya khazanah budaya, tradisi dan sejarah bangsa Indonesia,” ungkap Fadli.

“Kata ‘Diversity’ tidaklah cukup untuk mendeskripsikan kekayaan dan keragaman budaya dan tradisi yang kita miliki. Indonesia sejatinya merupakan bangsa ‘Mega-Diversity’,” imbuhnya.

Fadli menilai, pelestarian budaya, tradisi, serta sejarah melalui literasi visual seperti kartu pos merupakan sebuah keniscayaan yang harus diimplementasikan dan diwujudkan secara nyata. Harapannya, semua pihak terus bergotongroyong, melalui buku kartu pos maupun dalam bentuk medium lainnya untuk memperkuat literasi sejarah dan budaya masyarakat sekaligus mempromosikan dan mengedukasikan sejarah kota Semarang sehingga dapat dipahami dan dipelajari, di dalam negeri dan tingkat internasional.

“Selain itu juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian warisan budaya, tradisi dan sejarah serta menjaga esensi, makna, dan nilai-nilai yang terkandung di dalam benda-benda pos,” tandas Fadli.

Sementara Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menambahkan, pameran kartu pos menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat dalam menikmati sejarah Kota Semarang. Melalui visual kartu pos, pengunjung dapat membayangkan kondisi kota di masa lalu serta perubahan yang terjadi hingga saat ini.

“Dari kartu pos ini kita bisa menduga seperti apa Semarang dulu dan bagaimana perubahannya sekarang. Ini akan menumbuhkan rasa cinta yang lebih kuat terhadap Kota Semarang,” ujarnya.

Agustina menjelaskan, kawasan Kota Lama merupakan etalase pariwisata Kota Semarang sekaligus pintu masuk wisata sejarah. Ia optimis pameran dan buku ini dapat menarik lebih banyak wisatawan dan pecinta filateli untuk datang ke Semarang.

Di sisi lain, Agustina juga menegaskan komitmen Pemkot Semarang dalam merawat aset sejarah, termasuk rencana perbaikan gedung pertemuan bekas Gedung Sarekat Islam agar dapat dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan masyarakat, khususnya kegiatan budaya.

“Gedung bersejarah harus kita hidupkan kembali supaya bisa digunakan untuk aktivitas budaya warga,” tegasnya.

“Kalau memori-memori lama itu digali kembali, sejarah Kota Semarang akan semakin kaya,” imbuh Agustina.

Pameran Temporer Semarang bertajuk Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos dilaksanakan 19 – 26 Desember 2025 lalu diisi dengan kegiatan Diskusi Buku, Diskusi Foto Dulu dan Kini serta Napak Tilas di kawasan Kota Lama Semarang.

Kegiatan ini terlaksana atas  kerjasama antara Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Semarang, Pengurus Pusat Perkumpulan Penggemar Filatelis Indonesia , Fadli Zon Library, Jejak Kartu Pos, Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang (*/ nun)