bernasnews — Tidak semua daerah sama kondisi alamnya dengan daerah-daerah lain yang saat para pembajak sawah (Jawa: kluku, nggaru) senantiasa diikuti oleh gerombolan atau kelompok burung berwana putih semua, atau ada bagian leher dan sayap berwarna hitam, tarung panjang, kaki agak panjang warna kuning atau warna kemerahan, orang menyebutnya burung Kuntul (Jawa: blekok).
Segerombolan burung Kuntul ini dengan nalurinya atau instingnya cepat tahu untuk berpindah tempat ke tempat lain dimana ada kegiatan pembajak sawah.
Dengan mengikuti jejak pembajak sawah dari belakang, para Kuntul ini akan dengan mudah menemukan makanan yang disukai, antara lain cacing, belut kecil, keong kecil dan sejenisnya. Para Kuntul jarang yang berebut makanan, mereka seakan sadar untuk bergantian pola mengikuti sang pembajak sawah, bahkan burung ini telah menjadi sahabat dengan pembajak, ada yang berani berdiri di atas topi pembajak (Jawa: caping), bediri di pundak, berdiri di tangkai besi traktor alat pembajak, bahkan bila cara membajaknya masih dengan tenaga Sapi atau Kerbau, Kuntul pun tidak segan dan berani berdiri (Jawa: menclok) di atas punggung Sapi atau Kerbau tersebut.
Sebenarnya bila mau para pembajak dapat saja tiap hari menangkap Kuntul tersebut untuk dijual atau untuk dimakan, namun bagi pembajak sawah tidak mau karena burung Kuntul telah menyatu dengan kehidupan dengan para pembajak dan petani padi khususnya, dan ini salah satu upaya untuk ikut melestarikan binatang supaya tidak punah.
Hal ini diakui oleh pembajak sawah yang ada di Jetis, Tempel, Sleman DIY. Sebutnya saja Manto saat ditemui bernasnews Minggu (21/12/2025). Keberadaan binatang Kuntul ini dapat menambah semangat bekerja karena di sawah saat hujanpun gerombolan Kuntul tetap ada yang ikut menemani, mengikuti dari belakang, dari samping tanpa mereka beranjak pergi walau turun hujan. Demikian pungkas Manto. Semoga banyak orang untuk mampu ikut merawat binatang supaya tidak punah dari habitatnya. (zbd)












