bernasnews – Yogyakarta memiliki nilai-nilai warisan budaya yang tinggi. Seiring dengan kebaradaan itu, muatan lokal budaya perlu diangkat dan diperkenalkan kembali kepada setiap genarasi. Bila perlu nilai-nilai itu dapat merambah ke dunia yang lebih luas. Cerita anak berbahasa Jawa disinyalir dapat menjadi media untuk menjaga warisan budaya DIY. Selain itu¸cerita anak merangsang imajinasi anak dalam pengembangan budayanya.
Persepsi tentang bahasa Jawa yang sulit dan membosankan. Anak sering menganggap bahasa Jawa sulit dipahami, terutama unggah-ungguh basa, sehingga cerita dianggap kuno dan kurang menarik dibanding konten digital berbahasa Indonesia. Di sekolah Yogyakarta, pelajaran bahasa Jawa dinilai monoton, membuat siswa kurang semangat membaca cerita anak Jawa yang identik dengan mata pelajaran formal.
PENTINGNYA CERITA ANAK DWIBAHASA
Cerita anak dwibahasa membantu pemertahanan bahasa. Cerita anak dwibahasa Jawa-Indonesia menjaga keberlangsungan bahasa Jawa yang kini terancam punah di kalangan generasi muda, dengan data Badan Bahasa menunjukkan penurunan penggunanya hingga 10% per dekade di DIY (sekitar 3,9 juta jiwa warga DIY menggunakan bahasa Jawa (BPS 2025)).
Cerita anak dwibahasa membangun kognitif dan empati. Secara paralel, format dwibahasa memperkuat imajinasi anak melalui narasi visual dan verbal yang kaya, didukung riset psikolinguistik seperti zona perkembangan proksimal bahwa cerita bilingual membangun kemampuan kognitif dan empati. Misalnya cerita dengan STEAM tertentu mengajarkan pengetahuan, diikuti dengan pemadanan bahasa bilingualnya.
Secara kognitif, cerita ini merangsang imajinasi dan pemahaman naratif. Anak belajar melalui simbol budaya Jawa seperti legenda/cerita lokal yang diterjemahkan, sehingga literasi tidak hanya membaca tapi juga apresiasi nilai (hamemayu hayuning bawana). Dengan distribusi buku dwibahasa diharapkan anak merasa bangga dengan identitas Jawa yang terhubung ke bahasa nasional, mencegah degradasi literasi daerah akibat dominasi media digital berbahasa Indonesia.
Cerita tersebut memperkaya keterampilan berbahasa, berpikir kritis, serta kreativitas menulis melalui konteks naratif yang menyenangkan. Cerita lokal membangun pemahaman moral sambil memperluas wawasan budaya. Penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan berbicara dan pemahaman bahasa pada anak usia dini yang terpapar cerita rakyat, karena lingkungan bahasa yang kaya dan bermakna.
Cerita anak dwibahasa meningkatkan literasi. Cerita anak dwibahasa Jawa-Indonesia sangat penting untuk pengembangan literasi karena mengintegrasikan pelestarian bahasa daerah dengan kemampuan multibahasa yang mendukung kognisi anak. Cerita dwibahasa memperkuat literasi awal melalui paparan paralel dua sistem bahasa, yang menurut teori transfer bahasa Cummins meningkatkan metalinguistik—kesadaran tentang struktur bahasa—sehingga anak lebih mudah memahami fonem, morfem, dan sintaksis Jawa (misalnya, krama–ngoko) sambil membandingkannya dengan Indonesia.
Penelitian UNESCO tentang pendidikan bilingual di Asia Tenggara menunjukkan peningkatan literasi 25-30% pada anak usia 4-7 tahun yang terpapar cerita dwibahasa, karena format ini membangun kosakata ganda tanpa kebingungan konseptual.
Pengembangan literasi dwibahasa dalam jangka panjang membentuk pembaca kritis yang multibahasa, siap bersaing global sambil melestarikan warisan budaya. Format dwibahasa juga mendukung inklusi, terutama bagi anak di Jogja dengan akses terbatas ke buku monolingual Jawa, sehingga literasi menjadi alat pemberdayaan budaya berkelanjutan.
Pelestarian Bahasa dan Budaya. Cerita anak dalam bahasa daerah memberikan manfaat luas bagi perkembangan anak, mulai dari pelestarian budaya hingga peningkatan keterampilan bahasa dan karakter. Cerita rakyat dalam bahasa daerah menumbuhkan afeksi anak terhadap bahasa lokal, sehingga meningkatkan kosakata dan pemahaman kearifan lokal seperti nilai gotong royong atau harmoni alam yang terkandung dalam narasi tradisional. Proses mendongeng atau membaca cerita ini membuat anak terbiasa dengan fonetik dan struktur bahasa daerah, mencegah degradasi penggunaan di tengah dominasi bahasa nasional.
Pembentukan Karakter dan Identitas. Cerita anak daerah menanamkan nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, dan penghargaan terhadap warisan leluhur, memperkuat identitas nasional serta literasi budaya di kalangan siswa. Di Indonesia, program seperti ini efektif membangun karakter positif dan kewargaan lokal, terutama melalui adaptasi cerita yang relevan dengan kehidupan anak sehari-hari.
PROSES PRODUKSI
Proses pembuatan produk buku cerita anak dwibahasa dapat dilakukan dengan dengan berbagai pola. Proses produksi sebuah buku dapat memerlukan waktu hingga setahun. Tahapan-tahapan yang dilalui meliputi : (1) penulisan, (2) penerjemahan, (3) penyuntingan, (4) pengilustrasian, (5) penyelarasan, (6) pengatakan, (7) pengujian-keterbacaan, (8) penyelarasan akhir, dan (9) publikasi. Tahapan-tahapan itu dapat diringkas atau dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pola, tentu menyesuaikan anggaran juga.
HAMBATAN-HAMBATAN PROSES
Penulisan cerita anak bahasa Jawa sering menghadapi kesulitan terkait unggah-ungguh basa, ortografi khas, dan minimnya paparan sehari-hari, yang membuat proses kreatif menjadi kompleks bagi penulis pemula.
Penguasaan Unggah-ungguh Basa : Penulis kesulitan menyusun kata sesuai tingkat bahasa Jawa seperti ngoko, krama madya, atau krama inggil, karena kurang familiar dengan konteks sopan santun yang wajib dalam narasi anak agar sesuai norma budaya Jogja. Hal ini sering menyebabkan campur aduk tingkat bahasa, mengurangi keaslian cerita dan membuatnya kurang menarik bagi audiens anak yang terbiasa dengar bahasa campur.
Masalah Ortografi dan Fonem : Pelafalan fonem Jawa yang salah tercermin dalam penulisan, ditambah kesulitan huruf kapital, tanda baca, serta ejaan.
Faktor Ide dan Motivasi : Kurang minat belajar bahasa Jawa serta sulit mengolah ide lokal seperti legenda Keraton menjadi alur kronologis yang koheren, diperburuk minim inspirasi dari cerita lisan tradisional. Di DIY, tantangan bertambah karena generasi muda jarang pakai bahasa Jawa halus sehari-hari, sehingga motivasi rendah dan hasil narasi kurang hidup.
PEMANFAATAN PRODUK
Produk cerita anak dwibahasa (Jawa–Indonesia) Balai Bahasa Provinsi DIY bermanfaat sebagai sarana literasi, pelestarian bahasa, dan penguatan karakter.
Manfaat bagi anak : Anak terbantu mengembangkan kemampuan literasi dasar dalam dua bahasa sekaligus (Jawa dan Indonesia), memperkaya kosakata, dan melatih kesadaran bahasa (metalinguistik), yang menurut kajian literasi dwibahasa berpengaruh positif pada kemampuan membaca dan menulis jangka panjang.
Cerita yang berakar pada konteks budaya Jogja (tokoh, tempat, nilai lokal) menguatkan imajinasi, empati, dan karakter, sejalan dengan temuan penelitian bahwa cerita rakyat/cerita daerah efektif menanamkan nilai moral dan sosial pada anak.
Manfaat bagi keluarga : Cerita anak dwibahasa memfasilitasi aktivitas membaca bersama (read aloud) antara orang tua dan anak, termasuk orang tua yang mungkin lebih fasih berbahasa Indonesia tetapi ingin mengenalkan Jawa secara bertahap.
Format dua bahasa membantu keluarga menjembatani “kesenjangan generasi bahasa”: kakek-nenek yang kuat bahasa Jawa dan orang tua–anak yang lebih dominan bahasa Indonesia dapat tetap berbagi cerita dengan rujukan teks yang sama.
Manfaat bagi masyarakat : Produk ini memperkuat ekosistem literasi daerah di DIY dengan menghadirkan bahan bacaan anak yang menarik, bukan hanya buku pelajaran, sehingga mendukung gerakan literasi sekolah dan komunitas baca.
Cerita anak Jawa–Indonesia ikut menjaga vitalitas bahasa Jawa di ruang publik (sekolah, perpustakaan, komunitas), sejalan dengan hasil kajian bahwa pemanfaatan cerita rakyat/cerita daerah efektif sebagai strategi pelestarian bahasa daerah pada anak usia dini.
Manfaat bagi negara : Secara nasional, buku dwibahasa ini mengimplementasikan amanat kebijakan pengembangan dan pelindungan bahasa daerah, sekaligus mendukung pencapaian indikator literasi membaca ala PISA melalui penyediaan bacaan bermutu dan kontekstual.
Produk Balai Bahasa Provinsi DIY dapat menjadi model praktik baik (best practice) pengembangan bahan bacaan dwibahasa daerah–Indonesia yang bisa direplikasi oleh instansi (komunitas) lain.
AJAKAN KOLABORASI
Produksi buku cerita anak dwibahasa (Jawa-Indonesia) sudah dilakukan secara berturut-turut dalam empat tahun terahir melalui Tim Kerja Penerjemahan. Pada tahun 2022 dipublikasikan sebanyak 20 judul buku. Tahun 2023 dipublikasikan sebanyak 97 judul buku. Tahun 2024 dipublikasikan sebanyak 97 judul buku. Tahun 2025 diluncurkan sebanyak 107 judul buku. Buku-buku tersebut dapat dibaca oleh anak jenjang A, B, dan C. Jumlahnya sekitar 321 judul buku.
Buku cerita produksi Balai Bahasa Provinsi DIY tidak diperjualbelikan. Namun, buku-buku ini juga tidak dicetak dalam jumlah banyak (karena keterbatasan anggaran). Buku-buku ini dapat diakses melalui laman berikut :
https://penerjemahan.kemendikdasmen.go.id/ ;
https://perpustakaanbalaibahasadiy.kemendikdasmen.go.id/ ;
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/
Masyarakat, sekolah, atau pemerintah yang berminat dapat mengakses, mengoleksi, menyebarluaskan kepada kalangan lainnya tanpa dipungut biaya. Buku-buku juga dapat dicetak/diperbanyak dalam rangka menyediakan bahan bacaan literasi di sekolah, komunitas, dan sebagaikan. (mar/Mulyanto, S.S., M.Hum., Ketua Tim Pembinaan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi DIY)












