News  

5 Hari Penuh Peran Aktif KADIN DIY Dorong Kolaborasi Sanitasi Inklusif di IWA Water and Development Congress & Exhibition 2025, di QSNCC Bangkok

Delegasi KADIN DIY memberikan cinderamata kepada Prof. Pai-Chi Li selaku President Asian Institute of Technology (AIT) didampingi oleh Prof. Thammarat Koottatep. (Foto: Istimewa)

bernasnews — IWA Water and Development Congress & Exhibition (WDCE) 2025, dengan mengusung tema “Water, sanitation, and innovation – pathways to progress and a resilient future”, digelar di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand, pada 8–12 Desember 2025.

Dalam rangkaian forum dan pameran global ini, delegasi Indonesia hadir dengan komposisi lintas unsur diantaranya: unsur yayasan/NGO yaitu Pijar Foundation, unsur pemerintah daerah yaitu Dinas Pendidikan dan Bappeda Surakarta, unsur kementerian yaitu Balai Teknologi Sanitasi Kementrian PU.

Juga sektor pendidikan yaitu UGM dan ITB, sektor swasta yaitu KADIN DIY, hingga pusat kebudayaan Surakarta yaitu Pura Mangkunegaran.

Kehadiran yang beragam tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam percakapan global tentang akses sanitasi layak, inovasi teknologi, dan tata kelola layanan yang berkelanjutan.

Forum khusus Delegasi Indonesia: Strengthening Partnerships in Indonesia

Sebelum rangkaian konferensi dan pameran pada 9 Desember 2025, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan tersendiri bertema Strengthening Partnerships in Indonesia. Forum ini menyoroti penguatan kemitraan untuk percepatan layanan sanitasi, termasuk pembahasan program Sanimas (Sanitasi oleh Masyarakat) sebagai pendekatan sanitasi berbasis komunitas bagi permukiman perkotaan berpenghasilan rendah, dengan prinsip partisipasi warga dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur sanitasi.

Dalam sesi tersebut, Fajarruddin Achmad selaku Ketua Kompartemen KADIN DIY menekankan, bahwa keberhasilan program sanitasi tidak cukup ditopang teknologi dan pendanaan, tetapi harus dikunci oleh kebijakan pemerintah kota/kabupaten yang konsisten, mulai dari dukungan regulasi hingga penguatan tata kelola layanan.

Ia juga menyampaikan tantangan implementasi di kawasan perkotaan Yogyakarta, terutama pada konstruksi dan integrasi utilitas karena sebagian fasilitas eksisting merupakan peninggalan era kolonial yang membutuhkan pendekatan teknis dan perizinan yang lebih kompleks.

Sementara itu, KGPAA Mangkunegara X (Gusti Bhre) selaku perwakilan Pura Mangkunegaran menyatakan dukungannya terhadap dorongan keberhasilan Sanimas melalui pendekatan sosial-budaya.

Menurutnya, penguatan narasi, nilai, dan teladan institusi budaya dapat menjadi pengungkit kontribusi masyarakat serta membangun komitmen pemerintah daerah agar program sanitasi tidak berhenti sebagai proyek, melainkan menjadi kebiasaan dan standar layanan publik.

Rangkaian pembukaan 9 Desember: GWSC, CWIS, dan pesan global keberlanjutan sanitasi

Secara keseluruhan, WDCE 2025 berlangsung 8–12 Desember 2025 di QSNCC. Pada 9 Desember, rangkaian pleno dan forum strategis menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Prof. Pai-Chi Li selaku President Asian Institute of Technology (AIT) menekankan perlunya memperkuat ekosistem kerja sama agar inovasi sanitasi bisa “naik kelas” dari uji coba menjadi implementasi berskala kota dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, perhatian turut diarahkan pada peran Global Water & Sanitation Center (GWSC) di AIT yang dibangun untuk membantu perencanaan, desain, implementasi, pemantauan, hingga evaluasi program sanitasi, sekaligus mendorong akselerasi pendekatan Citywide Inclusive Sanitation (CWIS).

Pada kesempatan yang sama, Retno L.P. Marsudi selaku UN Special Envoy on Water menyampaikan pesan melalui tayangan video yang menegaskan urgensi sanitasi dunia sebagai fondasi martabat, kesehatan publik, dan keberlanjutan, serta pentingnya memastikan agenda air dan sanitasi tidak terputus pada komitmen, melainkan berujung pada layanan yang nyata dan terukur.

Aktivitas 8–12 Desember: forum, workshop, hingga business matching

Sepanjang kegiatan 8–12 Desember 2025, WDCE 2025 menghadirkan rangkaian sesi teknis, workshop, forum tematik, serta ruang jejaring dan pameran inovasi sebagai hub pertemuan antara praktisi, peneliti, pembuat kebijakan, lembaga pendanaan, dan penyedia solusi.

Delegasi Indonesia mengikuti berbagai agenda tersebut sesuai fokus masing-masing, sehingga partisipasi Indonesia tidak terkonsentrasi pada satu klaster isu saja, melainkan menyebar pada isu teknologi sanitasi, tata kelola layanan, penguatan pembiayaan, inovasi, dan kemitraan.

Delegasi KADIN DIY. (Foto: Istimewa)

QSNCC: standar venue yang dinilai layak ditiru untuk penguatan kota MICE

Rahadi Saptata Abra selaku Wakil Ketua Umum KADIN DIY menyoroti kemegahan dan kesiapan venue QSNCC. QSNCC memiliki 78.500 m² ruang event, dengan delapan hall besar, empat plenary hall, empat ballroom, serta sekitar 50 ruang rapat yang fleksibel untuk berbagai skala acara.

Dari sisi aksesibilitas, QSNCC terhubung langsung dengan MRT Queen Sirikit National Convention Center Station melalui jalur penghubung pejalan kaki, serta mudah dijangkau dari jaringan transportasi publik dan jalan utama kota Bangkok.

Rahadi menilai fasilitas dan akses seperti ini perlu menjadi rujukan bagi Yogyakarta, yang menurutnya memiliki modal kuat untuk dikuatkan sebagai kota MICE di Indonesia apabila didukung perencanaan venue dan konektivitas yang setara.

Koordinasi penutup 12 Desember: langkah lanjut dan ekspansi inovasi sanitasi

Sementara, pada 12 Desember 2025, bertepatan dengan hari terakhir rangkaian WDCE, delegasi Indonesia kembali berkumpul dalam rapat koordinasi di Four Wing Hotel, Bangkok, untuk menyusun langkah follow up setelah kembali ke Indonesia.

Fokus rapat mencakup evaluasi, dorongan kebijakan, dan pengembangan program sanitasi di Indonesia secara umum, serta di Yogyakarta dan Surakarta secara khusus.

Dalam pembahasan tersebut, dipaparkan progres kolaborasi yang dijalankan oleh Pijar Foundation, Gates Foundation, dan Tahrir Foundation bersama KADIN DIY, Pemkot Surakarta, serta Pura Mangkunegaran, termasuk pemasangan 10 unit alat smart sanitation di area publik (5 unit di Yogyakarta dan 5 unit di Surakarta).

Teknologi ini dirancang untuk mendaur ulang air dari septic tank menjadi air bersih untuk pemanfaatan non-konsumsi, seperti penyiraman maupun dikembalikan sebagai air flush toilet.

Rahadi juga menyampaikan dukungan KADIN DIY untuk mendorong penyelesaian pemasangan lanjutan hingga 20 unit tambahan di Yogyakarta dan Surakarta. Ia sekaligus menegaskan komitmen KADIN DIY sebagai mitra pengembangan dan distribusi agar inisiatif tidak berhenti pada 30 unit.

Fajarruddin menambahkan, bahwa keberhasilan unit yang sudah terpasang berpotensi memperbaiki kualitas air tanah melalui praktik pengolahan yang lebih baik, sekaligus memperkuat implementasi SDGs, khususnya tujuan sanitasi layak dan kualitas air bersih.

Untuk diketahui, WDCE 2025 merupakan agenda global biennial IWA yang berfokus pada air, sanitasi, inovasi, dan pembangunan, khususnya relevan bagi negara berpendapatan rendah dan menengah. (*/ ted)