News  

Hujan Menghilang di Musim Penghujan, Suhu Panas Melanda DIY, Dinas Pertanian Pastikan Sawah Tadah Hujan Tetap Aman

Cuaca cerah dan panas melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di tengah musim penghujan. (bernasnews)

bernasnews – Matahari menyengat tanpa ampun di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari terakhir. Udara panas terasa menekan sejak pagi hingga sore, seolah musim kemarau kembali datang, meskipun kalender telah menandai wilayah ini memasuki musim penghujan.

Hujan yang biasanya turun secara rutin justru menghilang, meninggalkan langit cerah dan suhu udara yang terus merangkak naik.

Fenomena cuaca panas di tengah musim hujan ini bukan terjadi tanpa sebab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas bibit siklon tropis di wilayah Indonesia bagian selatan.

Bibit Siklon Tarik Awan Hujan dari Jawa

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengungkapkan bahwa BMKG mendeteksi dua bibit siklon yang memengaruhi pola cuaca di Pulau Jawa, termasuk DIY. Bibit siklon 93S terpantau berada di selatan Pulau Bali, sementara bibit siklon lainnya, yakni M1, terdeteksi di barat daya Pulau Sumatera.

Meski kedua bibit siklon tersebut tidak berada tepat di atas wilayah DIY, Reni menegaskan bahwa aktivitasnya cukup kuat untuk menarik massa awan hujan menjauh dari Pulau Jawa. Dampaknya, hujan menghilang dalam beberapa hari terakhir atau hanya turun dengan intensitas rendah hingga sedang.

“Kondisi ini membuat wilayah DIY berada pada zona netral tanpa pembentukan awan hujan yang signifikan. Angin permukaan juga bertiup relatif kencang,” ujar Reni saat dikonfirmasi.

Cuaca Cerah Picu Kenaikan Suhu Udara

BMKG Yogyakarta mencatat bahwa cuaca cerah berkepanjangan, di tengah kondisi tanah yang masih basah, turut memicu peningkatan suhu udara. Tingginya kelembapan membuat panas terasa lebih menyengat dan menimbulkan rasa gerah yang cukup ekstrem.

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG selama sepuluh hari terakhir, suhu udara tertinggi tercatat pada 2 Desember 2025 dengan angka mencapai 32,4 derajat Celsius. Catatan suhu panas kembali muncul pada 10 Desember, memperkuat indikasi adanya anomali cuaca di awal musim hujan.

Meski demikian, Reni memastikan suhu udara tersebut belum melampaui rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan di Yogyakarta. BMKG mencatat rekor suhu terpanas masih berada di angka 33,5 derajat Celsius yang terjadi pada 2023.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh, meningkatkan daya tahan imunitas, serta mencukupi kebutuhan cairan agar tidak mengalami dehidrasi,” pesannya.

Dinas Pertanian Gunungkidul Klaim Sawah Tadah Hujan Tetap Aman

Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak cuaca panas, Dinas Pertanian Pangan Kabupaten Gunungkidul menyampaikan pernyataan yang menenangkan.

Sekretaris Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menegaskan bahwa kondisi cuaca panas dan menghilangnya hujan dalam beberapa hari terakhir tidak mengancam produktivitas sawah tadah hujan.

Raharjo menjelaskan bahwa hujan masih turun cukup intens pada pekan sebelumnya sehingga cadangan air di lahan pertanian dinilai masih mencukupi.

Kondisi tersebut membuat tanaman padi di sawah tadah hujan tetap memperoleh suplai air yang memadai untuk fase pertumbuhan saat ini.

“Persediaan air masih aman karena hujan turun cukup merata pada pekan ini,” kata Raharjo.

Ia juga menyebutkan bahwa prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan deras kembali turun pada awal pekan depan, khususnya pada Senin dan Selasa.

Hujan tersebut diperkirakan mampu menyelamatkan tanaman yang sedang dibudidayakan petani di lahan sawah tadah hujan.

“Kami memprediksi hujan deras segera turun kembali, sehingga kondisi ini belum berpengaruh terhadap produktivitas sawah tadah hujan,” tegasnya.

Petani Tetap Waspada, Pemerintah Terus Memantau

Meski pemerintah memastikan kondisi pertanian masih terkendali, para petani tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu.

Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul terus memantau perkembangan iklim dan kesiapan lahan guna mengantisipasi kemungkinan cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Cuaca panas di tengah musim penghujan ini menjadi pengingat bahwa dinamika iklim semakin sulit diprediksi.

Kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, dan BMKG dinilai menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi sektor pertanian dari dampak perubahan cuaca ekstrem.

Untuk sementara, sawah tadah hujan di Gunungkidul masih berdiri kokoh, menanti turunnya hujan yang diharapkan segera kembali membasahi bumi. (Eln)